Home » Dan at The Movies » THE STAND-IN THIEF (DOROBOU YAKUSHA): KYOTO REVIEW (2017)

THE STAND-IN THIEF (DOROBOU YAKUSHA): KYOTO REVIEW (2017)

THE STAND-IN THIEF (DOROBOU YAKUSHA): CHAOS COMEDY WITH TONS OF HEARTS
Sutradara: Masafumi Nishida
Produksi: Yoshimoto Creative Agency Co., Ltd., 2017

Dikenal sebagai perusahaan hiburan terbesar di Jepang yang punya fokus ke pengembangan talenta-talenta komedi, Yoshimoto Creative Agency masih terus konsisten memproduksi film-film mereka sebagai platform untuk talenta-talentanya. Namun di samping itu, mereka juga punya kesadaran besar untuk memanfaatkan talenta hiburan lain termasuk satu yang paling sering, dari ranah musik maupun komedi panggung.

The Stand-In Thief yang ditayangkan dalam treatment world premiere di Kyoto International Film and Art Festival (KIFF) 2017 sebelum menjadi line up Tokyo International Film Festival (TIFF/TIFFJP) juga memanfaatkan kombinasi dari dua ranah itu sebagai elemen terbesarnya. Diangkat dari drama/komedi panggung berjudul Dorobou Yakusha yang ditulis langsung oleh sutradaranya, Masafumi Nishida di tahun 2008, versi layar lebar ini membawa idola Jepang; anggota grup idol Kanjani Eight sekaligus host dan aktor Ryuhei Maruyama dalam peran solo utama pertamanya. Maruyama juga aktif di sejumlah lakon panggung selain bermain dalam banyak drama TV dan beberapa film layar lebar.

Menuangkan konsep panggung soal chaos comedy, komedi yang dipantik dengan plot penuh kekacauan, The Stand-In Thief termasuk konten yang sebenarnya cukup beresiko untuk dibawa ke layar lebar. Nasib Hajime (diperankan Ryuhei Maruyama), pemuda berusia 20-an yang punya latar buruk sebagai yatim piatu dan pernah dipenjara ketika remaja, tak kunjung membaik walaupun sudah punya pekerjaan dan kekasih. Pasalnya, rekan kriminalnya, Norio (Daisuke Miyagawa) justru memperalat Hajime dengan rahasia masa lalu itu. Tak bisa menolak kala diserahi tugas merampok rumah orang kaya yang ternyata adalah milik Maezono (Masachika Ichimura), penulis buku anak-anak yang dikaguminya namun tengah terserang writer’s block, rencana ini berjalan semakin kacau saat sejumlah orang ikut berinteraksi di dalam kekacauan yang mengharuskan mereka saling menipu satu sama lain. Selain Norio, ada Oku (Anna Ishibashi), editor cantik di bawah tekanan atasannya, juga salesman door to door Todoroki (Yusuke Santamaria), soerang ayah yang tak kalah bermasalah.

Kekuatan utama The Stand-In Thief memang terletak pada plot-nya. Tak mudah mungkin menggagas sebuah chaos comedy, comedy of errors, komedi kacau-kacauan atau apapun sebutannya, dengan karakter kuat di atas nyaris sebuah set tunggal untuk menggelar arena permainannya. Uniknya, Nishida bisa menuangkan kompleksitasnya ke dalam skrip yang sangat rapi menyemat tiap subplot yang tetap berada pada jalur tepat untuk memperkuat karakternya masing-masing.

Walau tetap harus bergantung pada komedi slapstick dan lucu-lucuan khas komedi kasar ala Jepang, hebatnya, The Stand-In Thief tak pernah sekalipun meninggalkan latar bentukan karakternya yang justru sangat dramatis, cenderung tragis dan berlawanan dengan permainan kekacauannya dalam bangunan komedi yang digelar Nishida. Konsep salah paham yang digelar sejak menit-menit awal dari interaksi karakternya bisa dijahit dengan proses pengenalan yang rapi plus gaya tutur kekinian yang dipenuhi gimmick, untuk akhirnya mengharuskan semua karakternya bergerak bersama secara efektif, sementara kekuatan emosinya bisa berjalan sama kuat menyelingi komedi yang tak pernah sekalipun mencoba terlihat kelewat pintar.

Ia tetap lucu saat bermain-main ke ranah slapstick, tapi bangunan dasarnya digagas secara situasional, dan semua tetap mampu mengundang tawa di tengah selipan haru yang bisa muncul sewaktu-waktu. Dan hebatnya lagi, Nishida benar-benar terlihat sangat menguasai subjek selayaknya seorang sutradara panggung. Ada sejumlah tracking shots yang efektif buat membangun komedi situasional yang dibatasi ruang sempit, nyaris seperti sebuah single set, namun dijaga tetap eye-catching dengan pengaturan artistik yang sangat baik.

Kekuatan ini juga terbangun dari penempatan cast yang tepat. Keseimbangan bentukan karakter yang ada di skrip cerdas itu mampu dibawakan dengan baik oleh semua karakternya, yang dikonsep Nishida di garis batas perbedaan jelas dan tak biasa; komedian Daisuke Miyagawa yang bermain serius sebagai antagonis, aktor senior Masachika Ichimura justru didapuk sangat komikal, dan di tengah-tengahnya ada MaruyamaIshibashi dan Santamaria yang bermain seimbang di antara serius dan komikal sebagai masing-masing karakternya.

3 tahun setelah debutnya yang juga cukup bagus di Oh Brother, Oh Sister! (2014), Nishida, yang juga hadir bersama Miyagawa dalam sesi Q&A setelah penayangan full-house The Stand-In Thief selesai di bioskop vintage Yoshimoto Gion Kagetsu, Kyoto, membuktikan bahwa ia mampu menuangkan lakon panggung ke layar lebar dengan efektif, dari skrip ke pengaturan lainnya, dan ini jelas bukan sesuatu yang mudah. Paling tidak, ini menunjukkan bahwa sebagai seorang sutradara muda, Nishida punya masa depan yang baik sekali di industrinya. Chaos comedy with tons of hearts, The Stand-In Thief akan membawa kita tertawa dengan mata berkaca-kaca di ujung akhirnya. (dan)

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter