Home » Events » SELEBRASI 100 TAHUN ANIME DI KYOTO INTERNATIONAL FILM AND ART FESTIVAL 2017

SELEBRASI 100 TAHUN ANIME DI KYOTO INTERNATIONAL FILM AND ART FESTIVAL 2017

©2017 kiff.kyoto.jp

2017 merupakan tahun penting bagi keberadaan animasi Jepang yang dikenal dengan istilah anime, untuk memperingati 100 tahun sejak anime pertama kali ditayangkan di negaranya pada tahun 1917. Perkembangan anime selama 100 tahun sudah menjadi bagian signifikan dalam kultur Jepang. Membentuk ciri dan juga salah satu identitas visual terbesar sinema mereka, belum lagi berbicara soal pengaruhnya ke seluruh dunia. Di sini, memasuki generasi ‘90an, anime dan manga sukses menggantikan pengaruh komik Eropa dan animasi Amerika.

Kyoto International Film and Art Festival (KIFF), di edisi tahun ini juga tak mau ketinggalan menyorot momen penting tersebut. Menjadi kali pertama segmen animasi diadakan dalam line up festivalnya, bukan hanya penayangan sejumlah film-film anime panjang dan pendek yang akan digelar selama perhelatannya, tapi juga event-event terkait seperti simposium dan talkshow sebagai peletak dasar pengembangan industri anime yang digagas Yoshimoto Kogyo dalam keterkaitan terhadap kultur wisata, khususnya keberadaan Kyoto dalam skala industri anime yang mungkin agak berbeda dengan Tokyo.

Sebagaimana yang kita ketahui, alasan banyak turis dari seluruh dunia datang ke Jepang juga untuk menikmati sejarah anime lewat museum dan tempat-tempat yang menyatukan budaya hiburan dengan wisata. Sebut di antaranya dari Museum Ghibli yang tiketnya harus dibeli berbulan-bulan sebelumnya, Doraemon hingga theme park sekelas Disneyland dan Universal Studios yang juga memasukkan anime ke dalam deretan wahana mereka di Jepang.

Dalam simposium yang digelar di hari kedua KIFF 2017, Chairman KIFF Ichiya Nakamura mengangkat topik Anime Tourism, wisata anime bersama konsep dasar menggabungkan tiga hal penting yang saling terkait di dalamnya; anime, wisata dan kultur tradisional Kyoto sebagai salah satu prefektur dengan situs bersejarah terbanyak di Jepang, juga dulu merupakan pusat pemerintahan dan budaya Jepang.

Sebagai penyelenggaranya, mereka memilih anime The Eccentric Family (Uchuoten Kazoku) yang diangkat dari novel berjudul sama karya Mihiko Morimoto untuk menjadi duta anime Kyoto yang mereka namakan ‘Special Kyoto Goodwill Ambassador’ atas plot yang mengangkat Kyoto modern sebagai latarnya. Simposium tersebut menampilkan tiga pembicara selain Nakamura, Dai Kusaki dari Badan Pariwisata Kyoto, Takayoshi Yamamura, profesor dari Hokkaido University Center for Advance Tourism Studies dan Nobuhiro Kikuchi, direktur eksekutif dari Progressive Animation Works yang berbasis di Toyama.

Membidik kecenderungan turis mengakses museum dan wahana anime tadi, Yamamura mengatakan bahwa gerakan Anime Tourism ini akan diresmikan menjadi bagian penting selain daya tarik situs-situs wisata dan kultur pop lain seperti musik dan film Jepang. Kyoto, menurutnya lagi memiliki potensi pengembangan elemen-elemen modern tanpa kehilangan semangat tradisi yang terus dipertahankan bersama keberadaan potensi wisatanya.

Kasuki kemudian menambahkan bahwa Kyoto juga merupakan tempat yang tepat untuk mengembangkan anime karena selain ada 38 sekolah anime, Toei Studio Park, sering disebut Eigamura (Movie Village) yang menjadi salah satu sasaran turis untuk mengunjungi set yang banyak dipakai untuk film-film Jidaigeki, juga menjadi basis produksi banyak animasi lain hingga Nintendo. Kyoto juga punya museum manga internasional (Kyoto International Manga Museum) yang menurut data badan pariwisata mereka bisa meraih 2,7 juta pengunjung setiap tahunnya. Ada pula pasar manga/anime tahunan yang menurut mereka mampu meraup rata-rata 44.000 pelaku bisnisnya per tahun.

Nobuhiro Kikuchi dari Progressive Animation Works, PH anime yang memproduksi The Eccentric Family, yang pekerjaan sehari-harinya terhubung langsung dengan penciptaan anime, juga percaya bahwa industri anime akan berkembang semakin besar dengan adanya budaya-budaya baru seperti merchandise, cosplay, sementara manga dan games juga merupakan elemen yang menyatu dan terus berkembang dengan industrinya. Ia lalu menyebutkan proses reproduksi dalam pembuatan anime jauh lebih mudah dibandingkan film-film live action.

Secara terpisah, talkshow yang menampikan Kikuchi dan Progressive Animation Works di teater bersejarah Minami-za, juga menjadi benang merah keterkaitan anime, yang belum pernah ditayangkan di sana selama sejarahnya, dengan pelestarian budaya dan situs-situs tradisional bersejarah di Kyoto. Ia kembali menegaskan bahwa animasi merupakan amunisi ampuh untuk mendatangkan lebih banyak lagi turis ke Kyoto.

©2017 kiff.kyoto.jp

Sejumlah film animasi yang ditayangkan selama KIFF berlangsung adalah The Dog of Flanders (Yoshio Kuroda, 1997), Rurouni Kenshin: Trust and Betrayal (Kazuhiro Furuhashi, 1999), Hakuoki: Demon of the Fleeting Blossom – Wild Dance of Kyoto (Osamu Yamazaki, 2013), I Want to Let You Know that I Love You (Tetsuya Yanagisawa, 2016), kumpulan animasi pendek dari G9+1 Project (grup penulis animasi tertua di Jepang), serta antologi Anime Tango 2016, karya 4 sutradara anime muda pemenang proyek Young Animator Development Project dari pemerintah mereka.

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter

Latest posts by danieldokter (see all)