Home » Dan at The Movies » IT (2017)

IT (2017)

IT: GRUESOME RIDE OF SCARE OVER THE VISCERAL SUBTEXTS OF FEAR
Sutradara: Andy Muschietti
Produksi: New Line Cinema, RatPac-Dune Entertainment, Vertigo Entertainment, Lin Pictures, KatzSmith Productions Warner Bros., 2017

Image: impawards.com

Dengan tiga adaptasi baru karyanya; versi serial The Mist Juni lalu, The Dark Tower di Agustus dan It versi layar lebar di bulan ini, tahun ini mungkin jadi sangat spesial bagi seorang Stephen King. Sayangnya, hasil dan resepsi The Dark Tower yang tak begitu bagus – kalau tak mau dibilang gagal, memang membuat kemungkinan pengembangan companion TV series-nya mengambang. Menjadi taruhan selanjutnya, It yang dibarengi promo besar-besaran dari Warner dan sejumlah production companies-nya, agaknya punya kesempatan besar dengan resepsi awal yang rata-rata sangat baik.

Begitupun, untuk yang sudah mengikuti novel rilisan 1986 atau mini serial tahun 1990-nya, tentu tahu bahwa resiko terbesarnya ada di sosok sinister villain utamanya, badut Pennywise baru yang diperankan oleh Bill Skarsgård. Sulit untuk bisa menyaingi versi Tim Curry yang memang fenomenal itu. Belum lagi, masalah keluarnya sutradara Cary Fukunaga (True Detective, Beasts of No Nation) di tengah prosesnya, berganti ke sutradara Argentina Andy Muschietti (Mama, 2013), di lain sisi juga jadi ganjalan terhadap ekspektasinya. Lagi, dibanding banyak novel Stephen King lain, It memang punya tingkat kesulitan cukup tinggi karena lewat novel ini, King membidik banyak subteks untuk menggambarkan banyak bentuk-bentuk ketakutan di balik sebuah kisah simpel tentang teror badut iblis terhadap sekelompok anak. Ini bukan lagi merupakan template baru dalam genre-nya. Kita bahkan punya Badoet (2015) arahan Awi Suryadi sebagai salah satu horor di ranah sejenis.

Memindahkan setting tahun ’50-an ke musim panas 1989 tepat 27 tahun sejak mini serialnya, It mengisahkan 7 praremaja bermasalah di kota fiktif Derry, Maine, yang harus menghadapi teror badut menyeramkan bernama Pennywise (Bill Skarsgård). Dengan latar permasalahan berbeda, 7 anak yang dijuluki The Losers Club dan kerap di-bully oleh remaja sosiopat Henry Bowers (Nicholas Hamilton) dan rekan-rekannya itu adalah Beverly (Sophia Lillis), Richie (Finn Wolfhard), Stanley (Wyatt Oleff), Eddie (Jack Dylan Grazer), Mike (Chosen Jacobs), Ben (Jeremy Ray Taylor) dan Bill (Jaeden Lieberher) yang baru kehilangan sang adik, Georgie (Jackson Robert Scott) sebagai korban Pennywise. Menolak menjadi korban, Bill lantas mengajak mereka untuk menyelidiki keberadaan Pennywise yang muncul 27 tahun sekali buat memangsa anak-anak di kota mereka. Apa yang muncul selanjutnya adalah sebuah petualangan hidup dan mati yang pelan-pelan mulai membawa mereka menghadapi ketakutan terbesar sekaligus sisi gelap masing-masing yang bisa menyeruak kapan saja di tengah prosesnya.

Sedikit berbeda dengan versi 1990 arahan Tommy Lee Wallace yang lebih halus dalam wujudnya sebagai mini seri, skrip It: Chapter One yang ditulis oleh Cary Fukunaga, Chase Palmer dan Gary Dauberman mengangkat subteks traumatik yang sama, namun kali ini benar-benar muncul ke permukaan tanpa kompromi sebagai sebuah in-depth experience. Unsettling sekaligus menakutkan. Pengarahan Muschietti kerap menerobos batasan-batasan yang ada dalam sebuah blockbuster horor dengan karakter utama anak-anak. Dipenuhi kesadisan eksplisit serta berdarah-darah sejak awal, dengan eskalasi dan intensitas horor yang terbangun sangat rapi di tengah homage pop kultur era-nya. Dari kostum, props hingga sederet OST yang diambil dari album Hangin Tough-nya NKOTB dan juga hints ke genre remaja serta horor termasuk A Nightmare on Elm Street.

