Home » Dan at The Movies » WIND RIVER (2017)

WIND RIVER (2017)

WIND RIVER: A MOODY MURDER THRILLER THAT FLOWS COLD BUT KNOWS WHEN TO EXPLODE
Sutradara: Taylor Sheridan
Produksi: Acacia Entertainment, Savvy Media Holdings, Thunder Road Pictures, Film 44, The Weinstein Company, 2017

Image: impawards.com

Membawa Taylor Sheridan, penulis nominee Oscar dan Writers Guild of America Award masing-masing lewat Hell or High Water dan Sicario, ke kursi penyutradaraan (sebelumnya pernah lewat thriller/horor tahun 2011, Vile, yang tak terdengar), dari komposisi bintangnya, Wind River bisa jadi terlihat sebagai sebuah blockbuster. Namun meski memasang nama Jeremy Renner dan Elizabeth Olsen, keduanya adalah A-list stars yang juga merupakan bagian dari The Avengers-nya Marvel, statusnya sebenarnya tak seperti itu. Didistribusikan The Weinstein Company dari sejumlah indie company, Wind River adalah sebuah indie thriller yang memulai kiprah awalnya di Sundance awal tahun kemarin.

Berlatar situs reservasi suku Indian di pegunungan salju Wyoming, Wind River, agen Cory Lambert (Jeremy Renner) dari US Fish and Wildlife Service Tracker terpaksa bekerjasama dengan agen FBI Jane Banner (Elizabeth Olsen) untuk menyelidiki pembunuhan terhadap seorang gadis remaja putra sahabatnya, Martin Hanson (Gil Birmingham). Status rookie sekaligus gender yang disandang Banner membuat penduduk setempat memandangnya sebelah mata, sementara Lambert juga masih harus berurusan dengan trauma masa lalu yang memisahkannya dari keluarganya. Dibantu kepala polisi setempat, Ben (Graham Greene), Lambert harus mengandalkan keahliannya melacak jejak buat membantu intuisi Banner menuntaskan kasus yang secara perlahan tak hanya bergerak ke batas tipis antara hukum dan keadilan, namun juga menempatkan nyawa mereka dalam bahaya.

Kiprah Sheridan lewat skrip Sicario dan Hell or High Water, dua-duanya adalah film dengan status acclaimed, mungkin sudah cukup buat meletakkan signature-nya di ranah thriller yang tak sekedar menggelar ketegangan, tapi juga selalu hadir di atas subteks, kekuatan gagasan berikut bentukan karakter yang bukan superfisial. Mengikuti pakem itu, Wind River jadi semakin menarik karena mengangkat profesi karakter Renner yang masih jarang-jarang diangkat ke film, subteks soal ancaman-ancaman nyata terhadap suku asli Amerika dan perempuan di tengah dominasi pria sekaligus kekuatan set yang mengiringi keseluruhan atmosfer dan tone-nya.

Seperti set yang diliputi salju tersebut, Wind River pada dasarnya bukanlah sebuah thriller dengan pace kencang, tapi lebih bergerak perlahan, moody, kontemplatif serta cenderung serba muram di tengah atmosfer dinginnya. Namun begitu, ia tak pernah sekalipun kehilangan ketegangan yang mendasari plot-nya dengan kuat. Selagi bicara banyak hal dari kultur penduduk setempat hingga benturan-benturan birokrasi, Sheridan juga tetap menyemat interkoneksi personal di antara karakternya menjadi bangunan dramatisasi yang luar biasa kuat dan tak selalu bisa kita dapatkan di banyak film ber-genre sejenis. Bersama kekuatan ini, eskalasi emosi dan intensitas ketegangannya jadi muncul dengan sangat rapi, dan tahu kapan ia harus meledak di bagian-bagian pengujungnya.

Berperan sebagai Lambert, Jeremy Renner muncul dengan lead persona yang bahkan muncul lebih kuat dari kiprahnya di spinoff The Bourne Legacy, membuat kita bisa meyakini potensinya sebagai aktor ketimbang kapstok karakter jagoan. Sementara Elizabeth Olsen memunculkan sparks yang tepat sebagai agen FBI rookie yang mesti melawan stigma gender-nya di tengah dominasi ini. Masih ada dua aktor native Graham Greene (nominee Oscar dalam Dances with Wolves) yang berdarah Indian Oneida dan Gil Birmingham yang berdarah Comanche, serta Jon Bernthal yang juga dimanfaatkan dengan baik sebagai salah satu karakter kuncinya.

Sementara, penggarapan teknisnya juga memberi sinergi bagus terhadap skrip dan penceritaan Sheridan yang digagas cermat sekaligus skillful. Sinematografi dari Ben Richardson menghadirkan pendekatan kuat memanfaatkan set yang tak tertinggal sebagai sekedar latar seperti yang pernah ia lakukan lewat film nominee Oscar Beasts of the Southern Wild, pace editing yang terjaga dari penyunting kolaborator Clint Eastwood, Gary D. Roach, juga iringan soundtrack atmosferis dari Nick Cave dan Warren Ellis.

Pada akhirnya, ini semua yang membuat presentasi Wind River bisa tampil sedemikian kuat. Bahwa ia tak jatuh ke banyak thriller-thriller whodunit tipikal, tapi lebih ke sebuah character-driven yang dipoles kuat lewat sebuah kemurnian gagasan serta subteks yang terasa sangat humanis. Walau bergerak pelan, Sheridan dengan cermat meletakkan sumbu-sumbu di sepanjang alurnya yang membuat kita tak lagi bisa berkata tidak saat satu-persatu mulai diledakkan tanpa batasan, no holds barred, menuju titik akhirnya. A moody murder thriller that flows cold but knows when to explode. Bagus sekali. (dan)

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter

Latest posts by danieldokter (see all)