Home » Dan at The Movies » MARLINA SI PEMBUNUH DALAM EMPAT BABAK/MARLINA THE MURDERER IN FOUR ACTS (2017)

MARLINA SI PEMBUNUH DALAM EMPAT BABAK/MARLINA THE MURDERER IN FOUR ACTS (2017)

MARLINA SI PEMBUNUH DALAM EMPAT BABAK: A SHEER MADNESS OF INDONESIAN RARITIES
Sutradara: Mouly Surya
Produksi: Cinesurya Production, Shasha & Co. Production, Kaninga Pictures, Astro Shaw, Purin Pictures, HOOQ, 2017

Image: impawards.com

Tema rape revenge dalam film bukan lagi sebuah hal baru dalam banyak fusi genre. Yang mencatat status monumental, juga banyak, baik dari sisi pandang korban maupun orang-orang terdekatnya. Dari yang paling basicLipstick (AS, 1976) – yang lantas diadopsi ke banyak film serupa dari negara lain; Insaaf Ka Tarazu (India, 1980), Bila Hati Perempuan Menjerit (Indonesia, 1980) dan Vengeance is Mine (HK, 1988) di antaranya, hingga yang dibalut dengan sentuhan sinema kontemporer macam Irreversible (2002), gory-cult macam I Spit on Your Grave atau old-fashioned seperti The Brave One (2002). Tapi Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak (Marlina the Murderer in Four Acts), film Indonesia yang sejak lama sudah menyandang predikat profilic dari pendanaan, keikutsertaan hingga kemenangannya di sejumlah forum dan festival internasional; salah satu yang paling menarik tentu saja kemenangan Marsha Timothy mengalahkan Nicole Kidman (The Killing of a Sacred Deer) di Sitges International Fantastic Film Festival, memang melakukan segalanya dengan beda.

Bukan hanya tak menolak untuk tampil sebagai sebuah arthouse dalam identitas relatifnya sebagai film Mouly Surya, meski mungkin kelewat naif untuk mengkotak-kotakkannya, Marlina dengan unik juga meletakkan playground rasa internasionalnya di atas fusi genre samurai/chanbara dan warisan influensialnya – spaghetti western, ke sebuah atmosfer baru yang sejak disebut salah satu reviewer luar sebagai Satay Western, lantas dimanfaatkan pembuatnya untuk keyword promosinya. Toh pilihan kreatif itu tak lantas menjadikannya sebagai sebuah tontonan obscure yang seringkali pantang dijamah audiens publik, namun berbalik menyentuh pencapaian yang mungkin jarang-jarang ada di kelasnya. Ia justru mengusung amunisi ampuh serta inventif dalam segala sisi naratifnya, dan yang terpenting, juga membuka mata lewat simbol-simbol yang disematnya dalam banyak arus film sekarang yang mengangkat protes dan semangat melawan sistem patriarki. Karena itu, Marlina, memang sangat tak biasa. Apa lagi di film kita.

Marlina (Marsha Timothy), seorang janda muda di Sabana terasing Pulau Sumba yang tengah menunggu kecukupan biaya buat ritual pemakaman sang suami yang dibiarkan teronggok jadi mumi di ruang tamunya, tak bisa menolak kala tujuh begundal yang dipimpin Markus (Egy Fedly) menyatroni rumahnya buat merampok dan memperkosa. Marlina yang menolak kalah kemudian meracuni mereka dan memenggal kepala Markus saat memperkosanya. Ia lantas menenteng kepala Markus untuk melaporkannya ke kantor polisi yang terletak jauh dari rumahnya. Menumpang angkutan umum, Marlina bertemu sejumlah orang termasuk Novi (diperankan dengan memukau oleh aktris debutan Dea Panendra), seorang istri yang tengah hamil 10 bulan yang hendak menjumpai suaminya (Indra Birowo) dan gadis kecil penjual sate, Topan (Safira Ahmad). Tak lama, Marlina akhirnya menyadari bahwa satu-satunya jalan buatnya adalah kembali ke rumah itu saat Franz (Yoga Pratama), satu dari dua begundal yang tersisa menyandera Novi dengan imbalan nyawa – dan sekali lagi, kehormatannya.

Skrip yang ditulis Mouly bersama Rama Adi, produser film-film sekaligus real life spouse-nya berdasarkan ide cerita dari Garin Nugroho, tanpa terduga mampu menyemat elemen-elemen lain yang sangat kaya di tengah premis sederhana soal rape revenge ini. Dari storytelling, sematan dialog sampai penggarapan teknis, kesederhanaan itu menjadi sebuah multi-layered plot yang kompleks namun tak sekalipun kehilangan sisi komunikatifnya dalam penyampaian ide yang tak hanya bold, namun juga begitu padu.

Merangsek di tengah sunyi tapi penuh dengan ironi, pilihan empat babak penceritaannya; The Robbery, The Journey, The Confession dan The Birth – yang mungkin mengingatkan ke pembabakan dalam inspirasi mendasar dari genre samurai/western dan film-film monumentalnya; dari sejumlah film Yasujiro Ozu, Akira Kurosawa ke Sergio Leone termasuk Once Upon a Time in a West bahkan influence kontemporer yang hadir di The Hateful Eight-nya Quentin Tarantino; dengan leluasa merekam langkah Marlina mengikuti dan melawan nasibnya, bertemu dengan karakter-karakter yang memicu konflik berlapis serta dengan bijak menggambarkan diskriminasi gender dalam berbagai kondisi hingga soal birokrasi secara tak biasa. Pembabakan itu memang muncul seperti film-film samurai atau western yang dimulai dengan picuan konflik, perjalanan panjang jagoannya bertemu banyak karakter lantas berujung ke sebuah duel final yang menentukan. Tapi Mouly menambahkan friksi lain ke dalamnya, termasuk soal penebusan dan kelahiran. Penuh simbol, dari sop ayam ke kepala, juga sangat kontemplatif, bahkan kerap bergerak seolah sebuah satire feminis yang diselipi dark comedy, tapi tak lantas mengganggu penyampaiannya. Kadang, ia malah menyentuh estetika yang kita lihat di Once Upon a Time in Anatolia-nya Nuri Bilge Ceylan.

Lihat dialog yang dimunculkannya di babak pertama yang tak perlu berpanjang-panjang untuk memulai pengisahan Marlina dengan begitu menggetarkan. Boleh jadi terasa pervert dan memicu penafsiran berlapis dalam konteks pelecehan verbal, tapi juga dibalut Mouly dengan estetika tak biasa, kadang tetap eksploitatif namun halus tanpa sekalipun jadi klise atau vulgar dalam tiap pengadeganannya. Semua scene staging-nya, dari adegan perkosaan hingga pembunuhan untuk menekankan penindasan fisik ke aftermath-nya pun, muncul sangat baik dengan batasan sinematis berbeda tanpa harus mengikuti pakem film-film rape revenge lainnya. Bahkan selipan-selipan sosiokultural Sumba yang sebenarnya jadi simbol dari set bebas ruang dan waktu, dari soal transportasi, mata pencaharian hingga buang air di semak-semak perbukitan, tergelar lewat detil-detil pengadeganan jempolan. Walau ada sedikit gambaran keliru soal medis mendekati pengujungnya, entah disengaja atau tidak, namun mengingat Marlina memang digagas lewat kombinasi persepsi-persepsi realis, surealis bahkan hiperrealis, lagi-lagi semua bisa sah-sah saja.

Di dasar terdalamnya, tetap ada percikan protes soal pelecehan seksual dalam banyak tipe diskriminasi dan pandangan-pandangan lawan gender-nya terhadap berbagai macam identitas perempuan. Ini juga masih berlanjut ke penokohan karakter-karakter pendamping seperti Novi yang diletakkan dengan cermat, bisa mengundang tawa tapi tak menanggalkan kekuatan buat memicu persepsi beragam soal perlakuan diskriminatif di balik paham-paham patriarkis yang setiap hari kita jumpai. Namun di ujung akhirnya, ia tetap berbicara lantang soal penolakan terhadap penindasan, dan rasanya semua pendekatan ini bisa jadi akan berbeda bila Marlina digarap oleh empunya cerita.

Estetika sinematis yang sangat tak biasa namun tampil puitis di semua sisi penggarapannya itu membawa kredit terbesar bagi DoP Yunus Pasolang dan komposisi scoring luar biasa dari Yudhi Arfani dan Zeke Khaseli. Lanskap Sumba yang dihadirkan lewat shot-shot panoramik dari Yunus tak hanya jadi sekedar latar ranah liar dan tanpa hukum, wild and lawless land sebagaimana identitas genre western, tapi juga bicara banyak sebagai karakter yang padu dengan keseluruhan penceritaannya. Tiap framing-nya bisa berbicara bahkan kala filmnya minim dialog. Sementara dalam nafas komposisi itu, Yudhi dan Zeke menorehkan nuansa Ennio Morricone yang kental namun bukan menjiplak, membuat rasa terhadap pendekatan atmosferik ke genre spaghetti western itu semakin kuat, juga menjerat.

Di bawahnya, juga ada tata artistik dari Frans X.R. Paat, tata kostum dan rias dari Meutia S. Pudjowarsito dan Didin Syamsuddin, juga penyuntingan Kelvin Nugroho dalam pengaturan konsistensi pace dan penjagaan mood, yang ikut membangun dunia Marlina tak kalah hebat. Di atas semuanya, memang Mouly-lah yang berdiri sebagai komando teratas, yang dalam film layar lebar ketiganya ini terasa semakin mengasah talenta yang ia miliki sebagai seorang distinct storyteller, terutama dalam mengurai simetri dan memoles tema serta premis biasa, menjadi luar biasa.

Bermain sebagai Marlina, Marsha Timothy mengangkat lagi level aktingnya setelah status award-winning actress di Nada Untuk Asa-nya Charles Gozali ke ranah tak terbayangkan dengan kekuatan tanpa tanding. Ia tetap terlihat anggun dan elegan namun sangat masuk ke karakter perempuan terasing yang tengah berjuang melawan dominasi di tengah dialek Sumba-nya yang kental. Like a silent lucidity, ekspresinya menyimpan begitu banyak lapis emosi dari kepedihan, kebingungan, ketakutan hingga dendam. Semua tersampaikan dalam diam, tapi terasa meledak. MVP lainnya jelas ada pada aktris debutan Dea Panendra yang juga akan muncul dalam waktu dekat dalam Chrisye. Memerankan Novi, yang memang dibangun Mouly dan Rama dalam skripnya dengan rapi sebagai counterpart gagasan mendasarnya, Dea bermain santai namun luar biasa efektif lewat gestur dan ekspresi sangat terjaga. Ekshibisi akting yang rasanya akan sulit ditampik para penilai sekali mereka masuk menjadi nominee-nominee awarding yang akan datang.

Selain Marsha dan Dea, masih ada ensemble acts yang kuat dari Egy Fadly, Yoga Pratama bahkan yang muncul dalam frame terbatas seperti Indra Birowo, Haydar Saliz, Anggun Priambodo, Yayu A.W. Unru dan Rita Matu Mona. Kita boleh menganggapnya sebuah rape revenge, antidiskriminasi gender, female-driven local western atau apa saja yang diinginkan, namun di lapis terdasarnya, ia memang berhasil melingkupi keseluruhan subteks dan gagasannya dengan solid; memicu pemikiran di atas sebuah kisah pencarian keadilan dan penolakan penindasan. Fused by the dark blend of chanbara – spaghetti to a whole new Satay Western, with Morricone sounds, gorgeous shots, chicken soup and heads, Marlina the Murderer in Four Acts is indeed, a sheer madness in Indonesian rarities. Bagus sekali! (dan)

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter

Latest posts by danieldokter (see all)