Bersama tiap guliran kengerian dan kesadisannya, Muschietti bahkan kerap terlihat sangat tega menyayat-nyayat urat syaraf penontonnya hingga ke titik jengah, membawa ketakutan terbesar kita merebak mulai dari pameran darah, body parts, molestasi anak hingga pembunuhan dan penyiksaan keji yang dilakukan anak dan praremaja. Sosok Pennywise yang dibuat jauh lebih kompleks dan mengerikan ketimbang sekedar taring tajam pun secara mengejutkan bisa dibawakan Skarsgård dengan menyeramkan, walau secara relatif tetap tak bisa menyaingi pencapaian minim efek yang dibawakan Tim Curry di mini serialnya.

Begitupun, hebatnya, Muschietti tetap bisa menahan It dengan sebuah balance of taste yang sulit bisa dimiliki banyak sutradara lain. Di tangannya, elemen-elemen amoral itu nyaris tak pernah muncul seperti sebuah eksploitasi melainkan menyelam sangat dalam buat menyampaikan subteks yang benar-benar sejalan dengan apa yang ingin disampaikan Stephen King lewat novelnya. Lebih terlihat mau bicara dan memberi statement ketimbang bercerita, pilihan judul singkat yang menggambarkan begitu banyak bentuk human fears secara mendasar memang diangkat King dengan membidik sosok villain paling akrab dengan anak di balik kondisi psikologis spesifik ketakutan terhadap badut yang disebut dengan Coulrophobia. Gambarannya rata-rata tertuang secara ekstrem, tapi punya relevansi dan tendensi jelas.

Sementara, sisi teknis dan aktingnya juga menghadirkan sejumlah sisi unggul dari It. Sinematografi award-winning DoP Korea Chung Chung-hoon (film-film Park Chan-wookThe Handmaiden, Oldboy, Sympathy for Lady Vengeance, Stoker) berhasil menghadirkan atmosfer set bersama production design yang cukup fantastis. Dari keberadaan kota fiktif Derry ke Pennywise’s lair, atmosfer itu seolah jadi perpaduan Stand By Me dan The Goonies dengan injeksi gory-horror, sementara editing dari Jason Ballantine hingga scoring Benjamin Wallfisch bekerja saling menguatkan satu dengan yang lain dalam unsur teknisnya.

Di departemen akting, walau semuanya kuat, yang tampil paling menonjol selain Skarsgård dan Lieberher sebagai fokus utamanya adalah Sophia Lillis dan Nicholas Hamilton. Memerankan sosok Bev, gadis praremaja korban ayah abusive dengan sisipan kuat soal gender di bagian-bagian pengujungnya, Lillis muncul bagaikan kombinasi Sylvia Kristel muda yang dibalut penampilan nerd/geeky ‘80an ala Molly Ringwald, sementara Hamilton sebagai Henry bermain impulsif bak Kevin Bacon muda di tahap awal karirnya.

Namun memang, kekuatan terbesar It terletak di sepanjang konflik serta simbolisasi yang mendasari keseluruhan ide luar biasanya. Dari masalah bully, parenting, keluarga, persahabatan, cinta, isu rasial hingga women’s empowerment, semua bisa mengalir mulus dalam tiap titik penyampaiannya, serta tak lupa pula menahan It buat berada di jalur mutlak yang diperlukan sebuah blockbuster horor dalam permainan utamanya. Sebuah adventurous ride penuh fantasi dengan kombinasi rasa dari tawa hingga takut, jengah tapi juga kerap membawa kita ke titik trenyuh untuk menyelami detil-detil konflik serta karakternya.

Semakin keras ia menghantam kita dengan kesadisan eksplisit yang makin menggila hingga ke ujung klimaksnya – benar-benar membuatnya sama sekali tak layak ditonton anak-anak berusia di bawah umur, yang kita lihat bukanlah sebuah kegilaan eksploitatif tapi justru subteks kuat serta mendalam yang mendasari It sebagai sebuah karya sangat tak biasa. Ini, harus diakui, jauh melebihi pencapaian mini serialnya yang juga bukan karya sembarangan, namun tak pernah menyentuh kedalaman sama dengan yang dibawa Muschietti di versi layar lebar ini. Left us wanting more to the next It: Chapter Two, a gruesome ride of scare over visceral subtexts of fear. Bagus sekali. (dan)