Home » Dan at The Movies » SECRET SUPERSTAR (2017)

SECRET SUPERSTAR (2017)

SECRET SUPERSTAR: A GREAT, GREAT ODE TO DREAMS, MOTHERHOOD AND WOMEN’S EMPOWERMENT
Sutradara: Advait Chandan
Produksi: Aamir Khan Productions, Zee Studios, 2017

Image: rediff.com

Beranjak ke ranah produser lewat rumah produksinya sendiri – Aamir Khan Productions yang didirikan bersama istrinya Kiran Rao, lebih dari 10 tahun terakhir, film-film Aamir Khan, baik yang menempatkannya sebagai aktor maupun produser, selalu ditunggu karena hampir tak pernah meleset baik di box office maupun resepsi kritikus. Di situ juga ia seperti menyediakan jalan buat talenta-talenta muda buat jadi lebih besar di industrinya. Setelah Dangal yang mencetak banyak rekor di tahun kemarin, Secret Superstar yang terkesan jauh lebih low profile dalam sisi pemasarannya ini pun demikian.

Ada sutradara Advait Chandan, frontman produksinya yang masih berusia 30 tahun, yang notabene adalah ‘orang dalam’ di Aamir Khan Productions; dari pengawas katering, manager pribadi Aamir sekaligus asisten sutradara di Dhobi Ghat. Secret Superstar adalah murni gagasan Advait sendiri, yang tetap di-pitch melalui proses-proses ide lain ke rumah produksinya. Lantas tentu Zaira Wasim, talenta muda yang dalam pembuatan Dangal sebagai Geeta Phogat muda masih berusia 14 tahun sebagai lead yang langsung disetujui Advait atas usul Aamir, dan Meher Vij, aktris berusia 30-an yang meski sudah beberapa kali muncul di film layar lebar namun lebih dikenal dari kiprahnya di serial-serial TV populer.

Dari temanya sendiri, Secret Superstar sebenarnya tak terlihat begitu spesial. Sebuah kisah perjuangan seorang gadis remaja mewujudkan mimpinya di ranah tarik suara dengan bantuan sesosok superstar senior bermasalah, kalaulah tidak dengan sematan konten sosmed kekinian, sudah biasa dilihat di manapun. Bahkan yang mengaitkannya dengan kultur bertolak belakang, sudah pernah kita lihat di satir musikal Rock The Kasbah-nya Bill Murray.

Namun yang mungkin jadi kekuatan tak terduganya justru datang dari elemen-elemen yang serupa dengan Dangal, dalam trend sinema India yang tengah mengedepankan emansipasi dan pemberdayaan wanita, yang sering jadi korban dominasi pria terutama di daerah-daerah terbelakang. Bertahun-tahun berada di balik produksi-produksi Aamir sedikit banyaknya mungkin juga sudah membentuk sensitivitas yang sama pada gaya tutur Advait di debut penyutradaraannya ini, bahwa seperti distinct balance yang dibawa Aamir ke film-filmnya, dalam gerakan sinema Bollywood kontemporer, ia bisa menggaris batasan beda tanpa harus menahan elemen-elemen konvensional dari lagu ke sentuhan melodrama yang buat banyak orang bisa terasa sangat campy, tapi dimanfaatkan jadi sebuah penghubung komunikasi sedemikian kuat ke seluruh pangsa pemirsanya.

Lahir di sebuah keluarga menengah bawah di pinggiran Baroda, Gujarat, Insia Malik (diperankan dengan sangat, sangat mengagumkan oleh Wasim) punya mimpi atas talentanya menyanyi dan bermain gitar. Sayang, bakat ini bertentangan dengan prinsip ayahnya, Farookh (Raj Arjun) yang ortodoks, memperlakukan Insia sebagai anak perempuan dan adik laki-laki kecilnya, Guddu (Kabir Sajid) dengan beda sekaligus pelaku KDRT terhadap sang ibu, Najma (Meher Vij) yang seperti tak punya pilihan lain untuk menerima bulat-bulat perlakuan Farookh terhadapnya. Menjadi satu-satunya sosok yang selalu mendukung Insia secara sembunyi-sembunyi, Najma bahkan mendukung Insia mengunggah rekaman nyanyiannya ke youtube di balik sebuah burka yang lantas menjadi sensasi viral atas keberadaaan penyanyi misterius bernama Secret Superstar. Konflik keluarga disfungsional yang terpendam lama ini pun memuncak kala Insia akhirnya memilih berjuang demi mimpinya dengan bantuan Chintan (Farrukh Jaffer), teman sekolah yang menaruh perhatian padanya. Terbang ke Mumbai untuk menjumpai produser angkuh Shakti Kumar (Aamir Khan) yang tertarik dengan bakatnya, ia bahkan melangkah lebih jauh merencanakan suatu hal yang tak semestinya ia lakukan sebagai seorang anak, dan perlahan mulai membuka rahasia masa lalu tak terduga dari pilihan Najma selama ini.

