Home » Dan at The Movies » JUSTICE LEAGUE (2017)

JUSTICE LEAGUE (2017)

JUSTICE LEAGUE: A SLIGHT IMPROVEMENT THAT TAPPING ON UNEVEN BEATS

Sutradara: Zack Snyder

Produksi: DC Films, RatPac Ent, Atlas Ent, Cruel and Unusual Films, 2017

Image: impawards.com

Hampir semua mungkin setuju bahwa Wonder Woman benar-benar berhasil mengangkat franchise layar lebar superhero DC Comics ke level yang jauh lebih menjanjikan, terutama dalam menaikkan ekspektasi ke instalmen pertama team-up tokoh-tokoh superhero-nya yang sudah lama ditunggu-tunggu, Justice League. Tetap di bawah bayang-bayang pesaingnya, The Avengers dari Marvel, yang sudah jauh melesat dengan konsep lebih kuat, sayangnya, proses perjalanannya memang sempat diwarnai sejumlah masalah sampai dengan berita masuknya Joss Whedon untuk melakukan reshoots termasuk menulis adegan-adegan tambahan dalam Justice League. Ini menarik karena banyak memang yang menganggap Snyder adalah biang kerok kegagalan film-film DC. Namun Whedon, yang kabarnya hanya punya bagian 20% dari keseluruhan film yang sudah digarap, urung mendapat kredit sutradara bersama Snyder tapi hanya di kredit penulis bersama Chris Terrio.

Dengan konsepnya, Justice League seolah bergerak di benang merah kelanjutan dua instalmen sekaligus, BvS: Dawn of Justice dan Wonder Woman. Di tengah kesedihan banyak orang terhadap pengorbanan Superman (Henry Cavill) melawan Doomsday, Bruce Wayne/Batman (Ben Affleck) dan Diana Prince/Wonder Woman (Gal Gadot) melanjutkan misi mereka mengumpulkan manusia-manusia super buat memberantas kejahatan. Sasarannya adalah putra mahkota Atlantis Arthur Curry/Aquaman (Jason Momoa), manusia hasil rekonstruksi robotik Victor Stone/Cyborg (Ray Fisher) dan anak muda yang bisa bergerak dengan kecepatan super, Barry Allen/Flash (Ezra Miller). Bersamaan dengan itu, dunia berada di ambang kehancuran oleh kebangkitan alien Apokolips Steppenwolf (Ciaran Hinds) bersama pasukan serangganya Parademons di balik keberadaan Mother Box, kubus ajaib dengan kemampuan mengatur semesta dan riwayat perlawanan manusia, kaum Amazon dan juga Atlantis.

Walau tetap mewujudkan impian masa kecil banyak orang  – fans bahkan tidak, melihat tokoh-tokoh superhero pesaing Marvel ini bergabung dalam satu film, Chris Terrio sekali lagi menunjukkan bahwa sebagai penulis ia memang hanya pelaku dadakan yang tak punya banyak visi dalam genre-nya. Begitu pula, Zack Snyder boleh jadi punya keunggulan besar dalam visual, namun masih tetap bukan seorang storyteller yang baik. Diawali dengan serangkaian adegan aksi yang menjanjikan, Justice League terasa terseok-seok menyampaikan alur serta narasinya.

Di satu sisi, proses yang memang tak akan pernah jadi sekuat The Avengers yang secara cermat mempunyai story arc kuat dari masing-masing karakternya sebelum digabungkan sebagai tim, dalam Justice League digagas sedangkal film-film lain yang mengetengahkan rekrutmen kelompok tanpa dasar kuat. Seringkali terasa bagai keputusan yang ‘ya sudahlah, begini saja’, walaupun proses yang melibatkan Batman dan Flash (juga sudah kita lihat saban kali di trailer-nya) tampil menarik, proses fusi para superhero ini jadi terkesan sangat lemah. Di antaranya, adegan-adegan aksi yang diselipkan pun tak bisa mempertahankan pace penceritaan sebelum akhirnya kita dengan mudah bisa mengetahui kapan Whedon masuk untuk memperbaiki semuanya, namun sayang, di tengah keterbatasan dalam konteks rewrite dan reshoots.

Lagi, bangunan karakter Steppenwolf sebagai villain pun tak pernah diselami lebih. Arcs-nya dibiarkan tampil sekilas-sekilas meninggalkan laskar Parademons yang seharusnya bisa menaikkan intensitas aksinya berakhir tak lebih dari sekedar hiasan visual. Terrio dan Snyder pun tak mampu melanjutkan benang merah kuat dari interaksi karakter-karakter sampingan yang sudah mereka mulai di BvS. Interaksi Diane Lane dan Amy Adams hanya dimanfaatkan untuk secuil adegan ngobrol-ngobrol, Jeremy Irons – walaupun tetap bagus tapi seperti bermain sendiri sebagai pelaksana command center, J.K. Simmons (Komisaris Gordon) dan Amber Heard (Mera) yang underused hingga yang sangat disayangkan, story arc karakter Cyborg dan Silas Stone yang diperankan Joe Morton; ataupun Flash dan Henry Allen yang diperankan Billy Crudup, yang sebenarnya bisa muncul dengan interaksi sangat father to son yang menyentuh. Dalam kaitan dengan Wonder Woman pun, kemunculan Connie Nielsen dan Robin Wright, meskipun tetap meramaikan ansambel ini dengan menarik, tapi tak pernah benar-benar dimanfaatkan secara maksimal.

Lantas, dalam interkoneksi tokoh-tokoh Justice League, sejumlah sematan humor dan faktor emosinya pun masih tampil secara hit and miss. Selain proses fusi yang terasa terlalu cepat buat memunculkan candaan lepas, masih banyak juga ketidakseimbangan dalam pengaturannya. Padahal, konsepnya sudah terlihat jelas, bahwa Justice League mereka bangun bak sebuah dysfunctional family dengan Bruce Wayne dan Diana Prince sebagai orangtua yang harus menyatukan anak-anak mereka yang berbeda masalah.

Sebagai Barry Miller/Flash, Ezra Miller adalah scene stealer yang menarik dengan motivasi dan eksitasinya. Gal Gadot sebagai Wonder Woman, jangan ditanya. Seperti penampilannya yang menyelamatkan BvS dan membuat Wonder Woman punya glimpse ke Captain America bahkan Superman Christopher Reeve, sosok superhero murni dengan segala kenaifannya, tetap jadi center of the universe. Namun Affleck, masih tetap terlihat sangat ragu-ragu di balik kostum Batman yang tak sepenuhnya pas ke sosoknya. Sebagai Aquaman, selain character arc-nya belum memadai, Jason Momoa sangat terasa mengikuti pakem Thor-nya Chris Hemsworth namun tak sekuat itu. Sementara Ray Fisher kerap gagal serta datar dalam memunculkan emosi maksimalnya terhadap Cyborg yang harusnya jadi karakter paling kompleks di sini.

Di atas mereka, Cavill bertransformasi cukup baik sebagai Superman konvensional ala Christopher Reeve setelah sebuah adegan penghubung yang sayangnya lemah tapi lantas menyalah-interpretasi-kan Superman Reeve melulu hanya dengan senyuman arifnya. Skrip itu pun, selain tak memberikan justifikasi cukup untuk sebuah kisah kebangkitan yang terlalu singkat bagi karakter legendaris ini, membuat Superman terlalu seperti dewa dengan kemampuan pamungkas di balik ketergantungan berlebih dari rekan-rekannya. Terakhir, Justice League boleh saja punya keunggulan dalam menggelar adegan-adegan aksi apalagi bagi porsi Wonder Woman dan Aquaman, namun di sisi lain juga kehilangan visual grandeur Man of Steel dan BvS dengan sinematografi Fabian Wagner di sini.

Begitupun, bukan berarti Justice League lantas jatuh seperti pendahulu-pendahulunya sebelum Wonder Woman, termasuk Suicide Squad yang luar biasa kacau balau itu. Paling tidak, keputusan DC untuk mengubah tone mereka ke arah yang lebih serba fun – juga lebih child-friendly, memang sudah terlihat berusaha memunculkan banter-banter penyatuan yang harus diakui sangat fun. Mereka berusaha meniru pakem The Avengers, dan meski di sebagian aspek tetap gagal, ada atmosfer light & fun yang sangat menjanjikan pengembangannya ke depan. Mereka bahkan menyemat 2 after credits scene yang cukup seru – satunya mengekspansi dua adegan terbaik Justice League yang jelas sudah ditunggu-tunggu fans Superman dan Flash, dan satunya berisi hint ke film-film selanjutnya. Ini memang seperti instalmen DC yang paling akrab dengan budaya popcorn.

Pembalikan tone ke arah sana juga membuat mereka kini tak lagi ragu mengemas Justice League dengan kekuatan trivia dan nostalgia, salah satunya dari penggalan komposisi main theme Batman versi Tim Burton karya Danny Elfman hingga Superman-nya John Williams. Ini harus diakui tetap bisa memberi kekuatan lebih dalam keseluruhan kemasan Justice League, walau lagi-lagi, sekuens montase penutupnya tak pernah bisa bekerja sekuat baik Man Of Steel, BvS dan Wonder Woman. Paling tidak, bersama hasil gemilang Wonder Woman kemarin, Justice League, meski masih berada di bawahnya, sudah melandasi track adaptasi DC yang lebih kuat dan menjanjikan untuk instalmen-instalmen berikutnya. A slight improvement that tapping on uneven beats. Semoga. (dan)

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter

Latest posts by danieldokter (see all)