Home » Dan at The Movies » BLADE RUNNER 2049 (2017)

BLADE RUNNER 2049 (2017)

BLADE RUNNER 2049: A HIGH CONCEPT SEQUEL THAT HOLDS THE CULT LEGACY TO ITS PREDECESSOR
Sutradara: Denis Villeneuve
Produksi: Alcon Entertainment, Columbia Pictures, Scott Free Productions, Torridon Films, 16:14 Entertainment, Thunderbird Entertainment, Warner Bros., 2017

Image: impawards.com

Dalam industri seperti Hollywood, sekuel hampir tak pernah jadi hal yang sulit. Bahkan beberapa yang berada dalam rentang waktu sangat panjang. Tapi mungkin akan beda kala pendahulunya punya status benar-benar tak statis seperti Blade Runner (1982). Berkembang dari sebuah sci-fi eksperimental, nyaris sangat filosofis dari seorang Ridley Scott, yang tak pernah dipandang terlalu hebat di eranya tapi berkembang seiring lintas generasi dengan status cult classic oleh banyak pemuja, masalahnya akan jadi sangat tak biasa. Sementara bagi pemirsa awam lainnya di era sekarang yang mencoba mengaksesnya pertama kali, kecuali nama Harrison Ford, persepsinya mungkin akan tetap dianggap sebagai film aneh.

Sekarang sebut semua anggapan yang ada atas pencapaiannya. Di ranah fiksi ilmiah neo-noir, Blade Runner yang merupakan adaptasi lepas dari novel berjudul Do Androids Dream of Electric Sheep? karya maestro sci-fi Phillip K. Dick, adalah pionir. Dalam balutan steampunk, dieselpunk, cyberpunk atau banyak pandangan berbeda, ia juga pionir. Dalam subgenre sci-fi soal android replicant; walau sebelumnya bukan tak ada, pun begitu. Belum lagi soal soundtrack Vangelis yang mungkin sampai sekarang tak pernah bisa terulang, berbagai penghargaan yang diraihnya serta biasan pengaruhnya ke banyak karya-karya sci-fi dalam cakupan dunia bahkan pop kultur hiburan lain. Pendeknya, estetika yang ada di balik kompleksitas tema berikut visual ground-breaking dari Jordan Cronenweth, yang sampai menciptakan 7 ragam versi dari theatrical release, director’s cut ke final cut di perayaan ultah ke 25-nya, memang sulit untuk dipungkiri.

Adalah Denis Villeneuve pada akhirnya yang berhasil mendapat lampu hijau untuk melanjutkan sekuelnya setelah rencana panjang dari akhir ‘90an, bergonta-ganti dari Ridley Scott, Tony Scott hingga sempat – isu ke Christopher Nolan. Bersama satu dari penulis orisinalnya, Hampton Fancher (hanya punya segelintir karya lain setelahnya, salah satunya The Mighty Quinn yang diperankan Denzel Washington dan tak pernah terlalu dikenal orang) yang kembali, juga Ridley Scott di porsi produser eksekutif, satu kata yang mencuat adalah ambisius. Tiga film pendek sebagai jembatan kontinuitas menjelaskan detil rentang waktu 30 tahun menjadi bagian dari marketing gimmick-nya.

Ada anime berjudul Blade Runner Black Out 2022 yang disutradarai Shinichirō Watanabe – membawa aktor Edward James Olmos dari film orisinalnya, serta dua live action short 2036: Nexus Dawn dari sutradara Luke Scott (putra Ridley Scott) yang mengisahkan kehadiran replicant Nexus-9 serta 2048: Nowhere to Run dari Ridley Scott sendiri, yang mengenalkan karakter Sapper Morton (Dave Bautista), replicant yang muncul di awal sekuelnya.

Berlanjut ke tahun 2049 sesuai judulnya, sebuah introduksi soal replicant dan bencana ‘blackout’ itu membawa kita ke karakter K, seorang Blade Runner untuk LAPD (diperankan Ryan Gosling) yang hidup bersama teman holografiknya, Joi (Ana de Armas). Investigasi K terhadap gerakan replicant pemberontak membawanya pada penemuan tak biasa soal jejak seorang replicant wanita yang meninggal ketika melahirkan. Menutupi hal yang dianggap jadi ancaman ini, atasannya, Letnan Joshi (Robin Wright) mengirim K untuk mencari sang anak ke pabrik replicant milik Niander Wallace (Jared Leto), yang lantas menyuruh algojonya, Luv (Sylvia Hoeks) membuntuti K. Perlahan, misi ini membuat K mulai menyadari masa lalunya, apalagi setelah ia menjumpai perancang memori, dr. Ana Stelline (Carla Juri). Berada dalam pelarian dari kejaran Luv, K pun bergerak melanjutkan investigasinya ke reruntuhan Las Vegas buat mencari keberadaan Rick Deckard (Harrison Ford); seorang Blade Runner yang memegang kunci dari jawaban yang dicari K selama ini.

