Home » Contributors » Pengabdi Setan (Remake 2017)

Pengabdi Setan (Remake 2017)

Tiga puluh tujuh tahun lalu Sisworo Gautama Putra bikin film horor dengan hasil yang bener-bener bikin siapa pun kaget, dia masukin elemen gore, dia make visual efek yang murahan, bahkan semua tata musik di dalem film itu pun hasil comot sana-sini. Kerennya lagi zaman segitu Sisworo Gautama Putra udah memunculkan bernama zombie ke dalem film yang dia buat. Beberapa tahun kemudian film yang dia buat itu menarik perhatian para penggemar film horor hampir diseluruh dunia, bahkan beberapa negara pun ngerilis film itu dalam format DVD dan VHS. Tahun segitu, dimana seluruh perfilman lokal sibuk bikin film esek-esek, seseorang bernama Sisworo Gautama Putra udah bikin film dengan level cult kelas dunia yang diberi judul dengan sangat mengagumkan dan pretensius: PENGABDI SETAN!

Karena faktor cult itu ngeremake film level dewa kayak gini bukan hal mudah. Lo musti ngejual jiwa lo ke setan, supaya hasil film lo –minimal- bisa sebaik film aslinya. Sampai kemudian seseorang bernama Joko Anwar berhasil ngedapetin tombak petir Zeus buat melakukan suatu hal yang awesome demi melanggengkan reputasi besar film itu dengan cara ngeremakenye di tahun 2017.

Pertanyaannye kira-kira Joko Anwar bisa nggak ngeremake film ini dengan baik?

Tersebutlah sebuah keluarga dengan komposisi Nenek (Elly D. Luthan), Bapak (Bront Palarae), Ibu (Ayu Laksmi), Rini (Tara Basro), Tony (Endy Arfian), Bondi (Nasar Annuz), dan Ian (M. Hidayat). Uniknya adalah keempat anak itu punya muka yang nggak ada mirip satu sama lainnya, dan ternyata selain itu juga mereka harus menerima fakta dimana mereka harus menanggung beban karena Ibu mereka yang berprofesi sebagai penyanyi pop udah 3 tahun sakit. Mungkin Ibu disini sebagai berperan sebagai Bread Winner karena terbukti dengan sakitnya sang ibu, keuangan keluarga ini morat-marit mirip status finansial atlit sepakbola kita saat udah pensiun. Rini sebagai anak tertua kemudian mengambil keputusan buat bertindak sebagai baby sitter keluarga tersebut. Rini mengurus semuanya mulai dari masak telor dadar, nyuci, beberes rumah (tolong kasih tahu gue dimana gue bisa punya baby sitter seksi kayak gini) sampai ngurusin Ibu yang cuma bisa tiduran di kasur sambil sesekali ngebunyiin lonceng tiap dia butuh sesuatu.

Sakitnya Ibu ternyata bukan sembarang sakit. Ibu kadang-kadang suka melakukan tindakan yang cukup anomali sebagai seseorang yang sakit. Gue nggak tahu barang jenis apa yang dipake sama si ibu, tapi kayaknye make ‘Lucy In The Sky With Diamond’ juga nggak kayak gini, kebanyakan makan mushroom juga nggak kayak gini. Jadi mari kita asumsikan saja bahwa si Ibu ini terkena kesurupan yang sudah akut menahun. Kondisi kayak gitu jelas bikin siapepun takut buat deket-deket sama sang ibu, Cuma si Bapak, Rini dan Tony yang berani mengurus ibu. Itu pun kadang mereka menemukan hal yang aneh. Kayak tiba-tiba si Ibu melotot sendiri, atau tiba-tiba Ibu memandang ke arah langit-langit kamar tanpa suatu sebab yang pasti. Aneh sih, tapi sejauh ini keluarga tersebut belum tahu kalau si ibu menyimpan rahasia yang sama besarnya kayak hubungan Frank Sinatra sama Gambino Family.

