Home » Dan at The Movies » GERBANG NERAKA (2017)

GERBANG NERAKA (2017)

GERBANG NERAKA: A RARE FUSE OF INDONESIAN ADVENTURE MYSTERY WITH REFERENTIAL CONCEPT
Sutradara: Rizal Mantovani
Produksi: Legacy Pictures, 2017

Meski setiap tahun punya lebih dari 100 film yang dirilis di bioskop dengan pola rata-rata 2 film setiap minggu dan berhenti beberapa pekan memasuki bulan Ramadhan, film kita sebenarnya miskin genre. Sudah ada satu dua yang mencoba melakukan gebrakan namun masih berkutat di genre yang rata-rata sama. Drama, horor, komedi mendominasi ratusan film yang dirilis setiap tahunnya, terkadang tanpa ada pula subgenre yang berbeda antara satu dengan yang lain.

Gerbang Neraka termasuk satu yang mencoba keluar dari sana. Berjudul awal Firegate, skrip berdasar ide penulis sekaligus produsernya, Robert Ronny, soal situs prasejarah populer Piramida Gunung Padang, membawanya ke fusi genre yang bukan juga tak pernah – namun sangat jarang ada bahkan dari era film kita terdahulu. Penggantian judul itu sendiri diakui Robert – dulu juga ikut terlibat dalam pembuatan Ekspedisi Madewa yang lebih terang-terang mengarah ke genre adventure/petualangan ala Indiana Jones, merupakan sebuah kompromi atas susahnya menjual genre baru di perfilman kita. Terdengar cenderung ber-genre horor atas bangunan misterinya, walaupun sebenarnya tak begitu, ini tentu sah-sah saja. Kontennya lah yang pada akhirnya menentukan ia berpijak di ranah mana.

Tomo (Reza Rahadian), seorang non-believer yang sehari-harinya terpaksa bekerja sebagai wartawan di sebuah tabloid mistis demi uang, ditugaskan untuk meliput penelitian yang tengah berjalan di Piramida Gunung Padang, situs peninggalan prasejarah sekaligus Piramida tertua di daerah Jawa Barat. Di sana, atas serangkaian kejadian aneh yang terjadi, ia terpaksa bekerjasama dengan Arni (Julie Estelle), arkeolog anti klenik yang ditunjuk langsung oleh Presiden berikut paranormal selebritis Guntur Samudra (Dwi Sasono) untuk mengungkap misteri terhadap kekuatan kuno yang bukan saja mempertemukan takdir mereka, namun juga berujung ke sebuah bahaya besar atas keselamatan keluarga Tomo berikut seluruh umat manusia.

Lihat lagi sinopsis itu, Gerbang Neraka jelas punya konsep yang bagus sekali di atas kertas atas ide dan bentukan perbedaan latar jelas dari ketiga karakter utamanya. Dibangun Robert Ronny dengan permainan referensi dari dasar plot hingga ke sematan twist-nya, elemen-elemen wajib dalam fusi genre-nya sebenarnya sudah punya potensi sangat baik. Apalagi, latar tiga karakter – komposisi jumlah yang seolah sudah jadi template genre-nya itu, sama sekali tak mencoba mengikuti pakem film-film luar, namun dibangun di atas kedekatan kultural masyarakat kita. Wartawan tabloid mistis yang skeptis, arkeolog wanita yang mendewakan sains ketimbang klenik, keduanya diperankan dengan baik oleh Reza dan Julie, serta sosok paranormal selebritis dalam penekanan sisi fun – yang kita tahu bakal pas sekali diperankan Dwi Sasono dengan tipikal karakterisasi filmnya selama ini. What a concept, belum lagi saat sebuah twist yang juga sangat referensial menunggu di pengujungnya dengan gimmick penampilan salah satu aktor terbaik kita selain Reza.

