Home » Dan at The Movies » RETROSPECTIVE: NOVEMBER 1828 (1978)

RETROSPECTIVE: NOVEMBER 1828 (1978)

NOVEMBER 1828 : A LOOK BACK TO INDONESIAN HISTORICAL EPIC MASTERPIECE

Sutradara: Teguh Karya

Produksi: Interstudio, Garuda Film, Gemini Satria Film, 1978

Dok. koleksi pribadi

Dalam babakan sejarah film Indonesia, genre historical epic sebenarnya merupakan salah satu genre yang tak pernah mati, meskipun jarang-jarang diproduksi. Alasannya mungkin ada pada faktor bujet yang tak bisa sembarangan demi memberikan sentuhan kolosal dan set yang akurat dalam desain produksinya. Padahal, dari generasi ke generasi, elemen sejarah jadi formula yang cukup laku untuk dijual ke penonton kita.

Kualitas adalah masalah lain lagi. Ada banyak epik sejarah yang secara linear berbicara tentang tokoh yang menjadi fokus dalam judulnya, dengan menggali kisah nyata mereka sebagai sebuah biopik. Tapi di zamannya, alm. Teguh Karya, sutradara legendaris yang terkenal atas kiprah yang nyaris tak pernah terkontaminasi dengan industri itu, datang dengan konsep berbeda. Sebagai sebuah epik sejarah kolonial Indonesia yang berlatar Perang Diponegoro, November 1828 bukanlah biopik dari latar yang disorotnya, tetapi merupakan fiksi yang dibangun dengan relevansi atas sebagian tokoh-tokoh nyata yang ada.

Diproduksi tahun 1978 (oleh Interstudio dengan produser Njoo Han Siang, Gemini Satria Film dengan Ronald Lolang dan Garuda Film dengan Hendrik Gozali), berjaya pula di Festival Film Indonesia/FFI 1979 untuk kategori film terbaik, sutradara terbaik, pemeran pembantu pria terbaik untuk El Manik, fotografi terbaik (Tantra Surjadi), tata musik terbaik (Franki Raden, Sardono W. Kusumo dan Slamet Rahardjo), tata artistik terbaik (Benny Benhardi dan Slamet Rahardjo), November 1828 masih relevan sebagai sebuah studi kebudayaan dalam sinema kita sekaligus banyak aspek kehidupan bangsa ini lewat interpretasi yang sangat informatif terhadap sejarah kolonial Indonesia.

Teguh Karya sendiri mengaku bahwa ide untuk membangun plot November 1828 terinspirasi dari drama Perancis klasik Montserrat karya Emanuel Robles. Latarnya adalah Perang Diponegoro, namun yang disorot adalah perwira indo dan sekelompok penduduk di sebuah desa bernama Sambiroto dalam konflik-konflik internal mereka dalam dampak strategi pemerintah kolonial dan perlawanan lokal. Kapiten van der Borst (diperankan dengan transformasi luarbiasa dari Slamet Rahardjo), seorang perwira Indo-Belanda begitu berambisi membuktikan ke-Belanda-annya dengan mengorek informasi persembunyian Sentot Prawirodirjo, panglima perang Pangeran Diponegoro.

Atas informasi dari Jayengwirono (Rachmat Hidayat), seorang demang yang gila kuasa, Kromoludiro (Maruli Sitompul), pemimpin desa itu kemudian ditangkap dan disiksa habis-habisan hingga menyandera keluarga berikut anaknya yang masih bayi. Dan tak hanya itu, kepemimpinan desa yang berpindah ke Jayengwirono pun membuat penduduknya diperah dengan pajak tinggi dibalik ancaman untuk bekerjasama dengan penjajah. Desa itu pun bergejolak di tengah ambisi dan prinsip masing-masing manusianya.

Masih ada Letnan van Aken (El Manik), juga seorang Indo-Belanda yang secara kontras terhadap van der Borst malah bersimpati pada rakyat, istri Kromoludiro yang sama beraninya, diperankan oleh Sunarti Rendra, Laras (Yenny Rachman), putri Kromoludiro yang tengah menjalin hubungan dengan Jarot (Herman Felani) dan Bambang Sableng (Sardono W. Kusumo), pimpinan rombongan penari jathilan yang berjuang dengan caranya sendiri.

