Home » Interview » “ANIME JUGA HARUS BISA MENGANGKAT TEMA-TEMA LEBIH REALISTIS” – WAWANCARA EKSKLUSIF TOKYO INTERNATIONAL FILM FESTIVAL KE-30 BERSAMA KEIICHI HARA

“ANIME JUGA HARUS BISA MENGANGKAT TEMA-TEMA LEBIH REALISTIS” – WAWANCARA EKSKLUSIF TOKYO INTERNATIONAL FILM FESTIVAL KE-30 BERSAMA KEIICHI HARA

©2017 TIFF

Dikenal sebagai sineas idealis yang sudah membawa identitas budaya Jepang lewat sudut pandang beragam, Keiichi Hara, sutradara kelahiran Tatebayashi, Gunma, Jepang, 58 tahun silam ini hadir dengan segmen khusus The World of Keiichi Hara untuk memperingati ulang tahun anime ke-100 di Tokyo International Film Festival (TIFF/TIFFJP) ke-30. Menjadi fokus animasi tahun ini setelah Mamoru Hosoda di tahun sebelumnya, Hara memulai karirnya lewat serial animasi TV Doraemon (1983-1986) sebagai sutradara dan storyboard artist, sebelum akhirnya memegang kendali serial Crayon Shin-chan dari tahun 1992 hingga 2004.

Di antaranya, Hara sudah membuat 4 anime layar lebar Doraemon, 13 anime layar lebar Crayon Shin-chan termasuk The Storm Called series dan sejumlah anime lain dari Mami the Psychic: Dancing Dolls in a Starry Sky (1988), Wow, The Kid Gang of Bandits (1991), Hello, Dynosis Kids!! (1993), Summer Days with Coo (2007), Colorful (2010), Miss Hokusai (2015), juga biopic live action Hajimari no Michi/Dawn of a Filmmaker: The Keisuke Kinoshita Story (2013).

Ulang tahun ke-30 TIFF juga sekaligus merupakan perayaan di angka yang sama untuk karir Hara sebagai sutradara. Ada total 8 filmnya yang ditayangkan selama TIFF berlangsung termasuk Mami the Psychic dan Hajimari no Michi yang mungkin belum terlalu banyak diakses oleh pemirsa luar Jepang, selain juga Special Talk Event dalam membahas retrospeksi 30 tahun karirnya di industri anime Jepang.

Berikut adalah kutipan wawancara eksklusif Keiichi Hara di TIFF ke-30:

Bisa ceritakan tentang first contact; pengalaman pertama Anda dengan dunia animasi?

Pengalaman pertama saya di dunia animasi adalah lewat anime di sebuah stasiun TV. Atom (karakter utama franchise Astro Boy), karakter kreasi Osamu Tezuka versi ‘60an adalah anime pertama yang saya saksikan. Saya tumbuh besar bersamanya, dan itu yang membuat saya tertarik untuk bekerja di industri anime.

Anda pernah datang menyambangi beberapa kota di Indonesia termasuk Jakarta dan Medan tahun 2012 membawa program berjudul sama; The World of Keiichi Hara dari The Japan Foundation, kalau Anda masih ingat. Saat itu Anda menayangkan Summer Days with Coo (河童のクゥと夏休み, 2007) dan Colorful (カラフル, 2010).

Ya, saya tentu masih ingat Indonesia (tersenyum).

©2017 TIFF

Kecuali Doraemon dan Shin-chan, animasi karya Anda selalu bermain di ranah tak biasa dalam anime dengan subjek-subjek gelap; masa lalu tragis di Summer Days with Coo, bunuh diri dan penebusan jiwa di Colorful, bahkan tema dewasa soal lukisan erotis (shunga) dan lagi-lagi soal kematian di adaptasi manga terkenal Miss Hokusai. Bagaimana cara Anda menangani subjek-subjek seperti ini ke dalam presentasi anime?

Berbeda dengan Summer Days with Coo yang merupakan karya personal saya (Hara juga menulis skrip dan storyboard-nya selain menyutradarai), Colorful sebenarnya adalah proyek pihak lain (penulis Eto Mori dan studio SunriseAscension animation studio) yang disodorkan ke saya untuk disutradarai. Tema gelap dan ceritanya yang kompleks justru saya rasakan sebagai tantangan yang harus saya terima, karena belum pernah atau jarang-jarang diangkat ke ranah anime. Secara pribadi, saya rasa anime hanyalah sebuah bentuk presentasi, jadi juga harus bisa mengetengahkan tema-tema yang lebih realistis bahkan gelap atau dewasa.

©2017 TIFF

Meskipun bermain di tema-tema seperti itu, selalu ada heart factor yang kuat di karya-karya Anda. Saya tak mau mengatakannya sebagai tearjerker, tapi memang Summer Days with Coo, Colorful dan Miss Hokusai punya sisi penceritaan sangat menyentuh yang bisa membuat pemirsanya menangis. Apakah ada cara tertentu untuk mempertahankan faktor ini untuk selalu hadir di karya-karya Anda?

Terima kasih (tersenyum). Saya membuat banyak film dalam diversifikasi genre yang sangat luas. Kalau mau memperhatikan lebih, emosi merupakan satu hal yang memang tetap saya pertahankan di karya-karya saya dan belum banyak berubah sepanjang karir dan film-film yang saya kerjakan. Faktor itu mungkin muncul karena saya selalu memegang teguh prinsip bahwa saya selalu mengerjakan film-film saya dengan jujur. Saya tidak mau membohongi diri sendiri saat memilih proyek-proyek yang ingin saya kerjakan. Baik dalam anime untuk tontonan keluarga ataupun yang menyentuh topik lebih serius, saya selalu mengusahakan ada keseimbangan yang saya sampaikan dalam keseluruhan penuturannya.

@2017 TIFF

Semua orang menyukai Doraemon dan Shin-chan sebagai icon-icon anime paling dikenal. Apa yang menurut Anda menjadi faktor utama daya tarik anime terutama dalam memperkenalkan budaya negara Anda?

Saya harus berbicara masalah budaya manga dan lagi-lagi harus menyebut nama Osamu Tezuka sebagai pionirnya. Tezuka bagi saya adalah orang pertama yang bisa menuangkan kultur penceritaan manga ke dalam dunia animasi/anime. Storytelling dan juga image making. Tanpa dia, anime tak akan menjadi budaya sebesar ini. Ini juga yang selanjutnya menjadi standar bagi banyak anime dalam pergerakannya bersama dasar budaya manga di Jepang, menjadi satu kesatuan dan berkembang lagi ke seluruh dunia dalam bentuk-bentuk dan diversifikasi berbeda, menjadikan identitas anime sangat luas seperti yang kita kenal sekarang.

©2017 TIFF

Selain anime, Anda juga membuat film live action Hajimari no Michi (2013) berdasarkan biografi filmmaker Jepang Keisuke Kinoshita. Bisa ceritakan sedikit mengenai hal ini?

Pembuatan animasi dan live action bagi seorang filmmaker jelas jauh berbeda. Dan jarang sineas yang memilih kedua-duanya sekaligus. Dalam animasi, kita biasanya punya banyak waktu untuk melakukan banyak inovasi, namun di film-film live action, semua harus berdasarkan skedul. Ada teamwork yang harus dijaga bersama ketatnya waktu berdasar bujet. Pengalaman pertama membuat live action saya rasakan sangat dipenuhi tekanan, namun di sisi lain – saya bisa merasakan suatu pengalaman berbeda di luar imajinasi saya sebelumnya di dunia animasi. Saya bisa menyaksikan akting para aktornya langsung, visual yang ditangkap oleh penata kamera juga sangat berbeda dalam menentukan penceritaan. Jadi ya, secara pribadi, bagi saya ini tetap merupakan pengalaman yang sangat menarik.

Ada kebiasaan unik yang sebelumnya sudah banyak diberitakan termasuk kala Anda mengunjungi Indonesia tahun 2012 silam, bahwa Anda memilih berada jauh dari teknologi, tidak menggunakan ponsel, email ataupun sosmed dalam kehidupan sehari-hari. Apakah kebiasaan itu masih berlangsung hingga sekarang?

Ya, masih. Sejujurnya, saya tidak pernah memiliki ponsel bahkan hingga sekarang, juga komputer pribadi untuk mengakses teknologi-teknologinya secara personal. Ini sebenarnya bukan prinsip ataupun aturan baku bagi saya, hanya pilihan gaya hidup saja dan saya merasa tidak punya kesulitan apapun hidup tanpa barang-barang yang sekarang menjadi kewajiban bagi banyak orang ini. Saya merasa kreativitas, inspirasi dan ide-ide yang datang kala saya misalnya berada dalam kereta ataupun berjalan-jalan (Hara senang melakukan traveling untuk mencari ide, bahkan mengunjungi Flores) datang dari pengamatan dan apa yang saya lihat sepanjang aktivitas itu. Jika saya terus-terusan melihat ponsel saya rasa akan sulit bagi saya untuk mendapatkan apa yang selama ini memberikan inspirasi bagi saya. Lagi-lagi, saya tidak mau mengatakan bahwa saya anti mengakses teknologi tersebut, hanya saja untuk saat ini saya rasa ada keuntungan yang saya dapatkan dengan pilihan itu (tersenyum).

©2017 TIFF

Sepanjang 30 tahun berkarir, apakah masih ada impian ada yang belum tercapai di dunia film atau animasi? Kalau ada, apa yang menjadi harapan Anda?

Sejujurnya, saya merasa beruntung bahwa hampir semua hal yang saya impikan sejak memulai karir saya sudah terpenuhi, namun sekarang – di usia saya yang sudah tidak lagi muda, saya ingin terus aktif berkarir. Ada sejumlah proyek yang tengah saya kembangkan dan terus saya diskusikan ke pihak-pihak tertentu untuk membuka peluang buat diproduksi. Saya belum bisa bercerita banyak secara detil, tapi saya bisa mengatakan bahwa sejumlah proyek ini punya genre yang sangat beragam, dan tidak hanya anime tapi juga live action.

©2017 TIFF

Siapa sineas terbesar yang Anda rasa paling banyak menginspirasi karya-karya Anda, Jepang dan internasional?

Sutradara Jepang favorit saya adalah Keisuke Kinoshita (sutradara film klasik The Ballad of Narayama yang juga ditayangkan dalam versi restorasi 4K di TIFF tahun ini), dan karena itu saya membuat film biografinya. Dari internasional, saya akan memilih David Lynch (Amerika). Menurut saya, mereka merupakan sineas yang paling saya kagumi karena membuat film-film dengan penyampaian ide yang sangat bold, tapi juga sensitif dalam banyak sisi. All of their films are beautiful, dan saya harap suatu hari saya bisa membuat film sebaik mereka.

Apa harapan Anda terhadap industri anime di momen perayaan 100 tahun-nya tahun ini?

Mungkin secara personal saya hanya berharap tetap bisa aktif berkarir, membuat lebih banyak lagi film-film anime yang baik, diterima publik dengan baik dan bisa sampai ke pemirsa luar Jepang secara meluas terutama bagi generasi sekarang.