Sayangnya, konsep bagus dengan potensi besar yang menggabungkan banyak referensi menarik dalam fusi genre-nya; dari genre petualangan ala The Mummy, Talos the Mummy atau sedikit Indiana Jones ke misteri ala Angel Heart, The Devil’s Advocate dengan elemen-elemennya bahkan Bedazzled, bergerak tak sama kuat dalam tiap titik pengembangannya. Selagi skrip Robert memang terlihat sangat menguasai arena permainannya, dari sematan latar Gunung Padang, subplot, side characters – menampilkan nama-nama macam Ray Sahetapy, Otiq Pakis, Khiva Iskak, Reza Nangin, Puy Brahmantya dan khususnya Lukman Sardi – tampil dengan gestur kuat namun tak didukung voice tone meyakinkan, ke tengah-tengahnya, dialog-dialog dan interaksi yang dihadirkan sayangnya tak pernah bisa terasa cukup kuat terutama dalam bangunan twist dan konklusi yang seharusnya bisa muncul sangat menyentuh.

Sementara chemistry Reza, Julie dan Dwi masih kerap naik turun dan akting selebgram cilik Ayasha Putri yang sebenarnya sangat dibutuhkan untuk bangunan motivasi karakter Tomo masih lemah sekali, penceritaan dan pengarahan Rizal Mantovani pun berkali-kali terasa meleset dengan kepekaan yang masih sangat kurang untuk menyamai sinergi kuat di konsep tadi. Akibatnya, adegan-adegan jagoan yang harusnya bisa mengiringi twist-revealing itu dengan seru sekaligus menegangkan benar-benar terasa tak tergarap maksimal bak mesin yang tak pernah mencapai titik maksimal proses tune up-nya. Ada juga pelanggaran konsep yang cukup fatal dalam koherensi logika internal di pamungkas klimaksnya.

Untunglah, Gerbang Neraka masih punya serangkaian jump scare yang disemat cukup efektif dalam penekanan elemen misteri sekaligus tetap bisa membuatnya layak diplesetkan ke genre horor dalam kepentingan jualan tadi. Paling tidak ia bisa menghadirkan sosok creature bernama Badurach yang cukup memorable. Tak ada yang terlalu spesial dari sinematografi Faozan Rizal kecuali saat Gerbang Neraka bermain dengan set piece adventure-nya, sementara effort-effort terhadap penggunaan efek dan CGI, juga tata rias Badurach oleh Cherry Wirawan dan Dian Anggraini Puspitasari, bisa bekerja lebih di atas rata-rata film kita biasanya.

Masih ada pula sempalan adegan aksi yang jelas diperlukan dalam mish mash genre-nya, yang sayangnya juga tak tergarap maksimal dengan koreografi mumpuni, namun begitu, masih cukup boleh dalam menggaris batas perbedaan tampilan sebagai pelengkap keseluruhan. Terakhir, scoring dari Andi Rianto, walau tak jelek, sayangnya juga lebih memilih bermain dalam atmosfer misterius bak sebuah horor ketimbang mengeksplorasi komposisi yang lebih dekat ke nuansa fantasi atau adventure-nya.

Walau kemasan akhir Firegate atau Gerbang Neraka tak sepenuhnya mampu menciptakan sinergi seimbang ke konsep ide yang luar biasa terdengar potensial itu, ia bukanlah lantas jatuh ke sebuah karya yang tak layak. Dari kelas kru ke pemainnya, ini, paling tidak, tetap merupakan usaha mendobrak stagnansi genre yang sangat perlu dihargai lebih untuk memicu kreativitas sineas lain dalam eksplorasi-eksplorasi yang sama, selain juga sangat menarik mengulik pemindahan referensi-referensi itu ke atas sebuah kedekatan kultural sinema kita. A rare fuse of Indonesian adventure mystery with referential concept, Gerbang Neraka tetap sangat layak buat disimak. (dan)

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter

Latest posts by danieldokter (see all)