Home » Dan at The Movies » MAU JADI APA? (2017)

MAU JADI APA? (2017)

MAU JADI APA?: A RARE JOURNALISM SUBPLOT IN COLLEGE COMEDY

Sutradara: Monty Tiwa & Soleh Solihun

Produksi: Starvision, Mizan Production, 2017

Ada sebuah trend buat komika atau penulis komedi Indonesia yang biasanya muncul lewat buku pertama mereka; mengangkat kisah hidupnya sendiri. Beralih ke adaptasi film, ini sudah dilakukan oleh Raditya Dika di sejumlah film-filmnya, Ernest Prakasa di Ngenest dan terakhir mungkin ada di Cado-Cado (Catatan Dodol Calon Dokter)-nya Ferdiriva Hamzah yang sedikit lebih mengarah ke komedi perkuliahan dan menjurus ke profesi tertentu. Ini tentu sebuah kelebihan yang belum tentu bisa didapatkan semua komika/penulis komedi, apalagi yang memainkan karakter mereka sekaligus menyutradarai sendiri. Bisa berdasarkan popularitas mereka, atau mungkin juga konten source yang dinilai cukup kuat buat diangkat.

Kali ini, menjadi giliran Soleh Solihun lewat judul yang terdengar cukup unik, Mau Jadi Apa? yang disutradarainya sendiri bersama Monty Tiwa, kisah yang diangkat adalah cerita perkuliahan Soleh di Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) UNPAD, Bandung di akhir ‘90an. Sedikit beda dengan rekan-rekannya, sebagai memoir, Mau Jadi Apa? memang bukan buku pertama Soleh dan disiapkan berbarengan dengan rencana filmnya bersama Mizan Production. Ide yang ditarik balik ke pertanyaan universal saat seseorang menimba ilmu itu memang jadi hal menarik, namun ada yang lebih langka dalam skup jurusan atau profesi yang diangkat lewat skripnya – ditulis sendiri oleh Soleh, bahwa konflik-konfliknya tak sekedar di atas kisah persahabatan atau coming of age biasa, tapi juga memuat elemen jurnalistik yang selain jadi latar karir Soleh sebelum menjadi seorang komika (ia pernah bekerja di Trax, Playboy Indonesia dan Rolling Stone), juga masih jarang diangkat ke film kita.

Memerankan dirinya sendiri, Soleh yang ketika kuliah masih berambut gondrong kecantol pada mahasiswi cantik, Ros (Aurelie Moeremans) yang punya kesamaan selera musik sebagai Slankers hingga bergabung di sebuah media kampus Fakta Jatinangor (Fakjat) yang dikelola Panji (Ronal Surapradja). Sayangnya visi Soleh selalu ditolak oleh Panji yang diam-diam juga menyukai Ros. Bersama teman-teman kampusnya; Marsyel (Adjis Doaibu), Eko (Awwe), Lukman (Boris Bokir), Syarif/Arab (Ricky Wattimena) dan Fey (Anggika Bolsterli), mereka pun mendirikan media tandingan; Karung Goni, yang bertolak belakang dengan Fakta Jatinangor yang serba idealis. Menjadi media populer yang membahas musik, konsultasi asmara, gosip hingga Campus Babes bak majalah remaja, Karung Goni pun dengan cepat menjadi media alternatif yang digandrungi para mahasiswa. Namun kemudian terkait kasus pelecehan terhadap dua mahasiswi ‘kembar’ (Aci Resti dan Poppy Sovia) yang melibatkan seorang dosen senior, Soleh dan rekan-rekannya terpaksa berhadapan dengan sidang yang mempertanyakan etika jurnalistik mereka. Taruhan terberatnya ada pada Soleh sendiri yang siap menerima hukuman untuk dikeluarkan dari universitas karena dituduh mencemarkan nama baik Fakultas.

