Home » Dan at The Movies » THE DARK TOWER (2017)

THE DARK TOWER (2017)

THE DARK TOWER: A HALF-HEARTED ADAPTATION THAT MISSED ITS POTENTIAL
Sutradara: Nikolaj Arcel
Produksi: MRC, Imagine Entertainment, Weed Road, Columbia Pictures, 2017

Image: impawards.com

Entahlah memang sebuah kutukan, mash-up genre sci-fi/fantasy dengan western – walau sudah digarap studio besar memang jarang sekali bisa berhasil. Sebut beberapa yang ada termasuk yang pasti paling melekat ke genre-nya; Cowboys & Aliens, hampir selalu punya titik lemah dalam blend-nya. The Dark Tower yang diangkat dari novel series berjudul sama karya Stephen King ini pun demikian, meski feel western yang diusungnya jauh lebih modern di balik keberadaan karakter utamanya yang dijuluki gunslinger.

Menjual dua bintang besar, Idris Elba dan Matthew McConaughey, adaptasi yang disutradarai sineas asal Denmark Nikolaj Arcel dari film asing nominee Oscar A Royal Affair, juga nantinya akan menyutradarai remake film Hitchcock, Rebecca, statusnya sendiri sebenarnya lebih berupa sebuah kontinuasi yang menggabungkan beberapa bagian dari keseluruhan 8 serial novelnya dan direncanakan akan menjadi franchise TV secara beriringan. Sayangnya, konsep ambisius menggabungkan semesta paralel dunia modern dengan old west mid-world di balik subjek tituler itu memang anjlok dengan hasil akhir yang banyak dicerca kritikus walau tetap dipuji oleh fans-nya. Lagi-lagi, dalam konteks pengembangan franchise, pada dasarnya sebuah adaptasi memang secara universal bukan hanya diperuntukkan bagi fans-nya. Gagal meraih audiens lebih luas lewat resepsi rata-rata yang ada, jelas berarti sebuah kegagalan terhadap keseluruhan produknya.

Seorang anak bernama Jake Chambers (Tom Taylor) mengalami serangkaian visi tentang seorang lelaki berjubah hitam yang ingin menghancurkan sebuah menara sakti yang dipercaya bisa menahan kehancuran dunia dari kekuatan jahat, dan seorang penembak yang berusaha menggagalkannya. Tak dihiraukan oleh ibu, ayah tiri serta psikiater yang menganggap hal ini hanyalah trauma atas kematian misterius ayah kandungnya, Jake kemudian menemukan portal ajaib yang membawanya ke sebuah dimensi paralel bernama Mid-world. Di sana akhirnya ia menemukan sang penembak, Roland Deschain (Idris Elba) yang perlahan meyakini visi Jake dan membawanya dalam sebuah petualangan seru untuk menghentikan Walter Paddick (Matthew McConaughey) yang dijuluki the Man in Black dan berusaha menghancurkan dunia lewat kekuatan jahat untuk meruntuhkan menara itu.

Nama Ron Howard dan Akiva Goldsman sebagai produser sebenarnya sudah sejalan dengan konsep ambisius yang diusung The Dark Tower. Skrip yang juga ditulis oleh Goldsman bersama Jeff Pinkner (The Amazing Spider-Man 2), Arcel dan scriptwriter Denmark Anders Thomas Jensen dari ranah film-film lebih serius macam Brothers (2004) ataupun In a Better World (2010) juga terdengar punya komposisi yang bagus. Sayangnya, semua ini seperti gagal bekerja terutama dalam menggelar detil-detil dan penjelasan dari penggabungan universe dan world building-nya agar dapat mengikat penonton dalam sebuah konsep penceritaan yang menarik. Nama-nama besar itu terasa seperti setengah hati kala dikolaborasikan bersama.

Begitu pula dalam susunan cast-nya. Kolaborasi Elba dan McConaughey yang dibentuk secara stylish sebagai Gunslinger dan The Man in Black sebenarnya sudah menjadi daya jual yang sangat menarik; namun keduanya seolah tak memberikan energi cukup ke karakternya. Kerap terlihat seperti malas-malasan, nyaris tak ada persona lead vs villain yang kuat sepanjang durasi The Dark Tower. Aktor pendukungnya pun seperti tak punya sparks cukup untuk mengangkat filmnya. Dari aktor cilik Tom Taylor yang seharusnya sangat diperlukan sebagai penyeimbangnya hingga Jackie Earle Haley yang juga tak bisa berbuat banyak, begitu pula female magnet dari aktris berdarah Asia Claudia Kim.

Tak banyak juga sisi teknis lain yang layak mendapat catatan. Dengan bujet cukup besar sekira 60 juta USD, production design dan CGI-nya tergolong payah buat kelas produksi di genre sejenis. Sinematografi DoP Denmark Rasmus Videbæk pun tak mampu membuat detil-detil bagus ke lapis beda universe-nya. Selain feel western-nya nyaris pupus, semua datar-datar saja termasuk scoring dari Tom Holkenberg yang tak pernah bisa mengangkat emosi di adegan-adegan penting dalam The Dark Tower. Semua unsur-unsur penting yang seharusnya bisa membentuk The Dark Tower sebagai instalmen pengenalan franchise yang menarik benar-benar terasa dikerjakan setengah hati.

Satu-satunya kekuatan yang tersisa pada akhirnya hanyalah klimaks aksi yang lumayan seru di 15 menit terakhirnya, namun setup yang kurang baik untuk menuju ke sana, yang salahnya juga dibangun dengan kelewat lemah, sudah tak lagi bisa membantu The Dark Tower ke sebuah presentasi yang lebih baik. A half-hearted adaptation that missed its potential. Walau Hollywood kadang selalu punya cara melanjutkan sebuah kegagalan, namun sementara ini agaknya jangan berharap banyak pada kelangsungan franchise-nya. Apa boleh buat. (dan)