Home » Dan at The Movies » DADDY’S HOME 2 (2017)

DADDY’S HOME 2 (2017)

DADDY’S HOME 2: AN EGGNOG DOSE OF CHRISTMAS SPIRIT, THE REAL DAD’S TREAT

Sutradara: Sean Anders

Produksi: Gary Sanchez Productions, Paramount Pictures, 2017

 

Image: impawards.com

Momen natal selau jadi hal penting dalam produksi Hollywood. Sebagai tradisi hiburan yang terus mereka pertahankan, dengan kehadiran instalmen-instalmen franchise yang makin menggeser film-film keluarga non-franchise, di tahun ini Daddy’s Home 2 memanfaatkan kesempatan buat mengisi slot-nya.

Sekuel dari film berjudul sama tahun 2015 karya Sean Anders, penulis Hot Tub Time Machine, She’s Out of My League dan We’re the Millers yang beralih ke kursi sutradara sejak Horrible Bosses 2 ini tetap menjual duet Will Ferrell dan Mark Wahlberg yang sebelum Daddy’s Home sudah berkolaborasi di The Other Guys, kini menambah lagi karakter dalam tema utamanya tentang fatherhood. Tentu, dalam eksposisi komedi gila ala Ferrell biasanya.

Tetap diarahkan Anders dan ditulis bersama John Morris minus Brian Burns – kreator ide aslinya, selain membawa Mel Gibson dan John Lithgow sebagai ayah-ayah barunya, sekuel ini melanjutkan kisah Brad Whitaker (Ferrell) dan Dusty Mayron (Wahlberg) yang sudah berdamai dari perseteruan mengasuh anak-anak mereka dari Sara (Linda Cardellini). Menyambut rencana liburan natal bersama atas keluhan Megan (Scarlett Estevez) di sebuah acara sekolah, bibit persaingan itu kembali muncul dan diperparah dengan kehadiran Kurt (Mel Gibson), ayah Dusty yang eksentrik dan bertolak belakang dengan Don (John Lithgow), ayah Brad. Pasalnya, Kurt, seperti ketakutan Dusty yang tak pernah terlalu dekat dengannya, memang punya rencana busuk buat membakar perseteruan ini kembali, sementara Don sebenarnya menyimpan sesuatu dari Brad. Meramaikan konflik ini, juga ada istri baru Dusty, Karen (Alessandra Ambrosio) dan putrinya dari Roger (John Cena), Adrianna (Didi Costine) yang gemar mem-bully Dylan (Owen Vaccaro), kakak Megan. Bisa ditebak, liburan antara karakter-karakter yang mencoba berbaur di atas problem disfungsional segi banyak ini pun dipenuhi serangkaian kekacauan bak benang kusut, kali ini bukan saja membawa Brad dan Dusty kembali berhadapan di tengah arenanya, tapi juga Roger yang menyusul ke resort mereka.

Lewat skrip Anders dan Morris yang memang terlihat masih punya amunisi buat melebarkan konflik buat menyemat sick jokes-nya, Daddy’s Home 2 memang masih tak beranjak dari motivasi-motivasi serupa, namun tahapan-tahapan komediknya jadi terasa benar-benar segar dengan kehadiran Gibson – yang muncul dengan hint-hint tribute ke Riggs, karakter legendarisnya di Lethal Weapon, dan Lithgow yang membentuk chemistry komedi jempolan bersama Ferrell tak kalah dari GibsonWahlberg. Ini seperti jadi perang dua kubu father to son yang sangat asyik buat disaksikan.

Di permukaan, yang terlihat mungkin hanya permainan penuh canda biasa di genre-nya, tapi sebenarnya Anders dan Morris sangat cermat menyelipkan problem-problem keluarga modern yang sangat relevan serta komunikatif ke dalamnya. Jokes-nya bisa jadi kerap terasa kurangajar, namun bekerja dengan pas buat membawa kehangatan dan hati ke tengah-tengahnya sebagai sajian natal untuk seluruh keluarga. Di tengah komedi gila yang mereka gelar, kadang dengan kadar over seperti orang mabuk, Daddy’s Home 2 tetap bisa membalut penyelesaian chaos comedy-nya penuh semangat natal sesuai dengan tendensinya, juga bicara cukup bijak soal pro dan kontra masalah pengasuhan anak.

Bagusnya lagi, seperti komedi-komedi khas genre-nya yang tak bisa tidak harus diakui lahir dari film-film Adam Sandler, untuk penekanan feel festive suasana natalnya, Daddy’s Home 2 hadir dengan trivia kuat bak sebuah playlist/mixtape vintage yang sangat beratmosfer ‘Bapak’ bagi generasi sekarang. Dari If You Leave Me Now-nya Chicago, Open Arms-nya Journey hingga Man In Motion (St. Elmo’s Fire)-nya John Parr, mereka juga menempatkan lagu natal kontemporer Do They Know It’s Christmas (Feed the World) dari Band Aid tak hanya sebagai pengisi soundtrack, namun juga sebagai tribute luarbiasa menarik bahkan dibawakan ulang oleh karakter-karakternya. Bersama itu, mereka juga menyentil pop kultur film lewat sindiran ke Liam Neeson dengan film fiktif berjudul plesetan ke mistletoe, Missile Tow. Ada pula cameo menarik di epilog-nya, yang mungkin memang akan lebih akrab ke pemirsa domestik mereka.

Lagi-lagi, buat penonton yang tak punya banyak referensi, ini bisa jadi hanya elemen sambil lewat buat mengiringi gelaran komedinya. Namun buat yang lebih memahami homage dan referensi-referensinya, faktor ini jelas menjadi sajian meriah yang tak boleh dilewatkan begitu saja, apalagi kalau suka dengan instalmen pertamanya. The more the merrier, seperti tagline-nya; More Daddies. More Problems, Daddy’s Home 2 works like an eggnog-overdose of Christmas Spirit, tapi juga sekaligus memberikan kehangatan luar biasa dalam konsep-konsep fatherhood dan pengasuhan anak. The real Dad’s treat! (dan)

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter

Latest posts by danieldokter (see all)