Home » Dan at The Movies » TOILET: EK PREM KATHA (2017)

TOILET: EK PREM KATHA (2017)

TOILET: EK PREM KATHA: A RELEVANT SATIRE AND THOUGHT-PROVOKING EYE-OPENER
Sutradara: Shree Narayan Singh
Produksi: Viacom 18 Motion Pictures, KriArj Entertainment, Neeraj Pandey, Plan C Studios, Cape of Good Films LLP, 2017

Image: goldposter.com

Banyak film yang digagas di balik kepentingan penyuluhan dan tendensi-tendensi PSA. Seringkali gagal menjadi sesuatu yang preachy, bahkan terkadang salah arah, sebagiannya bisa melewati tantangannya dengan mulus buat menyembunyikan wujud sebenarnya sebagai sebuah PSA tadi. Toilet: Ek Prem Katha agaknya tergolong yang terakhir. Menyemat isu soal kondisi sanitasi di India soal toilet; satu hal yang jelas disadari semua orang yang sudah pernah menyambangi negaranya terutama yang melakukan perjalanan lintas kota melewati daerah-daerah pinggiran yang terbelakang dalam hal ini, salah satunya dipicu oleh tradisi yang tetap dipertahankan, ini juga sejalan dengan program pemerintahnya sekarang untuk mengeradikasi kebiasaan rakyatnya buang air di lokasi-lokasi terbuka terutama di daerah pinggiran. Walau gerakannya sudah mulai berjalan dengan pembangunan toilet umum di kota-kota besar, masih saja ada masalah yang sangat tak enak untuk dilihat dalam soal higienisme. Dan ini sebenarnya masih cukup dekat ke sebagian masyarakat kita di beberapa daerah, meski didasari banyak alasan-alasan berbeda.

Inilah ide yang diangkat oleh sutradara Shree Narayan Singh, yang sudah cukup lama absen sejak debut layar lebarnya Yeh Jo Mohabbat Hai, sebuah romance kecil di tahun 2012 yang tak juga terlalu sukses. Ia tak lantas mengemas Toilet sebagai nyata-nyata sebuah penyuluhan, tapi atas banyak kasus yang mulai menyeruak di balik keterkaitannya dengan pola pikir sebagian masyarakat yang mulai terbuka dan mengarah ke kasus-kasus perceraian, Narayan cukup cermat membidik sasarannya. Subjudul Ek Prem Katha yang berarti A Love Story menerangkan latar penceritaannya dengan tepat, bahwa jauh di dasar gagasan penyuluhannya, ini adalah sebuah kisah cinta dengan sempalan satire terhadap kultur dan tradisi kunonya.

Di sisi lain, penurunan cukup drastis baik dari kualitas maupun box office film-film Hindi tahun ini dibandingkan tahun lalu membuat Toilet bisa tampil cukup menonjol. Kebosanan banyak audiensnya terhadap dominasi Shah Rukh Khan atau Salman Khan yang mulai menurun dalam feature terakhir mereka juga membuka jalan buat aktor-aktor senior tak kalah bagus di lini keduanya, salah satunya jelas nama Akshay Kumar yang terus membuktikan pembaharuan image-nya ke film-film yang rata-rata sangat berkualitas dalam beberapa tahun belakangan.

Apalagi, Toilet punya jualan lain yang tak kalah seru. Datang dari seorang aktris bernama Bhumi Pednekar yang mendobrak dominasi wanita-wanita kinclong di ranah Bollywood lewat Dum Laga Ke Haisha (2015) yang fenomenal itu, sosoknya yang jauh lebih membumi meski sekarang sudah terlihat jauh lebih terawat di satu sisi juga dengan lantang menyuarakan women’s empowerment yang tengah marak di tema-tema film mereka. Bahwa menjadi simbol Bollywood tak selamanya harus melulu didukung oleh nepotisme dan fisik selangit. Tampil mengusung masalah publik yang sangat membumi, Toilet juga tampil dengan segala kesederhanaannya, namun tetap luar biasa kuat memberi pengaruh.

Toilet dibuka dengan perkenalan antara Keshav (Akshay Kumar) dengan Jaya (Bhumi Pednekar) di balik latar pendidikan yang berbeda walau sama-sama tinggal di daerah pinggiran. Perkenalan yang perlahan berubah menjadi rasa suka ini terbentur oleh latar berbeda itu. Selagi Jaya merupakan penulis feminis yang kerap menyuarakan emansipasi dan modernisasi dari keluarganya yang lebih modern dan terdidik, Keshav hanyalah seorang pemuda desa pengusaha sepeda dari ayah pendeta yang masih teguh menganut tradisi lama, Pandit Vimalnath Sharma (Sudhir Pandey). Ia bahkan rela dikawinkan dengan kambing dalam sebuah upacara keagamaan untuk membuang sial dan menipu ayahnya kala meyakinkan jodohnya haruslah seorang wanita dengan dua jempol seperti Hrithik Roshan lewat sebuah ramalan. Permintaan Keshav untuk menikahinya diterima Jaya dengan trik buat meyakinkan mertuanya soal dua jari itu tanpa menyadari bahwa rumah ayah mertua yang akan ditempatinya bersama Keshav tak memiliki toilet. Tradisi yang masih berlangsung di desa Keshav ini kemudian memicu konflik bukan saja di antara Pandit dengan anak dan menantunya, tapi lantas merebak ke seluruh desa dengan pemikiran penduduknya yang rata-rata masih terbelakang bahkan menjadi isu negara kala ultimatum perceraian yang diberikan Jaya terhadap Keshav menyeruak ke ranah publik.

