Home » Dan at The Movies » RADIANCE (HIKARI): TOKYO REVIEW (2017)

RADIANCE (HIKARI): TOKYO REVIEW (2017)

RADIANCE (HIKARI): AN UNUSUALLY MOVING AND SUBTLE ROMANCE OF SENSORY IMPAIRMENT

Sutradara: Naomi Kawase

Produksi: Kino Films, Comme des Cinémas, 2017

Mungkin merupakan satu-satunya female auteur di sinema Jepang, Radiance (Hikari) merupakan entry kelima dari sutradara Naomi Kawase di Cannes ke-70 kemarin. Bersaing memperebutkan Palme d’Or, ia akhirnya mendapat anugerah The Prize of Ecumenical Jury. Masih berupa ko-produksi dengan Perancis, dengan signature naturalisnya, Kawase kini menyorot sebuah romansa di antara karakter-karakter sangat tak biasa dalam atmosfer melankolis – namun tidak melodramatis, yang sering hadir dalam karya-karya yang kerap bercerita soal kehilangan.

Dalam film berjudul asli Hikari (artinya Light/Cahaya) ini Kawase berbicara soal ‘rasa’ dari karakter Misako (diperankan Ayame Misaki), seorang penulis panduan audio film untuk pemirsa dengan gangguan penglihatan. Lewat sebuah proyek film yang tengah ia kerjakan – tentang seorang lelaki tua (Tatsuya Fuji) dan istrinya (Misuzu Kanno) yang menderita gangguan kejiwaan, Misako mendapat reaksi beragam dari pendengarnya, namun kritik yang sangat mengganggunya datang dari seorang fotografer paruh baya yang depresif Nakamori (Masatoshi Nagase) yang tengah kehilangan fungsi penglihatannya. Hubungan ini yang lantas berkembang di tengah sebuah konflik perseptif antara disabilitas fisik, namun jauh di dalamnya, kekosongan jiwa yang menanti buat terisi.

Bergerak pelan dengan atmosfer naturalis di signature Kawase menggarap film-filmnya, Radiance diwarnai banyak simbol terhadap aspek-aspek persepsi sensorik lewat visual dan desain suara yang mungkin memerlukan pemikiran lebih, namun tak sekalipun kehilangan komunikasi terhadap pemirsanya. Sinematografi indah garapan Arata Dodo yang banyak bermain di metafora gambar dan teknik pencahayaan buat menggambarkan sisi disabilitas itu mengalir mengantarkan chemistry yang terjalin secara perlahan antara dua karakter dengan usia berbeda jauh yang tak biasa kita saksikan dalam sebuah kisah romansa.

Desain naratif yang subtil termasuk dalam menggerakkan framing film dalam film berikut beberapa subplot buat membangun proses simbiosis, nyaris seperti cinta platonis antara Misako dan Nakamori itu, juga kerap diwarnai dengan closeup face shots dan angle-angle dinamis untuk menghadirkan detil-detil ekspresi serta gestur dan pergerakan kedua karakternya. Mengiringi emosi itu nyaris sempurna, scoring dari musisi/trumpeter jazz asal Lebanon, Ibrahim Maalouf, muncul dengan dominasi denting piano yang sejalan dengan puitisasi adegan-adegannya.

Misaki dan Nagase memainkan Misako dan Nakamori dengan sensitivitas akting luar biasa dalam turnover karakter mereka. Masih ada juga penampilan dua aktor senior Tatsuya Fuji dan Misuzu Kanno di subplot film dalam filmnya, juga Kazuko Shirakawa sebagai ibu Misako yang tengah berhadapan dengan masalah Alzheimer sebagai tambahan dramatisasinya. Namun jauh di balik itu, adalah kesesuaian harmoni yang lantas bisa menjalin semua koneksi dalam eksplorasi unik di antara dua dunia yang dibenturkan Kawase dalam skrip dan narasi konstektual itu. Radiance bukan hanya sekedar romansa yang dibalut dengan visualisasi indah, tapi lebih dari itu, adalah sebuah eksplorasi rasa yang sangat tak biasa. (dan)

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter

Latest posts by danieldokter (see all)