Home » Dan at The Movies » AMERICAN ASSASSIN (2017)

AMERICAN ASSASSIN (2017)

AMERICAN ASSASSIN: THIN PLOT, IMPRESSIVE ACTION
Sutradara: Michael Cuesta
Produksi: CBS Films, Lionsgate, 2017

Image: impawards.com

Meski tak membawa production company-nya sendiri, American Assassin adalah satu lagi film bergenre spy action dari tangan produser Lorenzo di Bonaventura setelah Salt, Jack Ryan: Shadow Recruit dan Unlocked. Begitupun, diangkat dari novel berjudul sama karya Vince Flynn, American Assassin punya pendekatan yang beda. Lebih mengedepankan aksi laga yang tengah marak sebagai trend sekarang, seperti Atomic Blonde atau John Wick, ia menjadi introduksi ke karakter Mitch Rapp, agen operatif CIA tangguh dari 16 novel series besutan Flynn. Tentu, hasil akhir yang akan menentukan apakah karakter adaptasi ini bisa berlanjut menjadi franchise seperti rekan-rekannya yang lain.

Menggelar awal mula Mitch Rapp (diperankan Dylan O’Brien) menjadi rekrutan black-ops CIA setelah kehilangan calon istrinya di sebuah serangan teroris, Rapp ditugaskan oleh Deputy Director CIA Irene Kennedy (Sanaa Lathan) untuk dilatih oleh agen veteran Stan Hurley (Michael Keaton). Mengarah ke sebuah misi khusus untuk menghentikan sosok agen ganda misterius yang dijuluki ‘Ghost’ (Taylor Kitsch) dengan rencana aktivasi hulu ledak nuklir bersama agen Turki Annika (Shiva Negar), kebengalan Rapp di balik motivasi dendam pribadinya berkali-kali menempatkan misi mereka dalam bahaya. Namun Rapp juga menjadi satu-satunya harapan ketika serangkaian pengkhianatan mulai terbuka serta menempatkan Hurley sebagai tawanan di ujung tanduk.

Menarik memang melihat komposisi penulis American Assassin yang melibatkan nama-nama senior macam Edward Zwick dan produser Marshall Herskovitz dari film-film Zwick seperti The Last Samurai, Blood Diamond dan sekuel Jack Reacher, sementara dua nama lagi bukanlah punya rekor terlalu besar lewat karirnya. Stephen Schiff yang cukup senior dari Lolita versi 1997 dan Wall Street: Money Never Sleeps sebelum ini sama sekali belum tersentuh genre-nya, sementara Michael Finch meski sudah menulis Hitman: Agent 47 dan The November Man (keduanya bukanlah genre spy action yang remarkable), selebihnya berkutat di film-film action DTV. Sempat bergonta-ganti dari Antoine Fuqua termasuk Zwick sendiri, sutradara Michael Cuesta yang sudah punya rekor di film-film serial TV terkenal dari Six Feet Under ke Dexter dan Homeland pun belum punya film layar lebar berskala besar kecuali Kill the Messenger yang sangat terbantu oleh nama Jeremy Renner.

Begitupun, kombinasi ini ternyata bisa memunculkan racikan cukup beda dalam genre-nya. Tanpa pernah mencoba menjadi Bourne Trilogy sebagai salah satu standar teratas spy genre sekarang, ataupun Bond kontemporer meski punya beberapa pakemnya, mereka tak lantas membuat adaptasi pengenalan tokoh Mitch Rapp dengan intrik politik dan mata-mata yang berbelit, namun tetap bisa menyemat sejumlah twist and turn cukup asyik ke dalamnya. Bahkan lebih tipis dibandingkan Salt atau Unlocked, garis plot American Assassin kadang tak ubahnya setipis film-film bergenre sama di jalur DTV.

Instead, yang lebih mereka tonjolkan ke dalam introduksi ini justru guliran adegan aksi laganya. Dibesut dengan feel dan atmosfer beroktan tinggi, untungnya, pemilihan cast-nya terasa sangat tepat menempatkan aktor muda Dylan O’Brien (The Maze Runner) sebagai action hero baru yang sangat potensial baik dari fisik, gestur serta kemampuan laganya. Meski menyia-nyiakan Scott Adkins yang muncul hanya sebentar, koreografi aksi besutan Marcus Shakeseff, stuntman dari sejumlah film-film macam Wonder Woman, King Arthur: Legend of the Sword dan Guardians of the Galaxy bekerja dengan bagus sekali di sejumlah adegan combat fights-nya yang intens.

Guliran aksi ini pun tentu tak akan bekerja dengan baik tanpa penggarapan teknis yang bagus. Mengiringi perpindahan set penuh aksinya dari latar Turki ke Roma dan klimaks di tengah lautan, sinematografi DoP Ekuador Enrique Proper Chediak (The Maze Runner, Deepwater Horizon) dan editor veteran Conrad Buff IV (Titanic, True Lies), juga scoring dari Steven Price berhasil memberi cinematic looks yang cukup berkelas selain intensitas tinggi dari adegan-adegan aksinya.

Selebihnya ada di komposisi ensemble cast-nya. Membawa Michael Keaton dengan persona keaktoran yang seimbang sebagai Hurley sang mentor, American Assassin benar-benar bisa mengangkat kelasnya sebagai sebuah spy action di level produksi studio non major. Sementara Taylor Kitsch yang kali ini diserahi peran antagonis juga bisa tampil cukup meyakinkan menuju klimaks eksplosif yang tak terjebak ke blunder-blunder klise seperti yang pernah dilakukan sutradara Phil Alden Robinson di franchise Jack Ryan, The Sum of All Fears. Masih ada juga penampilan bagus dari Sanaa Lathan dan debut layar lebar cukup impresif dari aktris berdarah Iran Shiva Negar.

So, tak usah berekspektasi macam-macam, American Assassin memang tak pernah sekalipun terlihat ingin menjual sisi lain selain hiburan murni penuh aksi dari potensi yang dimilikinya. Nikmati saja pace kencang dan aksi laga eksplosif yang ditawarkan di balik visi dan keinginan pembuatnya. Thin on plot yet thick on actions, yang penting skala produksinya tak pernah terlihat kacangan dan kita – penontonnya, jelas masih ingin melihat aksi Mitch Rapp dalam misi selanjutnya. Artinya tak ada yang salah dengan pilihan itu. (dan)