Ajal memang rahasia Tuhan, akhirnya suatu malam sang Ibu meninggal dengan kondisi mulut mangap dan mata mendelik kayak orang kebanyakan make Nitrazepam. Pemakaman pun akhirnya dilakukan, dan disitu terungkap bahwa ternyata keluarga tersebut memang bukan keluarga yang relijius dan jauh dari ayat-ayat Allah yang dapat membentengi seseorang dari hal-hal buruk. Masya Allah, aku berdzikir saat adegan ini berlangsung. Hmmm…

Kengerian dimulai saat Ibu telah dimakamkan. Kayak tajuk film ini ‘Ibu datang lagi’ dan kali ini Ibu benar-benar ‘datang lagi’. Tapi tentunya bukan dengan wujud yang ramah. Kematian Ibu ternyata berimbas besar, setelah Ibu meninggal, kemudian nenek pun akhirnya menyusul, tapi Nenek meninggal bukan dengan alasan yang sama seperti ibu, lewat sepucuk surat, nenek menulis pesan kepada anggota keluarga yang ditinggalkan. Isi pesannya kira-kira sama kayak isi pesan yang selalu di terima Jim Phelps tiap kali dia harus ngejalanin sebuah misi.

Lewat pesan di surat itu, Rini mengambil keputusan buat ketemu oleh seseorang dengan nama lengkap Budiman Syailendra (Egy Fedly), yang disini dia berprofesi sebagai penulis di majalah misteri. Lewat tulisan dari Budiman Syailendra itu akhirnya diketahui bahwa Ibu mereka tergabung ke dalam sebuah kelompok. Kira-kira kelompok apa tebak?
A. La Cosa Nostra
B. Kelompok Senam Goyang Maumere
C. Kelompok Bumi Datar
D. Sekte Pengabdi Setan

Sekarang jelaslah semua kejanggalan-kejanggalan yang terjadi dalam keluarga ini terjadi karena suatu hal yang gaib. Walaupun seluruh anggota keluarga hampir tidak percaya, tapi fakta-fakta yang terjadi emang membuktikan bahwa Ibu mereka berkoalisi dengan setan dalam hal karir dan demi untuk memiliki keturunan. Itulah sebabnya kenape semua anak-anak si ibu mukanya berlainan, karena mereka lahir dari bapak yang berbeda. Ternyata sang ibu melakukan ritual seks dengan anggota pengabdi setan lainnya untuk mendapatkan anak. Sedangkan setan pun membantu ibu demi karir nyanyi sang ibu agar cepat melesat. Sama kayak seluruh personil Wu Tang Clan dibantu karirnya oleh suatu hal magis bernama Cannabis.

Demi mematahkan kontrak nyawa dengan setan itu akhirnya Rini mendapatkan petunjuk dari Budiman untuk bersatu menyelamatkan keluarganya dari setan si ibu yang meneror keluarganya dan ingin mengambil salah satu dari adiknya. Walaupun di akhir cerita keluarga ini harus merelakan hal yang mereka pertahankan. Plot twist. Dan ini bukan film horor dengan happy ending, karena apa? Karena ini bukan film drama.

Ada banyak hal menarik di film ini, mulai dari lonceng, sumur, sampai viewmaster yang dari awal gue udah nebak kalau itu bakalan jadi piranti buat menebar ketegangan dan ketakutan. Kalo lo fans horor pasti lo bakalan dengan kesadaran penuh menebak semua hal itu bakalan bikin lo kaget. Kecuali lo nonton film ini dalam pengaruh alkohol.

Kalau misalnya kita ngomongin tentang cerita film ini, tentunya yang namanya remake nggak harus sama kayak film versi originalnya. Film ini mengalami pengembangan cerita dan ada beberapa tokoh asli yang hilang. Lo nggak akan menemukan karakter Karto dan Darminah di film ini. Tapi itu nggak mengurangi esensi kengerian film ini. Ceritanya lebih komprehensif dan pengembangannya gue rasa sesuai dengan demand pasar yang ada saat ini. Kita semua tahu kalo millenials itu ribet banget masalah cerita. Pengabdi Setan versi asli itu bisa dibilang campy banget, semuanya kayak dibikin serba amatiran. Versi remake ini jauh dari kesan itu. Awalnya gue hampir kecewa karena film ini nggak campy, tapi menit-menit selanjutnya gue ngerasa bersyukur film ini nggak campy.