Tak bisa dipungkiri, ide yang tertuang dalam Mau Jadi Apa? memang menarik. Ia tak hanya bicara soal suka-duka perkuliahan yang jelas juga menyiratkan gimmick nostalgik bagi para alumnus fakultasnya, tapi juga punya kritik sosial terhadap tipe-tipe di balik etika media dan jurnalistik. Belum lagi sematan subplot soal pelecehan seksual yang sekarang tengah marak di mana-mana, dan tentunya tata artistik bagus yang menghidupkan set-nya dengan ‘90s tidbits, dari props, printilan lain hingga juga tampilan lagu-lagu di era-nya. Sayangnya, jalinan plot-nya tak terjahit benar-benar rapi atas banyaknya ide yang ingin disampaikan oleh Soleh.

Kerap terasa tumpang tindih, di satu sisi, ia terlihat ingin menarik tema perkuliahan dan interaksi karakter-karakternya secara mendasar di atas pertanyaan yang menjadi judulnya bak film-film komedi kampus dengan ide mendalam macam 3 Idiots, namun di sisi lain, subplot per karakter yang mewarnai penceritaannya sering membuat fokusnya sangat terbagi. Sementara, konflik yang memuat ide-ide seputar jurnalistik itu juga sering jadi terpinggirkan sebelum akhirnya menyeruak menjadi konflik utama, belum lagi kisah pribadi Soleh dengan Ros yang seharusnya berdiri di atas motivasi terjelas karakternya namun berakhir hanya sekedar pengiring plot-nya saja. Peralihan komedi ngocol dan sisi dramatisnya yang tak cukup baik tergarap pun seringkali menjadi distraksi satu sama lain, di atas chemistry yang tak terbangun sempurna dalam kisah persahabatannya.

Begitupun, meski gagal tampil menyentuh di interaksi dramatis antar karakter tadi, Mau Jadi Apa? tetap bisa meletakkan jokes-nya sebagai kekuatan utama yang membuat kita betah menyaksikan filmnya lewat supervisi komedi dari Bene Dion Rajagukguk yang kian memantapkan keahliannya di bidang ini. Paling tidak, semua cast-nya bisa mendapatkan kesempatan melontarkan joke-joke lucu bersama gaya komedik khas poker-face-nya Soleh yang memang sudah akrab bagi pemirsa film kita. Paling tidak, di sisi ini Soleh dan Monty masih bisa mengundang gelak tawa lewat amunisi komedi yang mereka gelar di sepanjang film. Cameo-cameo yang muncul bergantian ala Starvision – dari Karina Suwandi, Budi Dalton, Tarzan, Joe dan Iang P Project, Surya Saputra, Gading Marten, Andhika Pratama, Jeff Smith bahkan Hetty Koes Endang, di antaranya, tetap bisa menjadi daya jual tambah buat Mau Jadi Apa?.

Di ansambel komedinya sendiri, selain Soleh, Mau Jadi Apa? masih punya sejumlah kelebihan yang layak dicatat. Bermain sebagai Fey, Anggika berakting lepas menanggalkan status babes di film-filmnya, membuat kita bisa percaya ia adalah sosok mahasiswi biasa dalam batasan berbeda dengan Ros yang diperankan dengan menarik oleh Aurelie, atau juga cameo Putri Marino setelah penampilan memukaunya dalam Posesif. Sementara Aci Resti dan Poppy Sovia yang tanpa disangka bisa mengisi tektokan mereka bak sebuah duo komedian wanita benar-benar jadi scene-stealer, dan bagian yang menampilkan cameo Ernest Prakasa dengan hint trivia ke Cek Toko Sebelah jadi salah satu highlight terlucu dalam Mau Jadi Apa?.

Untungnya lagi, Mau Jadi Apa? juga punya finale bagus yang menampilkan tokoh-tokoh asli yang diperankan para komedian ini, yang bukan saja pada akhirnya punya relevansi terhadap gaya penceritaan breaking the fourth wall oleh Soleh di sepanjang film, tapi juga memuat esensi yang mereka semat ke judul itu. Ini memang bukan kiprah debut yang sempurna dari Soleh Solihun, tapi juga bukan sesuatu yang gagal. Paling tidak, ia bisa tampil segar sebagai komedi perkuliahan dengan subplot yang jarang-jarang ada – dan memang dikemas cukup baik bersama sentilan-sentilan yang memenuhi final act-nya; sebuah komedi jurnalistik yang tetap menarik buat disimak. (dan)

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter

Latest posts by danieldokter (see all)