Home » Dan at The Movies » COCO (2017)

COCO (2017)

COCO: A WONDERFUL TALE OF REMEMBRANCE

Sutradara: Lee Unkrich

Produksi: Walt Disney Pictures, Pixar Animation Studios, Walt Disney, 2017

Image: impawards.com

Sebagai salah satu studio animasi terdepan, juga pencetak standar-standar baru di kelasnya sejak muncul pertama kali, Pixar mungkin menanggung beban sangat berat untuk mempertahankan kualitasnya. Walau masih terus mencetak hasil box office gede dan berjaya memenangkan banyak penghargaan, sejak Toy Story 3, kebanyakan produknya tak lagi sehebat dulu, menyisakan mungkin – Inside Out, yang juga sebenarnya tak terlalu spesial baik dari ide dan eksekusinya, dan Finding Dory yang lebih universal buat tontonan segala umur. Pergeseran visi atas kiprah John Lasseter sedikit banyak membuat film-filmnya belakangan terasa pretensius di atas konsep yang sangat dipaksakan, hingga makin jauh dari tontonan yang bisa dinikmati seluruh keluarga dalam statusnya sebagai animasi Disney.

Terombang-ambing di antara konsep orisinil (padahal Inside Out yang dianggap banyak orang orisinil pun tidak begitu pada kenyataannya) dan menggali konten klasiknya, untungnya, Coco, sejak awal menjanjikan sesuatu yang beda meski banyak dituding mengikuti The Book of Life, animasi Fox dan Reel FX yang diproduseri Guillermo Del Toro dalam berbicara soal kultur rakyat Meksiko dan merambah ranah gelap soal kematian di animasi musikal segala umur. Disutradarai Lee Unkrich dari Toy Story 3, Pixar ternyata masih kelihatan kurang percaya diri untuk kemudian mengemasnya bersama animasi pendek Disney yang berdurasi cukup panjang, Olaf’s Frozen Adventure yang jelas sangat dikenal sebagai spinoff Frozen yang sangat mendunia, namun mungkin juga punya relevansi sebagai animasi tontonan menyambut liburan natal bagi pangsa keluarga.

Dan Coco memang bukanlah berdiri di atas sebuah plot yang simpel. Justru bermain di atas kompleksitas tema, ia mengisahkan bocah berusia 12 tahun dari sebuah desa kecil Meksiko, Miguel Rivera (Anthony Gonzales), yang punya bakat musik dan bermimpi menjadi musisi – seperti aktor/penyanyi terkenal Ernesto de la Cruz (Benjamin Bratt) namun ditentang oleh keluarganya atas tradisi panjang keluarga mereka, pembuat sepatu turun-temurun yang mengharamkan musik karena ayah buyutnya meninggalkan istrinya, Imelda (Alanna Urbach) dan putrinya, Coco (Ana Ofelia Murguia) demi musik. Usaha Miguel menunjukkan bakatnya di perayaan Dia de los Muertos (Day of the Dead) berujung pada kemurkaan sang nenek, Elena (Renée Victor), yang menghancurkan gitarnya.

Tak lama, lewat sebuah foto keluarga di ofrenda (altar ritual keluarga), Miguel menyadari bahwa ayah dari buyutnya ternyata adalah Ernesto. Miguel pun berniat mencuri gitar terkenalnya, namun ini justru membawanya terjebak ke dunia kematian (Land of the Dead), bertemu dengan arwah-arwah keluarganya di balik sebuah misi mencari restu dari Imelda atau Ernesto sebelum matahari terbit buat membatalkan kutukan ini. Di sanalah Miguel kemudian menemukan kenyataan mengejutkan atas keberadaan Héctor (Gael Garcia Bernal), arwah yang tengah berjuang demi ingatan putrinya, yang ternyata menyimpan rahasia terhadap riwayat panjang keluarga Rivera.

