Home » Dan at The Movies » CHASING THE DRAGON (2017)

CHASING THE DRAGON (2017)

CHASING THE DRAGON (追龙): A GORGEOUS, POWER-PACKED HONG KONG CRIME CLASSIC

Sutradara: Wong Jing & Jason Kwan

Produksi: Bona Film Group, Infinitus Entertainment, Mega-Vision Pictures, 2017

Image: cityonfire.com

Satu waktu dulu, film Mandarin (sebutan lazim untuk film impor HK maupun China di Indonesia) merupakan komoditas penting di bioskop-bioskop kita – apalagi di daerah. Entah mengapa, kini ia tergerus oleh film-film Asia lain, membuat importirnya seakan malas mengimpor film-film yang sebenarnya punya potensi sangat laku buat pasar kita. Hanya film dengan nama-nama bintang tertentu yang masih terus diimpor, seperti Jackie Chan, Jet Li dan kini – Donnie Yen.

Setelah sejumlah blockbuster aksi seperti Shockwave, Wolf Warrior 2, SPL 3: Paradox, The Adventurers terlewatkan, Chasing the Dragon yang memasang nama Donnie Yen sebagai jaminan itu akhirnya hadir meski sedikit terlambat. Namun di samping Donnie yang seakan lebih dijual di banyak negara, sebenarnya film mafia klasik HK ini punya nama lain yang tak kalah penting sebagai lead character-nya, apalagi buat penggemar film mereka; Andy Lau, yang kini kembali ke dalam peran legendaris polisi paling korup dalam sejarah HK (dijuluki The HK $500 Million Sargeant) Lee Rock/Lui Lok setelah 26 tahun lalu dimainkannya di dwilogi klasik berjudul sama karya sutradara Lawrence Ah Mon. Andy Lau dan Donnie Yen juga sama-sama ikut berperan sebagai produser di kolaborasi layar lebar mereka yang pertama ini.

Selain Lee Rock, kisah yang diangkat dalam Chasing the Dragon sendiri juga merupakan bagian biopik dari tokoh gangster HK 60-70an Crippled Ho (diperankan Donnie Yen) yang dulunya sudah pernah diangkat dalam To Be Number One (1991, tahun rilis sama dengan Lee Rock), di mana Ho diperankan oleh Ray Lui dan Rock oleh Kenneth Tsang. Lui juga sempat muncul lagi sebagai Ho di Queen of the Underworld pada tahun yang sama; walau bukan sebuah sekuel.

Sekarang sebut nama sutradaranya, Wong Jing; sineas serba bisa dari sutradara, produser, penulis hingga aktor/komedian dengan profil prominen di industrinya paling tidak selama seperempat abad terakhir. Walau sangat variatif dari segi kualitas – dalam rentang film-film legendaris hingga yang asal lewat saja, sebut 10 film HK favorit Anda, 1 atau 2 pasti ada filmnya di sana. Di antara yang paling dikenal tentulah God of Gamblers, Casino Raiders, Young and Dangerous berikut sejumlah film-film Jackie ChanJet LiStephen Chow dan Lee Rock/Queen of the Underworld sendiri. Hingga kini, Wong Jing masih aktif membuat film termasuk God of Gamblers revamped yang tak peduli menuai kritikan namun laku keras di box office, From Vegas to Macau 1-3.

Di tengah kekacauan sosial dan politik kolonialisme Inggris era 60-70an, masa-masa paling korup dalam sejarah kriminal bawah tanah Hong Kong, imigran ilegal Cina Daratan Ng Sik-ho (Donnie Yen) mendaki karirnya di dunia kriminal bawah tanah Hong Kong bersama tiga rekan (Philip Keung, Wilfred Lau, Kang Yu) dan adiknya (Jonathan Lee). Sepak terjang Sik-ho sejak awal menarik perhatian sersan polisi kepala Lee Rock (Andy Lau) dan asistennya Piggy (Kent Cheng) yang kemudian memanfaatkan Ho untuk aktivitas korupsinya. Perlahan, Ho yang menjalankan aksinya di Kowloon Walled City, sebuah pusat praktik kriminal tak tersentuh di HK mulai menjadi gembong narkoba tak terkalahkan walaupun harus mengorbankan kakinya saat dipecundangi mafia saingan, Chubby (Ben Ng) yang menjadi koalisi atasan polisi saingan Rock, Ngan (Kent Tong) dan kepala polisi kolonial Hunter (Bryan Larkin). Di tengah pertikaian segi banyak ini, Ho yang kini dijuluki Crippled ini akhirnya berhadapan dengan batas tipis hidup dan mati di atas hubungan persaudaraan tak biasa serta penuh intrik dengan Lee Rock.

Bekerjasama di kursi penyutradaraan dengan DoP Jason Kwan dari salah satu karya terbaiknya dalam dekade terakhir, The Last Tycoon, juga asisten sutradara kolaboratornya Aman Cheng, Wong Jing membawa Chasing the Dragon ke ranah genre kriminal/mafia klasik yang sudah cukup lama tak kita saksikan di film-film HK sekarang. Uniknya, Jing, Kwan dan Cheng membesut Chasing the Dragon dengan keseriusan tinggi di atas racikan nostalgik sinema mereka bersama pakem internasional yang seolah ada di jejak film-film Martin Scorsese plus referensi-referensi kental genre-nya termasuk The Godfather Part II, namun mengganti feel mafioso Italia lebih ke rasa ala American Gangster atau film-film Mexican druglord, yang dibangun salah satunya lewat iringan scoring Chan Kwong Wing.

Di situ, sinematografi Kwan bersama pengarahan artistik Cheung Ying-wah dan desain kostum Petra Kwok benar-benar menghidupkan Chasing the Dragon, masing-masing dengan gorgeous camera work dan set pieces-nya yang fantastis. Penyuntingan dari Li Ka Wing juga seolah membawa pemirsanya bergerak dinamis mengarungi dunia kriminal bawah tanah Kowloon Walled City dengan detil-detil mengagumkan, selain di selipan adegan-adegan aksi garapan Donnie Yen bersama koreografer aksi veteran Yuen Bun, juga Yan Hua dan Kang Yu yang selain selama ini sudah bekerja di film-filmnya juga kerap tampil sebagai aktor di adegan-adegan laga. Salah satu adegan laga itu juga menampilkan Philip Ng, sensasi aksi baru HK yang sudah kita lihat di Once Upon a Time in Shanghai dan berikutnya memerankan Bruce Lee di Birth of a Dragon.

Daya tarik tambahan lain bersama rasa nostalgik itu juga muncul dari deretan aktor-aktornya. Bertabur nama-nama terkenal, sebagian besar adalah aktor-aktor veteran yang jelas dikenali penggemar sinema mereka, juga di atas banyak trivia, ada Kent Cheng yang juga dulunya menjadi karakter penting dalam modifikasi sejarah berbeda di To Be Number One, Kenneth Tsang yang kini diserahi peran mertua Lee Rock, hingga dua dari ex5 Tiger GeneralsTVB ‘80an selain Andy Lau; Felix Wong (pemeran Kwee Ceng di The Legend of the Condor Heroes/Sia Tiauw Eng Hiong) dan Kent Tong (The Demi-Gods and Semi-Devils/Thian Long Pat Poh) plus aktor laga senior Michael Chan Wai-man (Chen Hui Min) yang sempat bermain di beberapa film joint venture Indonesia-HK tahun ‘70an (salah satunya Balas Dendam/Double Crossers yang ikut diperani Soekarno M. Noor dan Rano Karno). Ada pula penampilan kuat dari model seksi Xu Dong-dong sebagai salah satu kunci penting intriknya, mengingatkan ke aktris HK Category III ’90-an Diana Pang (di sini dulu lebih dikenal dengan nama Pheng Tan).

Namun vehicle utama dalam Chasing the Dragon tentulah Donnie Yen dan Andy Lau yang walaupun dikredit sebagai ‘special appearance’ tapi sebenarnya lebih ke sebuah bentuk penghormatan terhadap karakter legendarisnya. Nyatanya, Andy Lau justru jadi peran sentral dalam porsi seimbang bahkan dalam pola character-driven-nya tetap melatari hampir tiap lapis pengembangan karakter Crippled Ho, dan ini dibawakan Andy tetap dengan aura dan persona persis ke versi 26 tahun lalu sebagai salah satu performa terbaiknya di sinema HK.

Pola sisi pandang penceritaan khas sinema kriminal HK yang membuat karakter-karakter korup ini menjelma ke layar lebar bak jagoan-jagoan tangguh, the heroes we all root for, di atas kisah yang dipenuhi nilai-nilai kuat soal persahabatan dan persaudaraan ala sinemanya, juga berhasil dibawakan oleh Donnie Yen secara berbeda dengan peran-peran biasanya. Meski di instalmen ke-3 Ip Man potensi akting dramatik itu sudah muncul dengan kuat darinya, Chasing the Dragon benar-benar dimanfaatkan Donnie Yen sebagai vehicle-nya yang lebih tegas ke ranah aktor ketimbang bintang laga. Meski belum benar-benar maksimal di beberapa bagian penting, Donnie bisa menahan aksi laga-nya yang tetap muncul secara memukau buat tak mencuat mendistraksi keseriusan aktingnya memerankan Ho dengan bantuan wig, kumis, sedikit prostetik dan tentu saja tongkat legendarisnya.

Pada akhirnya, dengan daya tarik yang luar biasa padu dari semua elemen-elemennya, Chasing the Dragon memang layak dinobatkan menjadi karya terbaik Wong Jing dalam kiprah panjangnya di sinema HK, membawa kita seakan kembali menelusuri jejak genre aksi kriminal klasik sinema HK dengan percikan-percikan elemen wajib yang membuat kita begitu menyukainya. Like a Scorsese’s larger than life cinematic bravura and even more, a power-packed Hong Kong crime classic. Bagus sekali. (dan)

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter

Latest posts by danieldokter (see all)