Cukup mengejutkan kala atmosfer neo-noir dan kekuatan visual yang tetap dipertahankan dengan sangat kuat di sekuel ini (oleh award winning DoP Roger Deakins; juga bekerjasama dengan Villeneuve sebagai salah satu elemen terkuat di Prisoners) dibawa oleh Villeneuve bersama dua penulisnya, Hampton Fancher dan Michael Green (Logan, Murder on the Orient Express) ke ranah yang benar-benar ada di konklusi tak terduga dari elemen-elemen aslinya.

Di satu sisi, bangunan kontinuitas yang dibangun di atas percampuran padu storytelling serta pace inkonvensional (kalau tak mau menyebutnya lamban dan cenderung bertele-tele) Blade Runner dengan signature Villeneuve memang sangat layak buat mendapat pujian. Bahwa mereka benar-benar menggali kompleksitas yang ada di film pendahulunya dengan kecermatan tinggi dari penggunaan footage, kontinuitas props hingga ke komposisi baru scoring yang dibesut Hans Zimmer dan Benjamin Wallfisch (setelah Johann Johansson keluar dari proyeknya) di atas penghormatan tinggi ke versi Vangelis. Bersama perjalanan tak biasa di genre-nya, memadukan high art dengan cyberpunk sci-fi, tetap ada sejumlah adegan aksi yang meski menghentak namun masih jauh dari pola boom-bang blockbusters biasanya, apalagi untuk membuat statusnya menjadi sebuah sci-fi action yang lagi-lagi dipromosikan salah arah lewat poster atau trailer-nya, satu yang sangat biasa terjadi di film-film Villeneuve.

Namun di sisi lain, storytelling dan pace ini memang kerap jatuh kelewat inkonvensional hingga berpotensi membuat sebagian pemirsanya, terutama yang belum pernah mengakses film orisinalnya bisa merasa bosan setengah mati. Ranah konklusinya pun kalau benar-benar mau dirunut lewat benang merah, meski relevan tapi sebenarnya melarikan sekuel ini dari esensi asli baik pendahulu maupun source-nya. Walau bukan berarti tak mengejutkan, juga menyemat stunning cameo dari salah satu karakter penting di Blade Runner, resiko terbesarnya ada pada bentukan karakter Deckard yang akhirnya muncul kurang konsisten walaupun dimainkan dengan sangat baik oleh Ford.

Setup terhadap kemunculan Deckard kembali sudah diawali dengan sangat menarik namun lantas berjalan melenceng cukup jauh dari Deckard yang selama ini melekat di benak kita. Instead, Deckard dalam sekuel ini malah menjadi sosok mirip Han Solo tua dalam versi dramatis di balik motivasi dan interkoneksi terhadap Leia versi berbeda. Padahal, film pertamanya hampir tak pernah diingat lewat elemen dramatis seperti ini, melainkan cenderung lebih ke sebuah filosofi fiksi ilmiah soal identitas dan eksistensi. Tapi inilah Villeneuve dengan salah satu signature yang mungkin tak banyak dikenali bahkan oleh penggemar fanatiknya; bahwa dalam genre dan tema apapun, ia tak pernah lepas dari elemen-elemen kontemplatif soal keluarga dan mungkin, cinta.

Menggantikan porsi lead Harrison Ford di predesesornya, Ryan Gosling tampil sangat kuat sebagai Blade Runner yang terombang-ambing di balik investigasinya sendiri, selagi trik marketing-nya lebih mempertanyakan status Deckard sebagai manusia atau replicant. Ketangguhan karakternya di Drive mampu membaur dengan sensitivitas kala kebutuhan adegannya mengharuskan Gosling bermain dengan ekspresinya. Sementara Jared Leto bermain menarik sebagai Niander Wallace, dan ada daya tarik tambah dari porsi peran Robin Wright dan Ana de Armas, yang muncul paling menarik perhatian justru Sylvia Hoeks, aktris Belanda yang baru kita lihat dalam sebagai cewek tangguh di antara dominasi pria di Renegades. Tak ada penelusuran mendalam dari karakterisasi tipisnya, namun gesturnya memerankan villain rasanya mampu menyaingi karakter paling iconic di film pertamanya, yang sama-sama diperankan aktor Belanda Rutger Hauer, walau jelas karakter Hauer di Blade Runner punya kedalaman luar biasa.

Thus, walaupun punya sejumlah inkonsistensi yang memang akan berakhir ke resepsi-resepsi sangat relatif di atas bangunan kontinuitasnya, sulit untuk tidak mengakui bahwa Blade Runner 2049 adalah sebuah high concept sequel yang sangat berhasil digagas dengan kecermatan tinggi. Villeneuve mungkin bisa saja menekan ego ambisiusnya untuk mempersingkat durasi lebih dari 160 menit dengan resiko melelahkan itu untuk tak berlama-lama sampai ke perjalanan menuju babak ketiga ataupun satu jam durasi akhirnya yang sangat mencengkeram, namun lagi-lagi, ini punya relevansi baik ke pace inkonvensional film pertama sekaligus signature Villeneuve sendiri. Yang jelas, satu hal tak terbantahkan dari Blade Runner 2049 adalah bahwa ia memang berhasil meneruskan kelangsungan status klasik pendahulunya sebagaimana plot-nya mendasari sebuah pertanyaan soal eksistensi. A high concept sequel that holds the cult legacy to its predecessor. (dan)

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter

Latest posts by danieldokter (see all)