Home » Dan at The Movies » HIBANA: SPARK: KYOTO REVIEW (2017)

HIBANA: SPARK: KYOTO REVIEW (2017)

HIBANA: SPARK: AN IRONIC DRAMA ABOUT COMEDY AND LIFE
Sutradara: Itsuji Itao
Produksi: Yoshimoto Agency Co., Ltd., 2017

©2017 kiff.kyoto.jp

Sebagai blockbuster unggulan produksi Yoshimoto tahun ini, Hibana: Spark versi layar lebar yang akan tayang November nanti mungkin memang punya nilai penting. Satu, karena sumbernya, novel pemenang hadiah Akutagawa karya Naoki Matayoshi, yang terjual sebanyak 3 juta kopi lebih berupa meta soal kanvas komedi gaya Jepang – Manzai, nyaris dianggap sebuah bible bagi komedian Jepang di ranah terbesar Yoshimoto. Kedua, versi mini seri 10 episodenya tahun lalu, selain merupakan kiprah awal Netflix mengangkat konten Jepang, juga tergolong adaptasi yang cukup sukses dan dikenal luas atas penayangannya di 190 negara.

Versi layar lebarnya kini berpindah dari empat sutradara mini serinya; Ryuichi Hiroki, Kazuya Shiraishi, Shuichi Okita, Shinji Kuma dan Yasunori Mouri, ke tangan aktor-komedian terkenal Itsuji Itao. Peran utama dalam mini seri itu; Kento Hayashi dan Kazuki Namioka, kini diperankan oleh Masaki Suda dan Kenta Kiritani. Tentu ada yang berubah dalam adaptasi mini seri 10 episode dengan versi layar lebar berdurasi 2 jam dalam sejumlah treatment-nya, walaupun garis besar plot-nya sama.

Manzai sendiri merupakan seni/subgenre komedi Jepang yang walau dalam sejarahnya dikenal berasal dari daerah Kansai, Osaka, sebenarnya dianggap mengadopsi komedi kasar era Amerika klasik yang salah satunya dikenalkan duo Abbott & Costello. Budaya komedi, terutama komika yang kini berkembang di berbagai negara, memang memunculkan banyak gaya dan adopsi berbeda. Berbeda dari standup comedian tunggal yang jadi trend sekarang termasuk di sini, Jepang melaju dengan Manzai yang lebih mengutamakan partnership; duo atau lebih; di mana satu berperan sebagai pengumpan, disebut tsukkomi dalam artian yang lebih pintar, dan boke (si bodoh) yang dijadikan bulan-bulanan untuk memancing tawa.

Hibana mengisahkan komika muda Tokunaga (Suda) yang menemukan mentorship-nya pada komedian senior Kamiya (Kiritani). Hubungan mereka kemudian berkembang dalam proses panjang selama 10 tahun, di tengah persahabatan, persaingan, cinta dan pengkhianatan dalam dunia panggung komedi Jepang di mana setiap orang berjuang untuk tujuan dan kepentingannya masing-masing.

Skrip yang ditulis oleh Itsuji Itao berdasar sumber sama dengan mini serinya memang terasa jauh lebih padat, tapi bukan berarti tak punya resiko. Bahwa pada akhirnya Hibana, meski tetap bermain seperti sebuah meta terhadap elemen-elemen penting seputar profesinya, pada hakikatnya bukanlah sebuah komedi melainkan drama yang justru cenderung bernada depresif. Di satu sisi ia tetap bisa terasa cukup universal mengetengahkan problematika pelaku showbiz yang mana saja, soal talenta-talenta yang berjuang mati-matian mewujudkan mimpinya, namun sematan kultur yang sangat Jepang lewat subgenre komedi Manzai ini, bisa jadi memerlukan pemahaman lebih untuk tampil lebih komunikatif bagi pemirsa luar negaranya. Sebuah komedi, lagi-lagi, memang sangat bergantung secara relatif terhadap selera – suka atau tidak, bagi para pemirsanya.

Begitupun, secara filmis, skrip Hibana versi Itao, yang sebelum ini baru membuat dua film sekaligus penulisnya (Mask of Moonlight, 2011 dan The King of Jail Breakers, 2010) ini memang muncul sebagai sebuah ironi yang sama dengan inti novelnya. Ia boleh bercerita soal komika dan dunia komedi, tapi presentasinya secara keseluruhan memuat ironi terhadap komedi itu sendiri, kisah hubungan antar manusia yang kerap menyentuh banyak sisi gelap, melankolis dan cenderung depresif, namun tetap terasa manusiawi. Sebagai seorang komedian, Itao justru terlihat lebih leluasa bak pelaku profesinya yang tengah menyampaikan curhat soal perjalanan karir yang terhubung bagi banyak koleganya.

Di situ, ia menyemat karakterisasi serta latar yang kuat untuk dua karakter sentralnya. Tokunaga tergambar sebagai pemula muda anti kemapanan, meledak-ledak di tengah perbedaan visi namun dipicu kepentingan terhadap Kamiya yang lebih fokus serta idealis namun kerap memanfaatkan kepolosan Tokunaga secara manipulatif, termasuk dalam hubungan keduanya ke karakter-karakter lain. Juga dibawakan dengan kuat oleh Suda dan Kiritani termasuk ke performa Manzai walau mereka bukan komika, inilah yang berhasil menjadi kekuatan Hibana versi Itao dibanding versi mini serinya, bahwa ia bisa memanfaatkan ruang terbatas dalam durasi 2 jam untuk menyampaikan inti terpenting soal sebuah simbiosis secara efektif, dari batas tipis etika dan empati antar mentor dan protege-nya.

Masih ada performa bagus dari sederet pendukungnya, Fumino Kimura, Shuji Kawatani, Masaki Miura dan Ryo Kato, namun di ujung akhirnya, Hibana memang berhasil berbicara tentang banyak hal di seputar semesta nyata yang diangkatnya sebagai subjek. Sebuah drama ironis soal komedi, bahwa kala kita dibuat tertawa menyaksikan talenta-talenta ini melontarkan canda di atas panggung, seperti dua sisi koin bernama hidup, kita tak pernah tahu semua yang ada di baliknya. Life itself. (dan)

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter

Latest posts by danieldokter (see all)