Skrip yang ditulis oleh duo scripwriter, penulis dialog (departemen skrip yang hanya ada di industri film India) sekaligus lyricist Siddharth SinghGarima Wahal dari Ram Leela, Brothers dan Raabta mungkin tedengar sangat hiperbolis mengembangkan konflik Toilet menjadi sebuah isu politis dari kisah cinta boy meets girl yang sederhana. Namun untungnya, belokan-belokan pengisahan yang mereka gelar tak sekalipun jatuh menjadi preachy. Tetap setia ke pijakan terdasarnya, eskalasi konflik itu tetap bisa terasa sangat wajar di atas sebuah kisah cinta menyentuh terbentur tradisi yang sungguh tak biasa.

Mereka juga tak lantas membelokkannya dengan inovasi-inovasi berlebih agar terlihat kelewat pintar namun tetap membiarkan elemen-elemen klasik serta kemeriahan film Bollywood membaur ke tengah-tengahnya sebagai sebuah tontonan komersil. Yes we still got songs and dance, dari beberapa lagu yang ditulis oleh Vickey Prasad, Manas-Shikhar dan Sachet-Parampara berdasar lirik oleh Siddharth-Garima serta scoring dari Surender Sodhi, juga penyelesaian yang walau bisa terasa agak digampangkan tapi tak mengganggu dengan setup yang dibangun dengan cukup cermat.

Selagi paruh awalnya memang ditahan dalam tendensi itu, membangun love story antara Keshav dan Jaya dengan tone komedi romantis dalam usaha tarik-ulur mencari jalan tengah adaptasi tradisi dan pemikiran modern dengan penuh eksekusi-eksekusi jenaka, paruh keduanya dengan rapi memindahkan Toilet ke ranah yang jauh lebih luas bahkan menyentuh melodrama hingga nyaris sebuah thriller politis dengan sindiran-sindiran yang sangat menohok. Tak bisa dipungkiri juga, eskalasi konflik ini digagas dengan rapi buat menekankan wujudnya sebagai sebuah satire yang tak hanya relevan tapi juga memicu pemikiran, namun tak meninggalkan dasar kuat kisah Keshav dan Jaya melawan society di antara prinsip dan perasaan.

Deretan cast yang tampil juga sangat menonjol. Tak hanya dalam menggambarkan perbedaan usia serta pemikiran hingga proses-proses pilihan karakternya, Akshay Kumar dan Bhumi Pednekar memunculkan chemistry yang sangat adorable. Keduanya bisa bertransformasi dengan baik ke sosok karakter dari daerah pinggiran dengan look dan gestur yang down to earth tanpa mesti dilebih-lebihkan, satu yang mungkin cukup sulit kita dapatkan dari banyak film Bollywood dengan lead yang harus selalu tampil jauh lebih flashy bak langit dan bumi dibandingkan karakter-karakter lainnya.

Memerankan adik Keshav, Narayan, yang selalu jadi penengah dalam tiap konfliknya, aktor muda Divyendu Sharma pun muncul sebagai scene stealer jempolan tanpa pernah sekalipun terlihat sebagai tempelan. Sementara tiga aktor seniornya, walau sejak awal digagas secara komikal; Anupam Kher yang berperan sebagai paman Jaya, Sudhir Pandey sebagai Pandit dan Shubha Khote sebagai nenek Keshav juga mendapat keleluasaan untuk menampilkan sisi keaktoran masing-masing.

Namun kekuatan terbesar Toilet memang tetap ada pada pemaparan Narayan – yang walau baru punya dua film bisa membuat semua orang langsung berpaling ke potensi besar yang dimilikinya, bersama duo Siddharth-Garima sebagai penulisnya. Bahwa di balik penyuluhan-penyuluhan PSA yang tetap bisa ditahan untuk muncul dengan halus, mereka mampu bicara secara lantang menyampaikan pilihan sikap tegas terhadap subjek yang mereka angkat dengan relevansi-relevansi kuat. Dari protes berani terhadap keterkungkungan adat, budaya dan tradisi yang juga terkait dengan agama, di titik akhirnya Toilet tak lagi bicara soal sanitasi atau tetek-bengek soal buang air, tapi jauh lebih besar dari itu, ia membuka mata kita bahkan lebih lebar terhadap eksistensi serta posisi perempuan yang seringkali masih ditempatkan secara tak adil di tengah praktik-praktik diskriminasi dalam masyarakat India, dan mungkin juga, kita. Percayalah, tak semua filmmaker punya kemampuan ini. Funny, satirical, often hyperbolic yet never once left off its ground, Toilet: Ek Prem Katha is one relevant and thought-provoking eye-opener. Bagus sekali. (dan)

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter