Home » Dan at The Movies » MURDER ON THE ORIENT EXPRESS (2017)

MURDER ON THE ORIENT EXPRESS (2017)

MURDER ON THE ORIENT EXPRESS: BRANAGH PULLS BIG HEARTS AND ENSEMBLE IN AGATHA CHRISTIE’S CLASSIC WHODUNIT THRILLER

Sutradara: Kenneth Branagh

Produksi: Kinberg Genre, The Mark Gordon Company, Scott Free Productions, 20th Century Fox, 2017

Image: impawards.com

Penggemar novel detektif Agatha Christie pasti sudah pernah membaca Murder on the Orient Express sebagai salah satu karya klasiknya yang pertama kali dipublikasi tahun 1934 dan masih dicetak ulang hingga sekarang. Pernah diangkat ke layar lebar juga oleh Sidney Lumet di tahun 1974, yang paling diingat selain 6 nominasi Oscar di Academy Awards ke-74 tentulah ansambel bintang yang membawa nama-nama dari Ingrid Bergman, Jacqueline Bisset, Lauren Bacall, Anthony Perkins, Vanessa Redgrave hingga Sean Connery dan Albert Finney sebagai Hercule Poirot, tokoh pentolan detektif Belgia dari novel-novelnya.

Now here’s another fact. Sebagai salah satu sutradara Inggris terdepan di industrinya hingga ke Hollywood, tak banyak mungkin yang mengenalnya sebagai aktor hingga Branagh membawa Henry V, karya penyutradaraan keduanya yang merupakan adaptasi Shakespeare ke nominasi Oscar 1989 sekaligus buat Aktor dan Sutradara Terbaik. Dianggap salah satu adaptasi Shakespeare terbaik yang menyamai versi 1944 oleh Laurence Olivier dengan sosoknya yang disebut-sebut sebagai reinkarnasi Olivier, karir Branagh melambung menjadi sutradara spesialis remake adaptasi Shakespeare lewat Much Ado About Nothing (1993), Hamlet (1996), Love Labour’s Lost (2000) dan As You Like It (2006). Sejumlah film lain yang disutradarainya adalah Thor, Jack Ryan: Shadow Recruit dan Cinderella live action 2015.

Kiprah Branagh membuat ulang Murder on the Orient Express bersama produser Simon Kinberg dan Ridley Scott sejak awal publikasinya sudah mengundang perhatian karena selain kredibilitas nama-nama itu dalam konteks blockbuster, ia kembali menghadirkan ansambel bintang yang walau tak sebanyak versi Lumet tapi memuat nama-nama seperti Johnny Depp dan Michelle Pfeiffer, di antaranya, sementara Branagh mengambil estafet peran Poirot dari aktor-aktor sebelumnya. Begitupun, versi baru ini jelas pula punya resiko terutama sebagai genre whodunit (murder) thriller. Saat karya asli dan adaptasi-adaptasi filmnya tak lagi menyisakan rahasia terhadap twist siapa pelakunya, ke mana sebenarnya bidikan pangsanya? Pemirsa baru yang belum pernah tahu subjeknya, di mana dalam konteks Agatha Christie, lebih terdengar seperti generasi ignorant? Sekedar mengikuti proses-proses penceritaan ulangnya sebagai pengalaman sinematis? Atau justru ego pembuatnya untuk mencetak franchise baru tokoh Poirot dan source material-nya?

Versi Branagh kini membawa sepenggal pengenalan Hercule Poirot lewat sebuah kasus tuduhan kriminal terhadap pendeta – rabbi dan imam di Jerusalem. Menyelesaikan kasusnya dengan pendekatan Poirot versi Peter Ustinov – yang paling mendekati gambaran novel-novelnya, eksentrik, jenaka namun cerdas luar biasa dan kali ini sedikit terlihat obsesif-kompulsif bersama kumis uniknya, Poirot pun bertolak menaiki kereta Orient Express atas tawaran Bouc (Tom Bateman), direktur kereta untuk kembali ke London setelah bertemu dengan Dr. Arbuthnot (Leslie Odom, Jr.) dan pengasuh anak Mary Debenham (Daisy Ridley) di pelabuhan. Di dalam kereta, Poirot mendapat tawaran dari pengusaha kaya Samuel Ratchett (Johnny Depp) yang hendak menyewanya atas sebuah surat ancaman. Tak lama, setelah malamnya mendapati suara aneh di kompartemen Ratchett dan sesosok wanita berkimono melarikan diri di koridor, sebuah badai datang menghentikan kereta di tengah perjalanan mereka. Paginya, mayat Ratchett dengan 12 tusukan ditemukan.

Poirot pun memulai penyelidikannya bersama Bouc, menginterogasi satu-persatu penumpang dengan latar belakang berbeda; misionaris Pilar Estravados (Penélope Cruz), Profesor Gerhard Hardman (Willem Dafoe), Putri Dragomiroff (Judi Dench) dan pembantunya Hildegarde Schmidt (Olivia Colman), asisten dan pelayan Ratchett, Hector MacQueen – Edward Henry Masterman (Josh GadDerek Jacobi), janda Caroline Hubbard (Michelle Pfeiffer), Count Rudolph dan Countess Helena Andrenyi (Sergei Polunin & Lucy Boynton), penjual mobil Biniamino Marquez (Manuel Garcia-Rulfo) serta Arbuthnot dan Debenham. Penyelidikan ini kemudian mengarah pada kasus penculikan anak perempuan bernama Daisy Armstrong yang berujung pada sebuah tragedi keluarga dan jauh di baliknya, sebuah kenyataan mengejutkan yang bakal menghadapkan Poirot, sekali ini bukan hanya ke intuisi, tapi juga nuraninya.

Mengadaptasi source material yang sudah sangat dikenal ini, yang memang diinspirasi atas kasus nyata penculikan dan pembunuhan putra Charles Lindbergh, penerbang, penemu dan aktivis lingkungan Amerika di tahun 1932 – serta  pengalaman Christie sendiri saat menaiki Orient Express di tahun 1928 dan kasus-kasus kereta lain terperangkap di tengah bencana alam, Branagh bersama penulis skrip Michael Green yang tengah naik daun lewat Logan dan Blade Runner 2049 ternyata tak merombak twist-nya. Tetap setia pada alur novel aslinya, ia hanya memodifikasi sejumlah latar etnis karakter dan detil-detil proses investigasinya.

Begitupun, bukan berarti Branagh tak punya inovasi dalam penceritaan ulang sumbernya. Bergerak dengan ciri khasnya menggarap kebanyakan filmnya lewat pendekatan estetik yang beda serta penuh romantisasi dramatik yang seringkali terlihat bak sebuah panggung mewah bertabur rasa, juga eksplorasi cinta. Lihat bagaimana ia meromantisasi baik Thor, Jack Ryan dan Cinderella ke dalam atmosfer love story yang sangat kental, yang mungkin terlewat dari perhatian banyak pemirsanya.

Berperan sebagai eksekutor utama pendekatan estetik ini adalah DoP asal Siprus, Haris Zambarloukos, yang sudah menjadi kolaborator Branagh di Sleuth, Thor, Jack Ryan dan Cinderella. Di tangan Zamabarloukos, shot-shot yang ditampilkan di keseluruhan film benar-benar terlihat seperti pigura raksasa yang tengah diisi oleh lukisan-lukisan cantik secara bergantian. Sementara bersama unsur teknis lain dari bagian-bagian desain produksi dan penataan artistik, tata kostum dan komposisi musik yang selalu jadi bagian padu buat menyemat romantisasi ala Branagh itu juga tetap hadir. Scoring yang kali ini digarap oleh Patrick Doyle dengan theme song indah yang disuarakan Michelle Pfeiffer, Never Forget, juga mengiringi filmnya dengan kekuatan emosi yang benar-benar solid terhadap motivasi-motivasinya.

Dengan pendekatan ini, Murder on the Orient Express versi Branagh memang terlihat cukup berbeda dengan versi-versi sebelumnya – baik layar lebar dan televisi. Di tangannya, versi ini muncul serba mewah dan elegan, tanpa lagi mementingkan narasi-narasi penuh suspense dalam sebuah whodunit thriller konvensional. Walaupun ini bisa jadi resiko, Branagh tak pernah membuat penekanan dalam proses-proses eksekusi kriminal maupun investigasinya meski tetap menyelipkan beberapa adegan aksi. Instead, ia memilih untuk lebih menyorot detil karakter yang diperankan dengan baik oleh seluruh pengisi ansambelnya terutama Pfeiffer sebagai karakter paling menonjol menyaingi akting eksentrik Branagh, termasuk pertarungan dilematis Poirot di tengah intuisi dan nurani yang tampil sangat kuat menutup konklusi sekaligus membuka jalan ke kasus berikut yang bakal dihadapi Poirot dengan cerdas. Sebuah hint yang jelas bakal membuat penggemar karya Agatha Christie bersorak bahagia terhadap kemungkinan kelanjutannya.

Di atas semuanya, Branagh mengisi Murder on the Orient Express dengan elemen yang tak pernah kita bayangkan di versi-versi sebelumnya. Sebuah sematan kuat bernama hati, di mana Branagh lagi-lagi menunjukkan visi tak biasa-nya menggarap pola-pola penceritaan ulang dari sumber yang sudah dikenal sebelumnya. A pro like no other, Branagh pulls the big hearts and ensemble in this Agatha Christie’s classic whodunit thriller. (dan)

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter

Latest posts by danieldokter (see all)