Premisnya mungkin terasa simpel, tapi di tangan Teguh yang juga menulis skripnya, November 1828 menjadi sebuah character-driven story yang membenturkan banyak kontras-kontras dalam karakterisasinya untuk membangun keseluruhan kisahnya bukan hanya jadi tak biasa, tapi juga sangat memikat. Sosok Diponegoro dan atasan-atasan Belanda tak pernah diperlihatkan di layar. Dalam atmosfer jauh lebih terbatas, ia hanya membangun penceritaannya di tengah para penduduk desa dan opsir-opsir Indo-Belanda. Lebih dari kontras kebudayaan dua bangsa berbeda, Teguh membangun konfliknya diantara karakter-karakter sebangsa yang saling berbenturan demi masing-masing kepentingan.

Dialog-dialognya juga dipenuhi nada protes terhadap pemerintah di tengah gejolak politik pada tahunnya, dengan relevansi erat hingga ke masa sekarang. Lihat salah satu dialog Kromoludiro, “Jika sebagian besar penduduk adalah maling, lebih baik pulau Jawa ini tenggelam ke laut”.

Dan kontras-kontras dalam karakterisasi itu kemudian membuat perjalanannya jadi punya kedalaman lebih. Antara Slamet RahardjoEl Manik, Rachmat HidayatMaruli Sitompul, bahkan antara dua opsir yang diperankan Mang UdelHenky Solaiman dalam penggalan distraksi sarkastik dalam filmnya. Semua aktor-aktor watak ini muncul dengan powerhouse performances yang bukan main bagusnya. Lihat adegan monolog Sunarti menangisi Kromoludiro yang luarbiasa menyayat hati. Pendekatannya teatrikal, tapi bisa jadi tak berjarak dalam konteks sinematis.

Dan Teguh tak pernah mentransformasikan karakter-karakter itu berada dalam kontras yang benar-benar hitam putih. Lebih dari bandrol-bandrol antagonis atau protagonis, hampir semua karakter ini dihadirkan dengan nafas manusiawi yang sangat kuat dibalik ambisi dan motivasi yang terjelaskan dengan baik sebagai ekses dari sebuah kekacauan akibat perang. Ini yang membuat storytelling-nya terasa sangat komunikatif, membawa penontonnya berada dalam emosi seperti yang diharapkan.

Dalam wujudnya sebagai sebuah epik sejarah, sering pula disalahpersepsikan banyak orang sebagai film perang, walaupun bukan sepenuhnya salah, November 1828 sebenarnya adalah sebuah human drama berlatar sejarah peperangan yang diracik Teguh bersama banyak referensi genre. Dengan nafas teater yang masih sangat terasa dengan sebagian eksplorasinya dibalik pertunjukan kebudayaan Jawa yang kental, namun tak sekalipun mendistraksinya sebagai tontonan yang sangat sinematis dari unsur-unsur penggarapan lain, Teguh sekaligus menunjukkan prinsip dan pilihan berbeda dalam perjuangan kemerdekaan.

Bahkan bagian love story dari karakter Laras dan Jarot yang diperankan Yenny Rachman dan Herman Felani (sebelum ia melejit menjadi aktor di film-film remaja era itu) hadir dengan estetika luarbiasa dan penuh magis di balik sebutan romantisme tusuk konde yang kabarnya dipersiapkan Teguh dengan detil tak kalah hebat, tanpa sekalipun jadi terasa cemen ataupun cengeng. Adegan klimaks yang melibatkan rombongan penari jathilan dengan koreografi detil di balik adegan penyergapan juga tergelar dengan sangat baik.

Tapi bersama powerhouse performance para aktornya, kekuatan terbesar November 1828 adalah keseriusan mereka menghadirkan detil-detil dalam pengadeganannya. Sinematografi, tata artistik, kostum, musik hingga koreografi hebat dalam nafas teater yang kental menjadi sebuah garapan terbaik yang pernah ada dalam sejarah film kita. Untuk ukuran zamannya, November 1828 menghabiskan biaya sekitar 240 juta rupiah yang dianggap termahal, dan ini digunakan kebanyakan untuk membangun setting termasuk kostum sekelas film yang dipenuhi adegan kolosal.

November 1828 memang sudah diproduksi 35 tahun yang lalu, namun hebatnya, selain jadi sebuah instant classic di eranya sendiri, seperti esensi kisahnya yang berbicara tentang sebuah keteguhan atas keyakinan dibalik kisah kepahlawanan, ia masih mewariskan kesempurnaan sinematis yang belum tentu bisa tertandingi dengan teknologi yang ada sekarang, sekaligus sebuah studi dan referensi tentang lapisan sosial yang masih sangat relevan sampai saat ini. A true historical epic masterpiece, dan salah satu mahakarya terbaik dalam sejarah sinema kita. (dan)

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter

Latest posts by danieldokter (see all)