Home » Dan at The Movies » BIOSCOPEWALA: TOKYO REVIEW (2017)

BIOSCOPEWALA: TOKYO REVIEW (2017)

BIOSCOPEWALA: A JOURNEY OF REDISCOVERING HOME, LOVE LOST AND FOUND

Sutradara: Deb Medhekar

Produksi: Handmade Films, 2017

© 2017 TIFF

Menjadi satu dari tiga film India yang masuk ke dalam seleksi Tokyo International Film Festival (TIFF) ke-30 selain film kontroversial dari Malayalam, Sexy Durga (Sanal Sasidharan) dan action thriller Tamil Vikram Vedha (Pushkar, Gayatri), sekaligus satu-satunya yang berkompetisi di segmen Asian Future sebagai World Premiere, Bioscopewala – karya debut penyutradaraan dari Deb Medhekar ini memang memilih bertualang dulu ke festival sebelum dirilis di negaranya.

Sebagai retelling modern dari cerita pendek karya penulis/tokoh literatur Bengali terkenal Rabindranath Tagore di tahun 1892, Kabuliwala (mengacu ke pedagang etnis Pashtun dari Kabul yang merantau ke Kolkata, India), yang juga sudah pernah diangkat ke film Hindi berjudul sama karya sutradara Hemen Gupta di tahun 1961, Bioscopewala mengisahkan seorang filmmaker dokumenter muda, Minnie Basu (Geetanjali Thapa) yang terpaksa kembali dari Perancis ke Kolkata kala ayahnya, Robi (Adil Hussain) meninggal dalam kecelakaan pesawat menuju Kabul, Afghanistan.

Minnie yang tinggal bersama pamannya sibuk mencari alasan sang ayah terbang ke Kabul lantas menemukan Rehmat Khan (Danny Denzongpa), seorang lelaki tua penderita Alzheimer yang dititipkan polisi seusai masa tahanan panjangnya. Awalnya menolak hak asuh ini, sebuah bagian masa lalu Minnie perlahan mulai terkuak kembali dalam ingatannya, membuatnya bertolak ke Kabul buat menelusuri jejak kisah pilu Rehmat yang dikenal sebagai Bioscopewala, pedagang Kabul yang mengembara di Kolkata menjajakan bioskop manual keliling di sana.

Skrip yang ditulis Medhekar berdasar ide produser Sunil Doshi memang bergerak dari cerita pendek Tagore itu, soal gambaran filial love – cinta orangtua terhadap anaknya, yang disampaikan secara metaforik lewat interkoneksi karakternya; Robi terhadap Minnie, Rehmat terhadap putrinya di balik riwayat perang di kampung halamannya, dan Rehmat terhadap Minnie – juga sebaliknya. Namun mereka dengan cermat meramu sematan kecintaan terhadap sinema ke dalam sebuah kisah pencarian hati dan ingatan yang sedikit banyak memang mengingatkan ke tema yang baru kita lihat dalam animasi Pixar, Coco.

Tak sepenuhnya bisa memanfaatkan kesempatan buat menjadi eksplorasi sejenis Cinema Paradiso dari India yang tertinggal sekedar subplot, walaupun secara menarik menggambarkan kultur hiburan anak-anak India pinggiran tahun ‘90an yang masih menikmati teknologi kuno bioskop manual keliling yang digerakkan dengan tangan buat menonton frame demi frame rol negatif film lewat lubang intip hingga perbandingannya ke bioskop kuno di daerah perbukitan Kabul, Medhekar lebih memilih bermain di plot utama soal keluarga.

Tak ada yang salah dengan pilihan ini, memang, namun terkadang Bioscopewala kerap terasa kelewat berlarut-larut dengan eksplorasi melodramatisnya. Begitupun, ia memang punya relevansi terhadap kisah-kisah imigran dan pengungsi perang yang masih menjadi isu dunia hingga sekarang, membuat Bioscopewala akhirnya bukan hanya sebuah drama namun juga kisah perjalanan dan pencarian yang cukup kaya.

Bermain sebagai Minnie, aktris peraih award Geetanjali Thapa (Liar’s Dice, Trapped) yang berasal dari etnis Sikkimese, daerah perbatasan Nepal yang kebetulan bernama sama dengan buku kumpulan puisi Tagore yang meraih Nobel, Gitanjali, tampil bagus sebagai penggerak utama Bioscopewala. Namun yang lebih menarik tentulah penampilan aktor veteran India Danny Denzongpa. Juga berdarah Sikkim dengan paras mendekati aktor Asia yang sangat tak Bollywood, karirnya yang terentang selama 4 dekade dengan hampir 200 film; juga merambah kursi sutradara lewat film horor berstatus acclaimed Phir Wahi Raat (1980) dan tampil bersama Brad Pitt di Seven Years in Tibet, jelas sudah membuktikan kualitas keaktorannya. Walau kerap dikenal sebagai pemeran tokoh antagonis, Danny juga berkali-kali menjadi protagonis utama dan ansambel jagoan seperti dalam Jagir (1984) bersama Dharmendra dan Mithun Chakraborty.

Di sisi teknis, dari set Kolkata ke Afghanistan, Bioscopewala juga punya desain set yang bagus dari Priya Suhas serta sinematografi Rafey Mahmood, juga alunan beberapa lagu dalam pengadeganan modern – bukan old-fashioned, dari Sandesh Shandilya dan Gulzar. Bukan sebuah melodrama tipikal Bollywood, namun memang kekuatan utamanya tetap terletak pada narasi menyentuh yang tersambung erat lewat benang merah soal cinta, kehilangan dan penemuan kembali. A journey of rediscovering home, love lost and found. (dan)

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter

Latest posts by danieldokter (see all)