Home » Dan at The Movies » VALENTINE (2017)

VALENTINE (2017)

VALENTINE: GOOD CONCEPT, UNEVEN EXECUTION IN A RARE INDONESIAN SUPERHERO GENRE

Sutradara: Agus Hermansyah Mawardy

Produksi: Skylar Pictures, 2017

Film Indonesia memang tak terlalu banyak merambah genre superhero. Entah dengan alasan keterbatasan teknologi atau bujet dalam standar pertaruhan pasarnya, jumlah langka di era ’70-80an yang hanya punya Rama Superman Indonesia, Gundala dan tiruan superhero Filipina Darna Ajaib, tak juga berlanjut pasca tahun 2000. Selain Madame X dan Jagoan Instan yang sebenarnya lebih cenderung ke komedi, yang sebenar-benarnya menyentuh genre-nya hanyalah Garuda Superhero namun gagal total dalam semua sisinya, sama sekali tak pantas untuk merepresentasikan genre itu.

Entry terbaru yang tak juga bisa dibilang baru karena kabarnya sempat tertunda rilisnya sejak 2014, Valentine, diangkat dari komik rekaan Marcellino Lefrandt dan Aswin MC Siregar dari Skylar Comics, divisi Skylar Pictures. Menjadi bagian dari universe yang mereka ciptakan terlebih dulu lewat komik superhero Volt, meskipun terlihat sangat terinspirasi Hit Girl-nya Kick-Ass dalam bentukan karakter dan plot dasar adaptasi ini, sebenarnya sangat menjanjikan sebagai pembuka jalan baru buat genre-nya. Bujetnya yang cukup raksasa hingga menggandeng aktor Hollywood yang walaupun bukan A-class tapi cukup dikenal, Matthew Settle, paling tidak menunjukkan keseriusan mereka.

Sayang, ketika dirilis minggu lalu nyaris tanpa promo yang benar-benar gencar, Valentine tak mampu menarik fans superhero untuk datang melihat kiprah lokal genre-nya. Berlanjut ke keputusan tak biasa menarik produknya dari peredaran terhitung awal minggu ini, padahal sebenarnya hasil akhirnya tak buruk, bahkan masih jauh berada di atas Garuda Superhero sebagai entry pendahulu di genre-nya. Konsepnya pun sebenarnya terlihat cukup cermat digagas orang-orang yang menguasai seluk-beluk genre superhero.

Ber-setting di versi pseudo Jakarta, Batavia City, Valentine dimulai lewat sebuah paparan kasus kriminalitas yang merajalela. Sementara sutradara film bernama Bono (Matthew Settle) yang tengah mencari pemeran tepat untuk rencana film superhero wanita bernama Valentine menemukan seorang pelayan kafe jago beladiri, Srimaya Bumantara (Estelle Linden). Berniat memulai kampanye viral lewat aksi candid sang superhero membasmi kejahatan, dibantu Wawan (Arie Dagienkz), seorang makeup dan wardrobe artist, rencana pembuatan dummy secara viral itu pun dimulai. Tanpa disangka, aksi ini lantas membawa Sri menjalani takdirnya untuk benar-benar menjadi seorang superhero buat membasmi sesosok gembong penjahat bertopeng, Shadow, yang siap melancarkan ancaman besarnya terhadap Batavia City.

Konsep yang ada di balik penciptaan Valentine, walaupun secara klise bermain di ranah tipikalnya, sebenarnya digagas Marcellino dan Aswin lewat skrip Beby Hasibuan dengan cermat. Ada latar fiktif yang cukup fantastis, konsep good vs evil yang membenturkan karakter-karakternya, supervillain bertopeng dengan algojo-algojo wanita super-nya, Zola (diperankan Nabila Putri), Mida dan Hydro, di antaranya, subplot kriminalitas yang memunculkan beberapa karakter penegak hukum di baliknya, sematan jurnalistik, hingga kisah asal-usul yang beda dan cukup menarik buat memperkenalkan Valentine. Ia bukanlah wanita biasa yang datang dari planet lain ataupun disambar petir buat menemukan kekuatannya, namun lebih pada sosok wanita tangguh yang menolak ketidakadilan bagi kaumnya. Semua punya motivasi cukup baik dalam konteks pengembangan karakternya.

Sayang, eksekusinya tak sepadan dibandingkan konsep itu. Benar bahwa ia memang tak bisa menghindar dari apa yang kita saksikan di franchise Kick-Ass karya Mark Millar tanpa mencoba lebih kreatif, katakanlah menggeser warna serta desain kostum, lantas storytelling sutradara Agus Hermansyah Mawardy (Agus Pestol) yang baru memulai debut penyutradaraan layar lebar setelah sebelumnya menjadi asisten sutradara dalam Tebus – juga produksi Skylar, juga masih kerap mengambil pakem-pakem aman di atas look yang kebanyakan terlihat seperti superhero-superhero versi serial televisi 90an; seperti penghuni kota yang hampir keseluruhan digambarkan sangat komikal dan banyak lagi.

Sebagai sidekick non-superhero, Arie Dagienkz pun salahnya muncul kelewat annoying menokohkan Wawan. Belum lagi, effort efek visual dan CGI dari Epix FX Studio yang terlihat lumayan ketinggalan zaman, bahkan masih jauh kalau mau dibandingkan dengan superhero negeri tetangga, Cicak-Man yang sudah dirilis lebih dari satu dekade lalu. Ada dukungan yang cukup baik dari aktor-aktor senior seperti Leroy Osmani, Joshua Pandelaki dan aktor laga lawas Fendy Pradana termasuk Mega Carefansa yang memerankan wartawati Sally serta Settle buat mengiringi permainan Estelle Linden yang secara fisik punya keluwesan cukup buat memerankan Sri/Valentine termasuk ke adegan-adegan laga, begitu pula cameo menarik dari band /rif dan Cecep Arif RahmanQausar Harta Yudana yang tampil singkat. Namun sayangnya Marcell Domits dan Ahmad Affandy tak cukup kuat sebagai pendamping utamanya.

Menutupi kekurangan CGI, walaupun bujetnya sebenarnya sudah cukup besar untuk memaksimalkan sisi ini, koreografi aksi yang dihadirkan Robert Suwandi sebenarnya cukup efektif dalam menggelar adegan-adegan full contact fight Valentine dan musuh-musuhnya; yang rata-rata terlihat seperti petarung MMA ataupun komunitas parkour. Sayangnya, tata kamera Joel F. Zola dan penyuntingan dari Adis C. Nurmawan tak piawai menangkap angle-angle yang tepat untuk membuatnya benar-benar maksimal, meskipun scoring dari Izzal Peterson tergolong cukup baik membantu atmosfer fantasinya, juga theme song Precious dari Universe Band.

Begitupun, di tengah kekurangan-kekurangan yang ada, Valentine sebenarnya sama sekali tak jelek maupun gagal membawa genre superhero-nya ke sinema kita. Ada usaha-usaha bagus serta keseriusan penggarapan yang jelas terlihat walaupun mungkin terasa tak sepadan dengan bujetnya. Paling tidak, sekuens-sekuens finale menuju sebuah montase penutup yang terasa sekali diwarnai inspirasi dari film-film superhero DC cukup bekerja memicu rasa penasaran bersama dua after credit scene yang memunculkan tokoh superhero utama Skylar Comics. Sayang sekali memang kalau carut-marut dibalik penarikan peredarannya membuat potensinya sebagai franchise superhero pembuka jalan bagi genre-nya tak berlanjut. Sayang sekali. (dan)

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter

Latest posts by danieldokter (see all)