Menjadi rilisan resmi Diwali tahun ini, Secret Superstar, dalam beberapa hal, mungkin malah punya titik tolak jauh lebih besar lagi dari apa yang ditampilkan Aamir di Dangal. Meski sekilas terlihat serupa dengan hanya mengganti gulat menjadi gitar dan laptop, ia muncul berbeda dengan Dangal yang masih menempatkan sosok pria sebagai subjek utama biopiknya. Secret Superstar sebenarnya tampil lebih murni sebagai female-driven story yang bukan berjuang demi mimpi pria atau menempati peran pria – tapi semurni-murni mimpi mereka di balik identitas gender-nya. Di baliknya, ini juga menjadi penegasan atas banyaknya talenta-talenta industri showbiz mereka yang datang dari penjuru terpencil dengan keterkungkungan adat atau tradisi. Tema perjuangan meraih mimpi dalam Secret Superstar menjadi sebuah aspek yang padu buat keseluruhan empowerment ideas yang mereka lontarkan.

Skrip yang ditulis sendiri oleh Advait memang punya sensitivitas sangat kuat menuturkan kompleksitas yang relevan, dan bisa jadi sangat relatable terhadap banyak orang di kultur dan tradisi-tradisi ortodoks serta diskriminatif yang sama, yang seringkali berjalan lintas generasi di sebuah keluarga. Hebatnya, gaya tutur itu tak lantas jadi tak efektif dengan kehati-hatiannya menyemat seluruh aspek yang ada dengan benar-benar detil. Paruh pertama Secret Superstar memang berjalan sangat konvensional seperti melodrama keluarga tearjerker, nyaris sebuah suffering porn yang kerap membuat jengah, meletakkan Najma dan Insia ke dalam kerangkeng nyaris tak terjamah dari perlakuan sadis Farookh – walaupun karakternya bukan lantas menjadi monster dalam arti sebenar-benarnya. Tetap ada handle manusiawi meski kita sebagai pemirsanya seakan diuji mengikuti gerilya mereka yang sewaktu-waktu punya konsekuensi tak terbayangkan, juga masih dalam pilihan penyajian serba konvensional. Ada setup-setup kecil yang berjalan sekelebat dan justru tersaji dengan tone agak bertolak belakang.

Namun bergerak dari titik interval/intermission-nya, paruh kedua Secret Superstar mulai dimainkan Advait dalam sensitivitas gaya tutur film-film Aamir Khan biasa, yang berbeda dengan produk Bollywood lain. Ia bahkan bisa seketika melenceng sangat liar menyemat elemen-elemen tambahan bukan saja ke atmosfer keluarga bak penjara itu, tapi juga merambah soal tradisi kawin paksa, hukum pernikahan/perceraian, diskriminasi kolot soal gender anak hingga sindiran ke industri hiburannya, buat melatari twists and turns yang meski tertebak, tapi prosesnya seringkali tak terduga lewat setup-setup kecil yang ternyata jadi pemantik penting ke konklusi akhirnya. Semua digelar Advait di atas relevansi kuat hingga ke karakter-karakter tambahan termasuk ke hubungan Insia dan Guddu, juga dengan Chintan di balik gambaran cinta pra-remaja berlatar sekolahan yang tampil begitu murni, manis dengan semua kepolosan yang ditampilkan.

