Home » Contributors » Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak

Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak

Spaghetti Western itu sebuah genre film koboi buatan negara yang baru saja nggak lolos ke Piala Dunia 2018, Italy. Biasanya Spaghetti Western itu nampilin apapun yang berbau film koboi Amerika, mulai dari plot sampai scoring dibikin semirip mungkin kayak film koboi amerika pada umumnya. Lebih jelas tentang genre Spaghetti Western silakan tanya Daniel, dia lebih paham masalah genre film Spaghetti Western, dan dia paham banget dunia film di Italy. Konon Daniel punya cita-cita mau remake film terkenal buatan Pier Paolo Pasolini.

Oke, mari kita bahas film Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak ini. Kalo misalnye lo nanya ke gue kenapa gue nonton film ini. Alasannya adalah, karena gue penasaran pengen lihat Marsha Timothy menggal kepala orang. Tapi ternyata film ini nggak cuma menuhin rasa penasaran gue doang. Ternyata film ini menang di beberapa festival luar negeri. Kebetulan waktu tayang film ini berbarengan sama film based on comic yang lagi menguasai seluruh layar bioskop. Gue jelas lebih memilih nonton film ini daripada film superhero dong, alasannya pasti lo udah tahu.

Tolong seseorang kasih tahu dia buat sadar!

Di sebuah perbukitan daerah Sumba. Tersebutlah seorang perempuan bernama Marlina. Dia adalah seorang perempuan pemberani yang punya banyak hewan ternak. Dia punya 10 ekor sapi, 10 ekor kambing, 10 ekor babi dan 7 ekor ayam. Untuk ukuran seorang perempuan di desa, dengan hewan ternak segitu banyak, gue asumsikan Marlina adalah perempuan kaya. Kita semua tahu berapa uang yang didapet kalo semua hewan ternak itu dijual. Banyak pastinya. Pertanyaannye kenape Marlina nggak mau jual semua hewan ternak itu dan pindah ke kota? Kenape sih lo mau tinggal sendirian di rumah itu Marlina? Kenape lo nggak pindah ke kota aja? Kenape lo menyendiri di situ? Apa karena pemandangan sekitar rumah lo bagus buat lo pamerin di instagram? Emang lo punya instagram?

Gue berasumsi bahwa Marlina adalah seorang wanita pemberani dan mandiri. Citra itu udah keliatan dari nisan yang ada di pekarangan rumah Marlina. Gue yakin Marlina terinspirasi sama Pet Sematary, sampai kemudian dia bikin makam di pekarangan rumahnya. Tapi nggak cuma itu, entah ini karena adat Sumba atau bukan, Marlina yang seorang janda pun menaruh mayat suaminya di pojokan ruang tamu rumahnya. Literally mayat suaminya di taruh begitu aja di ruang tamunya. Dan Marlina tinggal sendirian di rumah itu tanpa sedikit pun merasa takut atau merasa jengah.

Suatu hari datanglah seorang bapak gondrong-sialan bernama Markus bertamu ke rumah Marlina. Dari gelagat awal kita tahu kalau Markus ini bukan tamu yang baik, hal-hal buruk pasti bakalan terjadi kalau ada seorang cowok bajingan dateng ke rumah seorang cewek yang tinggal sendirian. Dan ternyata benar, selang berapa lama datanglah teman-teman Markus yang berjumlah 6 orang. Gue lupa namanya siapa aje, tapi dari penampilan ke 6 orang tersebut gue yakin mereka tipikal cowok-cowok yang doyan mabok dan berantem tiap kali biduan dangdut mulai nyanyi lagu Jaran Goyang.

Semua hewan ternak milik Marlina habis digondol cowok-cowok rampok bangsat itu,10 sapi, 10 kambing, 10 babi, 7 ayam lenyap tak tersisa. Nggak hanya itu, Marlina juga dipaksa untuk melayani 4 orang anggota perampok. Tapi untungnya Marlina cerdas, dengan bermodal biji saga rambat beracun, Marlina melakukan sebuah hal epik kepada 4 perampok itu. Lho sisa 2 perampoknya kemana? Sisa 2 perampoknya ditugasi untuk menjual hewan ternak, sambil sekalian mengantar salah satu anggota perampok untuk ikutan lomba tata rambut mirip Reza Rahardian.

Tapi sayangnya Marlina yang berhasil mengelabui keempat perampok tadi, tidak bisa mengelabui Markus. Dengan sangat terpaksa, Marlina harus melayani nafsu Markus. Tapi sekali lagi Marlina adalah gadis cerdas yang sempat berguru kepada The Bride. Saat sedang digenjot paksa oleh Markus di kasur, tanpa basa-basi Marlina langsung menebas putus leher Markus tepat bersamaan saat Markus orgasme. Hore!!!

Dengan menggotong kepala Markus yang udah dipenggal, Marlina berangkat ke kantor polisi untuk meminta keadilan atas pemerkosaan yang menimpa dirinye. Ternyata, gue baru tahu kalau alat transportasi paling mumpuni di Sumba adalah angkutan truk. Marlina gotong kepala Markus dan naik truk! Apa yang lebih badass daripada itu saudara-saudara? Hal kayak gini jelas bakalan masuk ranah hukum andaikan yang naik truk itu adalah anak berseragam SMA yang mau tawuran. Tapi jagoan cewek kita ini adalah Marlina. Dia selalu ngasih alesan bahwa kepala yang dia bawa itu “Sang Tawanan!” Begitu kata Marlina dengan mimik wajah yang dingin.

Sebagian orang yang baca premis atau sinopsis film ini bakalan berpendapat kalau ini adalah film tentang feminisme. Oke, bisa jadi begitu. Tapi menurut gue film Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak ini bukan cuma membicarakan tentang feminisme. Film ini lebih kompleks lagi. Walau pun ceritanya berporos kepada kejadian pemerkosaan, tapi jelas apa yang disodorin bukan tentang pemerkosaan doang, tapi lebih ke aspek ketidakadilan yang diterima kaum perempuan di dunia yang super patriarki ini. Dan gimane seorang wanita sebatang kara bernama Marlina bisa ngelawan balik dunia yang patriarki ini.

Hal kayak gitu keliatan dari gimana jawaban yang di dapat Marlina saat dia mengadu di kantor Polisi. Yang mana udah pasti nggak bakalan ditanggepin sama sekali. Kita pasti pahamlah gimane kinerja kepolisian pada umumnye. Itulah kenape gue selalu percaya apa yang dibilang Eka Kurniawan di salah satu novelnya, bahwa “Polisi adalah Makhluk terakhir yang bisa kita percaye seandainya udah nggak lagi Makhluk lain di dunia ini.” Marlina mengadu ke polisi tentang pemerkosaan yang dialaminya itu akhirnya cuma bakalan mirip kayak ngomong ke Daniel bahwa Moonlight itu film yang bagus, udah pasti omongan lo nggak bakalan ditanggepin.

Selain itu juga ada karakter Novi yang diperanin sama Dea Panendra. Di sini karakter Novi ngasih tahu kita kalo dia seorang perempuan yang juga menerima ketidakadilan dalam hidupnye. Novi yang lagi hamil tua pun harus mengalami perlakuan tidak menyenangkan dari suaminya. Apa yang dialami Novi dan Marlina ini adalah mirip kayak banyak kejadian buruk yang dialami perempuan di dunia ini. Nggak ada skala tolak ukur mana yang lebih getir bagi seorang perempuan, diperkosa atau tidak diangggap oleh suaminya sendiri. Setiap perempuan menyimpan kegetirannya masing-masing.

Oke, gue dari tadi ngebahas tentang pesan dalam film ini terus. Sekarang gimana dengan filmnya sendiri?

Kayak yang gue bahas di atas, sebagai film yang mengacu kepada genre Spaghetti Western, lo bakalan disuguhin sama kayak yang lo harapin dari sebuah film Spaghetti Western. Lo bakalan disuguhin dengan musik latar ala Sergio Leone, lo bakalan ngeliat semacem ‘Lady Pistoleros’ naik kuda. Bahkan pembabakan dalam film ini pun ngingetin lo sama One Upon A Time In The West. Bedanya cuma nggak ada gunfight dan ledakan mesiu doang. Hal kayak gitu pun bukan suatu hal yang krusial. Semua tergantikan dengan penggalan kepala sebanyak 2x kali yang muncul di film ini. Kalo lo nganggep ini film tentang Rape Revenge, bisa jadi lo bener. Dan gue suka sama film yang dibuat sama sutradara Mbak (atau mas? Nggak tau, gue nggak sempet Googling) Mouly Surya.

Kurangnya film ini apa? Selain judul filmnya yang kepanjangan dan bikin gue susah buat nginget dan nulisnye. Kayaknya nggak ada. Kekuatan film ini ada di tema dan pesan yang pengen disodorin oleh sang sutradaranya, Mbak/Mas Mouly Surya. Dan secara gamblang film ini ngasih pesan bahwa kekerasan seksual terhadap perempuan dalam bentuk apapun, layak untuk dapat tebasan di kepala.

Ingat itu Harvey Weinstein!

dmoz

dmoz

Heaven Knows I'm Miserable Now
dmoz

Latest posts by dmoz (see all)