Home » Dan at The Movies » THE LEGO NINJAGO MOVIE (2017)

THE LEGO NINJAGO MOVIE (2017)

THE LEGO NINJAGO MOVIE: STILL A LEGO’S BLEND OF A WHOLE PACK FAMILY FUN
Sutradara: Charlie Bean, Paul Fisher & Bob Logan
Produksi: Warner Animation Group, Lin Pictures, Vertigo Entertainment, Lord Miller Productions, Animal Logic, Lego System A/S, Warner Bros. Pictures, 2017

Image: impawards.com

Dari The Lego Movie ke The Lego Batman Movie, franchise layar lebar animasi Lego kembali berlanjut. Masih terlalu dini mungkin memprediksi masa depan The Lego Movie franchise ini, apapun hasil BO-nya nanti, namun kekuatan mereka jelas tak main-main. Sebagai instalmen pertama yang mengangkat salah satu properti asli mereka tanpa mash-up ke karakter-karakter dari properti studio lain; The Lego Ninjago Movie juga kini bekerjasama dengan Cartoon Network yang sudah cukup lama tak merilis animasi layar lebarnya sejak The Powerpuff Girls Movie (2002). Di sinilah mungkin letak potensi franchise-nya; tanpa lupa menyebut nama Phil Lord dan Christopher Miller, bahwa kolaborasinya bersama Warner Animation bisa memungkinkan mereka melakukan diversifikasi cukup luas untuk membawa banyak elemen-elemen lain ke dalam film mereka.

The Lego Ninjago yang juga turut membawa Jackie Chan untuk meramaikan franchise-nya sama sekali tak seperti The Master, animasi pendeknya yang tampil sebagai bonus pembuka di Storks. Menyemat elemen tradisionalnya lewat prolog live action ala film-film animasi keluarga tahun 80-90an, The Lego Ninjago Movie berpindah ke sebuah fiksi fantasi perpanjangan serial animasi Lego Ninjago: Masters of Spinjitzu. Ulah Garmadon (Justin Theroux), Evil Lord ala Darth Vader meneror kota Ninjago membuat putranya, Lloyd (Dave Franco) yang tinggal bersama ibunya, Misako (Olivia Munn), tersisihkan dari pergaulan, tanpa ada satu orang pun termasuk Garmadon yang tahu bahwa Lloyd sebenarnya merupakan pemimpin kelompok superhero ninja rahasia seterunya. Sebagai ninja hijau, Lloyd melindungi Ninjago bersama rekan-rekannya, Kai (Michael Peña) – ninja api/merah dan adiknya Nya (Abbi Jacobson) – ninja silver/air, Jay (Kumail Nanjiani) – ninja petir/biru, Zane (Zach Woods) – ninja putih/es dan Cole (Fred Armisen) – ninja hitam/bumi. Perseteruan yang ikut melibatkan guru mereka sekaligus paman Lloyd/adik Garmadon, Master Wu (Jackie Chan) berujung ke munculnya kucing asli yang mereka namakan Meowthra dan makin memporak-porandakan Ninjago.

Satu-satunya jalan adalah melintasi Hutan Bahaya, Lembah Maut dan sebuah Kuil Suci bernama Temple of Fragile Foundations untuk mendapatkan satu-satunya senjata pusaka yang bisa mengalahkan Meowthra. Diikuti Garmadon yang akhirnya terpaksa bergabung dengan mereka, Lloyd dan rekan-rekannya harus menghadapi sepasukan mantan Jendral Garmadon yang berniat menuntut balas. Di sinilah akhirnya masa lalu perseteruan keluarga ini perlahan mulai terungkap di antara usaha para ninja ini mencari jati diri masing-masing.

Skrip yang ditulis keroyokan oleh Bob Logan, Paul Fisher, William Wheeler, Tom Wheeler, Jared Stern dan John Whittington dari ide Dan & Kevin Hageman, The Hageman Brothers dari serial animasi Lego Ninjago: Master of Spinjitzu bersama Phil Lord, Chris Miller dan Dan Lin dari Lin Pictures sebagai tim produsernya; memang tak lagi mau repot-repot mengulang secara panjang soal asal-usul Lloyd dan Secret Ninja Force ala Power Rangers-nya. Mereka lebih bermain-main dengan referensi Star Wars di balik perseteruan Garmadon dan Lloyd sebagai father to son – archenemy bak Darth VaderLuke Skywalker seperti yang sudah kita lihat di trailer-nya.

Meski tak ada yang salah dengan pilihan yang menempatkan The Lego Ninjago Movie seolah menjadi sekaligus kontinuitas, spinoff atau malah prekuel – terserah menganggapnya apa, terhadap serial animasinya, bangunan universe yang memang rumit dan masih ditambah segudang referensi kultur pop ala instalmen-instalmen Lego ini, mau tak mau membuat penonton yang belum pernah mengikuti Master of Spinjitzu perlu durasi lebih panjang untuk bisa menyatu dengan karakter-karakter dan pengisahan dari sutradara Charlie Bean, storyboard artist dari banyak animasi Warner/Cartoon Network dan Tron: Uprising dari Disney-ABC yang baru memulai debut penyutradaraan animasi layar lebarnya. Ini jelas sangat berbeda dari The Lego Movie ataupun The Lego Batman Movie yang karakter-karakternya sudah jauh lebih dikenal secara luas. Kecuali Lloyd dan konflik keluarganya, karakter-karakter super ninja itu jadinya memang terkesampingkan.

Begitupun, dalam template animasi mereka biasanya, sejauh penontonnya mau sedikit bersabar untuk bisa benar-benar klik dengan alur serta karakter-karakternya, The Lego Ninjago tetap menawarkan keseruan dan kelucuan yang sangat khas dalam animasi layar lebar mereka. Aksi seru, komedi nyeleneh serta referensi-referensinya – dari kultur pop hingga self-mocking ke produknya sendiri (lihat bagaimana mereka membawa live action cat dengan cerdas ke tengah-tengah plotnya), namun selalu didasari nilai-nilai keluarga, tetap bisa tersampaikan dengan hangat bahkan menyentuh di tengah teknologi animasi komputer yang sanggup menghidupkan karakter mainan berbentuk aneh namun populer ini semakin baik lagi sekarang.

Dengan sedikit masalah jarak ke properti asli dan serial animasinya tadi, The Lego Ninjago Movie mungkin memang tak sebaik dua instalmen sebelumnya, apalagi buat non-fans. Tapi coba pikirkan lagi, bagaimana produk mainan dengan ekspresi dan gerakan sangat terbatas ini bisa dibawa ke level multi emosi seperti yang kita saksikan sekarang? Saat kita tak pernah membayangkan satu bagian brick mini-nya ternyata bisa dimodifikasi menjadi karakter Lego berukuran raksasa yang dipamerkan di banyak ekshibisi, pemikir-pemikir di balik konsep franchise layar lebar ini pun rasanya sudah melakukan inovasi sama baiknya lewat cara berbeda. Still a Lego’s blend of a whole pack – family fun! (dan)

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter

Latest posts by danieldokter (see all)