Advait seakan sudah punya hitungan formula kapan ia harus meledakkan sumbu-sumbu yang diletakkannya lewat setup tadi, bahkan ke sematan empati terhadap karakter Shakti yang diperankan Aamir. Usual vs unusual, conventional vs unconventional, predictable but also unpredictable, paruh kedua ini bekerja seperti amunisi hebat yang perlahan tapi pasti mulai meledak, meledak dan meledak, membuat pertahanan emosi pemirsanya teraduk-aduk secara luar biasa di tengah senyum, tawa, tangis dan perasaan sesak dengan leher tercekat. A no holds –barred attempt yang terus menggempur pemirsanya hingga ke titik paling akhir yang meski tertebak tapi dimainkan dengan sangat solid oleh semua unsur penuturannya.

Bermain sebagai Insia, Zaira Wasim menunjukkan penampilan hebatnya di Dangal hanyalah sebuah appetizer. Tiap frame yang didominasi kemunculannya dikuasai Wasim bak seorang diva panggung yang hebat hingga ke salah satu adegan terkuatnya, kala Insia menyanyikan lagu Nachdi Phira (dinyanyikan Meghna Mishra) di studio Shakti. Chemistry sama dahsyat yang datang dari Meher Vij juga membuat elemen mother to daughter di filmnya berjalan kuat sejak awal buat diledakkan di bagian-bagian akhirnya, sementara aktor belia Farrukh Jaffer menampilkan charming sparks sebagai Chintan, juga aktor cilik Kabir Sajid yang muncul dengan menggemaskan sebagai Guddu.

Walau dengan tipikal karakter pelaku domestic violence biasanya, Raj Arjun bermain dalam batasan yang bagus sebagai Farookh, namun memang Aamir Khan sebagai Shakti Kumar yang tetap jadi highlight – daya jual terbaik Secret Superstar. Komikal dan luar biasa annoying, namun masih bisa memunculkan empati yang diperlukan terhadap karakter itu, Aamir justru seperti tengah menunjukkan kekuatan visi sangat tak biasa tapi selalu bekerja di film-filmnya, bak alien yang masuk ke sebuah society, tapi bisa membaur dengan sempurna ke tengah-tengahnya. Ia boleh berinovasi ke mana saja, tapi juga tak menanggalkan identitas Bollywood dengan melodrama mengharu-biru yang dimanfaatkan dengan benar buat menggugah emosi hingga kita tak lagi bisa berkata tidak.

Masih ada sinematografi yang sekilas terlihat biasa namun sangat menjelaskan perbedaan ruang gerak karakternya dari DoP dan sutradara veteran Anil Mehta, berikut iringan scoring dan lagu-lagu yang meski tak pernah se-spesial film-film Karan Johar tapi tetap bagus dari komposer Amit Trivedi. Elemen-elemen teknis ini juga sangat berperan dalam paduan cara tutur sangat tak biasa dari Advait di kelas produksi film-film Aamir Khan.

So, inilah memang kekuatan Secret Superstar di balik tampilan official poster yang terasa kurang niat dibandingkan teaser poster-nya yang jauh lebih baik. Juga kadang terjadi di sejumlah film kita, itu juga mungkin yang membuat Secret Superstar terlihat sangat membutuhkan word of mouth yang untungnya memang tergolong kencang di negaranya untuk mengangkat perolehan box office di hari kedua rilisnya. Kontennya sekilas boleh terlihat biasa, tapi aspek-aspek yang disemat ke dalamnya luar biasa kaya, apalagi buat disaksikan bersama oleh pemirsa wanita bersama ibu atau anak remaja mereka. You’ll ended up holding their hands and hugging them.

Tak hanya mengobarkan semangat buat gender yang seringkali berada di ranah perlakuan diskriminatif tradisi patriarkis buat tak berhenti mengejar impian mereka, juga soal pengorbanan dan kasih ibu yang tak berbatas seperti tendensi penghormatan yang terang-terang tertera di awal kredit akhirnya, di titik pengujungnya, ia mampu berbicara dengan lantang soal female empowerment lewat adegan simbolik yang kembali diulang ke sebuah penegasan penting. Urges women to stand and claim their window seats at all costs, Secret Superstar is a great, great ode to dreams, motherhood and women’s empowerment. Bagus sekali. (dan)

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter

Latest posts by danieldokter (see all)