Home » Dan at The Movies » THOR: RAGNAROK (2017)

THOR: RAGNAROK (2017)

THOR: RAGNAROK: RUNS AMOK LIKE FLASH GORDON ON A DOPE
Sutradara: Taika Waititi
Produksi: Marvel Studios, Walt Disney Studios Motion Pictures, 2017

Image: impawards.com

If you still haven’t noticed, inilah digdaya Marvel melawan seterunya di genre superhero layar lebar. Bahwa di tangan seorang Kevin Feige, ia tak lagi memerlukan nakhoda lain buat mengeksplorasi sumbernya. Ada pola dan batasan yang jelas dalam tiap instalmennya, yang seperti merumuskan sebuah rumusan formula tepat guna saat elemen-elemen itu dimasukkan ke dalam satu persamaan.

Thor, mungkin merupakan deret paling random – meski bukan berarti tak efektif dari semua instalmen solo superhero mereka, hingga akhirnya mengilhami bentukan Aquaman di kolaborasi pesaingnya, Justice League – namun kita tahu tak akan mampu menyamai. Memindahkan kisah anak dewa ke aspek scifi yang kental dalam film pertamanya, sekuel Thor: The Dark World sudah mampu mengembalikan mitologi sumbernya ke dalam bentukan yang diinginkan fans-nya.

Ragnarok malah melarikannya lebih liar lagi ke ranah yang sebelumnya sudah mereka coba dalam Guardians of the Galaxy, namun tak persis serupa meski dengan elemen homage yang sama. Masuknya Taika Waititi, sutradara asal Selandia Baru yang dikenal lewat karya-karyanya yang nyeleneh dan sangat culture-oriented, lagi-lagi menunjukkan pilihan tepat untuk diversifikasi instalmen itu; sekaligus membuka peluang ke storyline Planet Hulk yang di atas kertas punya tingkat kesulitan tinggi untuk disandingkan bersama.

Ragnarok pun dimulai dua tahun setelah Pertempuran Sokovia di Age of Ultron. Thor (Chris Hemsworth) yang terperangkap oleh iblis api Surtur di balik sebuah ramalan kehancuran akhir zaman (Ragnarok; Nordic) bagi Asgard berhasil memperdaya Ragnarok dan kembali ke Asgard, hanya untuk mendapati kampung halamannya justru berada dalam bahaya besar atas ulah Loki (Tom Hiddleston). Tak lama, ia menemukan kenyataan bahwa kekalahan Surtur bukan berarti ia bisa menghindari Ragnarok dengan kehadiran Hela (Cate Blanchett), dewi kematian yang menyimpan rahasia masa lalu keluarganya. Kehilangan Mjolnir yang dihancurkan oleh Hela, Thor lantas terdampar kembali di Planet Sakaar di mana ia dijual sebagai budak belian oleh Scrapper 142 (Tessa Thompson) ke penguasa Sakaar The Grandmaster (Jeff Goldblum) dan harus menghadapi Hulk (Mark Ruffalo) yang amnesia dalam sebuah pertandingan gladiator yang tentu sulit dimenangkannya. Perlahan, Thor mulai meyakinkan Hulk sekaligus 142 yang ternyata adalah seorang Valkyrie dari Asgard untuk keluar dari Sakaar dan kembali ke Asgard untuk menempuh takdir menuntaskan semua apapun resikonya. Tentu saja, kehadiran Loki memperkeruh semua dengan kecenderungannya mengambil kesempatan dalam kesempitan.

Dua penulis komik Marvel, Craig Kyle dan kolaboratornya Christopher Yost yang juga berada di balik sederet animasi DTV (Direct-to-Video) Marvel bersama Eric Pearson membuktikan bahwa mereka ada dalam sinergisme sejalan dengan kiprah Taika Waititi memindahkan instalmen ke-3 Thor ke ranah scifi comedy. Ini tak jauh beda dengan Guardians of the Galaxy di atas homage-homage jelas ke Flash Gordon, Buck Rogers, Battlestar Galactica dan serangkaian scifi corny ‘80an, lengkap dengan sentuhan synth music dari Mark Mothersbaugh yang membawa kembali style-nya dalam band new wave Devo, hanya bedanya – Thor jelas punya benang merah kontinuitas beda selain digabungkan dengan elemen-elemen tambahan Freedom Fighters dalam genre-nya.

Sentuhan Waititi juga membuat perjalanan plot Ragnarok jadi luar biasa nyeleneh menyentuh ranah komedi plesetan seperti What We Do in the Shadows, namun tak sekalipun meleset di semua level-nya, sekaligus membawa Hulk ke eksplorasi yang belum pernah kita lihat sebelumnya. Begitu kentalnya permainan referensi itu hingga penggalan scoring serial lawas Hulk juga dimasukkan ke dalam komposisi Mothersbaugh. Mereka bahkan berani menggunakan The Immigrant Song-nya Led Zeppelin secara official buat menjustifikasi penggunaan yang lebih tepat ketimbang kesamaan komposisi Hans Zimmer dan Junkie XL dalam Wonder Woman theme. Selain itu, genre B myth action-adventure yang juga marak di ‘80an; dari 7 Magnificent Gladiators, Hundra, Ator dan banyak lagi, bahkan ke post-apocalyptic genre di era yang sama, juga ikut mewarnai Ragnarok buat membedakan batasnya dengan pendekatan murni space opera di Guardians of the Galaxy yang lebih mengambil template Star Wars dan ripoff-nya seperti Star Crash atau Battle Beyond the Stars.

Sebagai Thor, Chris Hemsworth menunjukkan dirinya makin masuk ke karakter Thor ke dalam eksplorasi lebih soal interaksinya ke Loki – tetap dibawakan dengan aura stylish rockstar/metal glam oleh Hiddleston, juga Ruffalo yang kian solid membawa Hulk keluar dari zona biasanya. Semua side characters dari skrip KyleYost dan Pearson juga berhasil dimunculkan dengan asyik tanpa mendistraksi Ragnarok sebagai instalmen solo milik Thor; dari Tessa Thompson yang paling mencuri perhatian sebagai Valkyrie, Jeff Goldblum, Karl Urban dan Idris Elba yang sudah lama ditunggu beraksi lebih banyak sebagai Heimdall, berikut kemunculan singkat Anthony Hopkins, Tadanobu Asano, Zachary Levy dan Ray Stevenson sebagai penyambung benang merahnya.

Masih ada pula cameo Sam Neill, saudara ChrisLuke Hemsworth bahkan Matt Damon yang diletakkan tak kalah nyeleneh serta tentu saja Stan Lee dan yang sudah banyak didengar sebelumnya, Benedict Cumberbatch sebagai cameo penting dalam kontinuitas The Avengers. Jangan lupakan juga Cate Blanchett yang tampil cukup kuat sebagai villain utama yang menyimpan garis darah penting ke sejarah Thor dan Asgard.

Meracik formulanya yang tak biasa, Thor: Ragnarok di tangan Waititi memang sekilas terlihat seperti main-main, namun sebenarnya punya potensi besar dalam pengembangan MCU menuju kolaborasi ketiga superhero-nya yang akan lebih penuh sesak lagi di Infinity War. Gimmick 3D-nya pun dimanfaatkan dengan sangat baik. Runs amok like Flash Gordon on a dope, Thor: Ragnarok took MCU to a never-before-seen level of adventure-madness, races in all the high gear. Hilarious! (dan)

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter

Latest posts by danieldokter (see all)