Home » Dan at The Movies » MERAH PUTIH MEMANGGIL (2017)

MERAH PUTIH MEMANGGIL (2017)

MERAH PUTIH MEMANGGIL: A RARE ACTUAL MILITARY ACTION AND WEAPONRY DEFENSE SYSTEM SHOWCASE
Sutradara: Mirwan Suwarso
Produksi: TB Silalahi Center, 2017

Kecuali film perang historikal, tak banyak mungkin film, baik luar maupun lokal, yang mengangkat tema-tema militer dengan dukungan penuh korps-nya. Dan memang beda kala genrenya bukan biopic, dukungan ini memang bisa punya efek saling bertolak belakang ke filmnya sendiri, yang artinya kalau tidak digarap dengan benar, akan bisa jatuh seperti sebuah recruitment PSA yang jelas tak diinginkan banyak orang di balik label-label pesanan dan sejenisnya. Dulu pernah ada drama Bersemi di Lembah Tidar (1981) arahan Franky Rorimpandey yang berlatar AKABRI, atau Perwira dan Ksatria (1991) yang disutradarai Norman Benny dan berada di bawah arahan Dispenau, misalnya.

Merah Putih Memanggil, film dengan judul patriotis yang digagas T.B. (Tiopan Bernhard) Silalahi, salah satu tokoh Batak berpangkat Letjen (Purn) yang datang dari latar karir TNI dan merupakan mantan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara di Kabinet Pembangunan VI, yang juga gemar menulis dan karyanya sudah kita saksikan lewat Toba Dreams (2015), untungnya tergolong film dalam genre sejenis yang bisa menggunakan semua potensinya dengan efektif.

Lebih berupa military action showcase seperti Act of Valor (2012) yang mengetengahkan aksi Navy SEALs, Merah Putih Memanggil juga dengan cermat memanfaatkan plotnya untuk diiringi pameran Alutsista (Alat Utama Sistem Pertahanan) berupa persenjataan yang digunakan TNI dalam tujuan pertahahan negara. Dalam hal ini, mungkin Merah Putih Memanggil merupakan film lokal pertama yang mengangkat sisi pamerannya secara live serta komprehensif, tapi bisa membentuk paduan pas buat mengiringi plot penyelamatan sanderanya.

Pembajakan terhadap sebuah kapal pesiar berbendera Indonesia oleh sekumpulan teroris internasional berujung pada penyekapan 7 awaknya yang berbeda-beda kewarganegaraan termasuk Indonesia (salah satunya diperankan Mentari De Marelle) di Pulau Tenggol, bagian selatan negara tetangga. Demi keselamatan warganya, TNI pun melakukan pendekatan untuk sebuah operasi gabungan yang dibatasi dalam waktu 48 jam. Operasi tertutup/pendadakan TNI AD dengan tim dari Batalyon Anti Teror Kopassus dipimpin oleh Kapten Nurman (Maruli Tampubolon) bersama anggotanya (Verdy Bhawanta, Prisia Nasution, bersama prajurit-prajurit TNI asli) yang diterjunkan pun mulai beraksi melawan pimpinan teroris (Ariyo Wahab), tangan kanan (Restu Sinaga) berikut seluruh kawanannya. Menyusuri hutan untuk membawa para sandera ke titik-titik penyelamatan sambil berusaha menyelamatkan mereka hidup-hidup, operasi ini akhirnya juga melibatkan pesawat tempur TNI AU serta TNI AL dengan kapal perang dan Operasi Kopaska/Pasukan Katak Batalyon Marinir.

Walau tetap menyemat latar dramatisasi beberapa karakternya (salah satunya ikut menampilkan aktris Happy Salma), skrip yang ditulis sendiri oleh T.B. Silalahi memang hanya menggunakan selipan-selipan itu sebagai back story untuk menegaskan tendensinya ke sebuah epos kepahlawanan TNI berlatar action dengan setting modern. Sutradara Mirwan Suwarso yang lama tak terdengar setelah sempat membuat The Golden Goal!, produksi joint venture yang urung tayang dan Susahnya Jadi Perawan (juga menampilkan Restu Sinaga) ternyata mampu menggarap adegan-adegan operasi militer dan aksinya dengan cukup baik.

Sayang memang latar karakter para sandera lintas kewarganegaraan hingga duet AriyoRestu sebagai pentolan teroris dengan bahasa Inggris berdialek latin tak diekspos lebih detil, dan juga terkadang tak konsisten di bagian-bagian awal, namun paling tidak, komposisi ini, berikut kiprah TNI di luar jurisdiksi untuk menyelamatkan warganya, paling tidak membuat penelusuran plot-nya menjadi berbeda dan mau menampilkan value lebih dalam cakupan internasional.

Yang jauh lebih menarik adalah treatment soal operasi dan usaha penyelamatan di atas konflik TNI dengan teroris-terorisnya. Ada detil-detil tentang usaha taktikal militer melintasi jurisdiksi dengan menanggalkan identitas dan atribut lainnya, yang juga berdampak ke sempalan konflik intern di pihak musuh. Dan bagusnya, semua dimunculkan dengan baik dan sangat terlihat berada di bawah supervisi dan pengaturan langsung dari korpsnya. Aksi cat and mouse serta baku tembaknya muncul cukup seru walaupun tak ditambah dengan lebih banyak lagi hand-to-hand combat di balik potensi Verdy Bhawanta, real life fighter yang sebelumnya sudah kita lihat di Pirate Brothers.

Selain itu, tentu saja gelaran pameran alutsista-nya yang secara rapi dikemas dengan efektif, bukan hanya sekedar gimmick. Ada banyak sekali selipan detil sarana dan persenjataan militer bahkan menampilkan command center hingga kapal perang, pasukan amfibi, helikopter dan pesawat tempur, yang benar-benar bisa mengangkat level-nya menjadi cukup kolosal. Teknisnya pun sama baiknya. Sinematografi dari Donny Firdaus (Susahnya Jadi Perawan dan Cewek Saweran, salah satu hidden gem di film kita) dan Steve Mason muncul dengan shot-shot yang sangat mendukung ketegangan tiap gelaran aksinya, efek khusus dari Aimbrella dan Jojo Replace juga muncul dengan cukup proporsional tanpa pernah terlihat mengganggu, juga scoring menghentak dari Aksan Sjuman, terutama di bagian-bagian klimaks yang memuncak dengan seru. Tentu ada pelengkap patriotis sebagai penutup, namun dalam tendensinya, ini memang diperlukan, apalagi menyambut momen rilis tepat di HUT TNI.

Bermain sebagai Kapten Nurman dan anggota timnya, Maruli Tampubolon, Prisia Nasution dan Verdy Bhawanta tampil dengan gestur militer yang meyakinkan. Begitu pula, prajurit-prajurit TNI asli yang diboyong ke dalamnya dalam porsi lebih, cukup bisa berakting dengan baik. Sebagai karakter musuh, kecuali dialek yang tak begitu konsisten di awal tapi membaik menjelang klimaksnya, Ariyo dan Restu , di balik tata rias penuh scar-nya pun tampil cukup bagus.

Seperti konsep berbeda yang diusungnya, semua elemen-elemen ini memang cukup berhasil membentuk Merah Putih Memanggil sebagai sebuah rarity di film Indonesia. Sayang sekali rasanya ia tak dipromosikan lebih gencar lagi untuk bisa menggamit lebih banyak pemirsa kita di momen penting perayaan HUT TNI tahun ini. A rare actual military action and weaponry defense system showcase, Merah Putih Memanggil is both effective and hard-hitting. (dan)