Skrip dari Adrian Molina, co-director Coco bersama Matthew Aldrich berdasarkan ide keroyokan dari Unkrich, Molina, Aldrich dan Jason Katz memang sungguh bukan ide yang mudah buat diceritakan apalagi lewat tuturan narasi di film animasi bernuansa musikal. Di satu sisi, penggambaran land of the dead lewat karakter-karakter bertampilan tengkorak di kultur Meksiko sangat tidak anak-anak, begitu pula, seperti The Book of Life biarpun sama sekali tak sama, ada elemen-elemen mendalam soal kehidupan dan kematian hingga sugesti-sugesti gelap soal pembunuhan yang disemat ke dalamnya. Sementara keputusan mereka untuk mengangkat judul Coco yang notabene bukanlah karakter dengan POV penceritaan utama memang punya eksposisi sangat mendalam terhadap konklusi dari keseluruhan ide tadi.

Untungnya, Unkrich, Molina dan timnya bisa dengan cermat menyusun storytelling mereka untuk tetap mempertahankan kemeriahan animasi dengan membidik kultur khas event tahunan rakyatnya yang memang menjadi sebuah festival, perayaan dengan atmosfer sangat kontradiktif dan penuh warna yang sudah banyak kita lihat di film-film lain termasuk mungkin yang paling diingat, dua film James Bond; Live and Let Die dan Spectre. Di situ, desain animasinya tetap dibentuk di atas kedigdayaan visual Pixar yang masih sulit tergantikan hingga era animasi digital sekarang, sekaligus bisa menembus batas usia pemirsa walaupun mungkin tetap sulit dipahami usia balita lewat Lalo Alcaraz, kartunis Meksiko-Amerika, penulis panggung Octavio Solis dan CEO Mexican Heritage Corp, Marcela Davison Aviles sebagai konsultan kulturnya. Coco bahkan masih bisa leluasa menggelar komedi-komedi lucu hingga petualangan seru lewat karakter Dante, anjing jalanan yang menjadi sahabat Miguel dan versi mythical creature kultur Meksiko yang dinamakan Alebrije; seperti macan terbang bak naga raksasa.

Bersama keunikan tampilan dan kolaborasi taktis itu, nuansa musikal ala Disney/Pixar sebagai jembatan usia pemirsanya juga bisa mereka garap dengan sangat baik lewat komposisi Michael Giacchino dan lagu-lagu yang ditulis oleh Germaine Franco, Adrian Molina, Robert Lopez dan Kristen Anderson-Lopez. Sejumlah lagu-lagunya tetap terasa sangat segala umur berikut satu jagoan yang menyemat keseluruhan temanya ke dalam sebuah komposisi sangat indah, Remember Me; yang di dalam filmnya dinyanyikan dalam tiga versi; satu oleh Bratt, satunya oleh Bernal, Gabriella Flores & Libertad Garcia Fonzi dan satunya lagi oleh Anthony Gonzales dan Ana Ofelia Murguia. Masih ada pula sejumlah nama terkenal seperti Edward James Olmos, sutradara Alfonso Arau (A Walk in the Clouds, Like Water for Chocolate) dan Cheech Marin di deretan pengisi suaranya.

Namun di atas semua, kekuatan terbesar Coco sebagai salah satu produk terbaik Pixar dalam beberapa tahun belakangan, tetaplah ada pada cara Pixar mengeksploitasi emosi dengan benar lewat kisah-kisah yang mereka tampilkan. Bahwa di semesta animasinya, produk mereka tak pernah sekedar mau bermain-main dengan kesenangan belaka, tapi memuat banyak lapis-lapis hati dan kekuatan gagasan kalau enggan menyebutnya sebagai sebuah pesan. Di ujung akhirnya, membuat kita begitu ingin pulang untuk memeluk orang-orang yang kita cintai, Coco tak hanya bercerita soal seorang Miguel yang berjuang meraih mimpi dan passion-nya dalam bermusik, tapi bersama pertahanan emosi yang tak lagi bisa terbendung bersama jatuhnya air mata di balik kacamata 3D penuh kabut dan alunan komposisi Remember Me yang luar biasa menyayat, Coco adalah sebuah pengingat akan cinta, akar keluarga dan kenangan-kenangan indah yang tak seharusnya terlupa begitu saja. Such a wonderful tale of remembrance. (dan)

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter

Latest posts by danieldokter (see all)