Departemen pencari peran dalam film ini sukses banget milih pemain, hampir seluruh pemain punya porsi yang sama, ibaratnya film ini adalah grup hip-hop D12, semuanya dapet porsi rapping dan rhyming yang sama. Nggak ada yang lebih besar dan lebih kecil. Pemilihan Ibu Ayu Laksmi sebagai ‘sang ibu penebar teror’ pun gue rasa cukup jenius.

Pengabdi Setan versi remake ini masukin semua unsur film horor yang pernah gue tonton, secara sadar gue bakalan mengiyakan kalau ada bagian dari film Poltergeist, The Omen, The Ring, The Exorcist, bahkan lelucon tentang Tukang Pijatnya pun bikin gue inget ke Zatoichi. Untungnya semua terkemas dengan baik, nggak asal nyolong atau niru adegan aja.

Ada satu adegan yang diperankan oleh Elly D. Luthan yang bikin gue keingetan ke adegan Dukun Indian di film Poltergeist. Dan jujur aje, gue kagum dengan adegan itu. Itu plot twist terbaik dalam film ini. I’m sold. Enough said.

Balik ke pertanyaan awal:

“kira-kira Joko Anwar bisa nggak ngeremake film ini dengan baik?”

Jawabannya adalah: BISA!

Bukan cuma sekedar bisa, bahkan Joko Anwar meremake film ini dengan sempurna. Joko tahu bagaimana mempertahankan atmospheric horror dari film aslinya atau mungkin bahkan menaikkan tingkat dari film sebelumnya. Maksud gue, Joko Anwar nggak hanya bermain dengan adegan-adegan yang bakalan bikin kaget. Kita udah tahu kalo bakalan ada adegan kemunculan setan si Ibu, tapi kita tetep nungguin itu. Adegan waktu si ibu membunyikan lonceng misalnya, kita tahu pasti bakalan ada sesuatu mencekam yang muncul dilayar, kita bersiap buat nerima adegan itu dan Joko Anwar ngasih apa yang kita mau tanpa harus muter-muter kesana-sini.

Ibaratnya Joko Anwar ngomong ke kita “Lo mau horor? Lo mau gue takutin? Makan nih film!”

dmoz

dmoz

Heaven Knows I'm Miserable Now
dmoz

Latest posts by dmoz (see all)

  • Ady Permana

    With Darminah introduced at the end, can we say that 2017’s PS is the prequel of 1981?

    Mau tanya juga, scene Rini turun dari bis itu ngingetin sama scene KALA ga si, Dok? Scene Ibu-ibu hamil lari ngejar bis, perasaan kok lokasinya sama or is it just me?

    Satu lagi, agak kaget baca review ini, beberapa kalimat di atas bikin ketawa dan “HAH?” Berasa beda ga kaya biasanya yang bahasanya keliatan serius.

  • Kebon jahe

    Satu hal yang gua benci dari penonton Joko Anwar adalah, mereka terlalu sibuk mencari easter egg, sementara tidak sadar kalau akal sehat mereka sedang diperkosa oleh Joko.

    Penonton Joko Anwar sibuk bermasturbasi dengan mengait-ngaitkan kalimat si Bapak yang bilang kalau dia “memang tidak sholat” ke Ustadz dan pertanyaan kentang Rini ke Bapak yang tak berbalas, “Ba… pak… ngomong… a… pa… ke… I… bu…,” sebagai indikasi bahwa si Bapak juga (justru?) si pengabdi setan.

    Sementara, penonton abai dengan kalimat-kalimat gak masuk akal yang ngebuat gua geleng kepala. Misal: ucapan Hendra ke Rini yang kurang lebihnya, “Saya melihat sesosok perempuan ketika pemakaman Ibu. Malam harinya, saya kembali ke kuburan untuk memastikan. Tapi ternyata, perempuan itu tidak ada.” Menurut nganaaaa….

  • Ada Darminah kok, mas