Home » Dan at The Movies » WONDER (2017)

WONDER (2017)

WONDER: AN EXTRAORDINARY JOURNEY WITH A POWERFUL MESSAGE TO SPREAD KINDNESS

Sutradara: Stephen Chbosky

Produksi: Lionsgate, Mandeville Films, Participant Media, Walden Media, TIK Films, 2017

Image: impawards.com

Menjadi subgenre drama yang mungkin cukup jarang diangkat di Hollywood, film-film yang berkisah tentang family struggle atas sebuah kondisi disabilitas oleh penyakit tertentu; seringkali sebuah penyakit langka, memang punya resiko. Sebut sebagian di antaranya yang paling dekat dengan Wonder – yang merupakan adaptasi novel berjudul sama tahun 2012 karya R.J. Palacio, dalam konteks tone film keluarganya adalah Simon Birch (Mark Steven Johnson, 1998) dan The Mighty (Peter Chelsom, juga 1998), sementara dari sisi kondisi medis; Elephant Man (David Lynch, 1980) dan Mask (Peter Bogdanovich, 1985). Sebelum Wonder ada pula Breathe karya Andy Serkis yang sama-sama berada di seputaran disabilitas oleh penyakit. Ada resiko di situ karena tak seperti melodrama Asia yang cenderung mudah sekali mengeksploitasi penderitaan atas penyakit, pendekatan Hollywood jauh lebih dari itu. Rata-rata, film-film itu memang punya sisi lain ketimbang sekedar menggelar melodrama menye-menye.

Dari dua yang terdekat ke kondisinya, sebuah deformitas namun jauh berbeda dari tipe penyakit bawaannya; Elephant Man mengangkat kisah nyata Joseph Merrick yang dulunya disalahartikan sebagai Neurofibromatosis namun setelah ditelaah lebih lanjut lebih mengarah ke Proteus Syndrome sementara Mask mengangkat kondisi Craniodiaphyseal Dysplasia, kelainan tulang secara genetik – autosomal resesif yang juga mengancam nyawa, Wonder mengetengahkan kondisi berbeda lagi. Sindroma bawaannya dikenal dengan istilah Mandibulofacial Dysostosis atau Sindroma Treacher-Collins, kelainan genetik autosomal dominan sangat langka yang menyebabkan deformitas wajah walaupun tak mengancam nyawa kecuali bila ada komplikasi masalah pernafasan.

Kelainan inilah yang lantas disemat secara fiktif ke tokoh utamanya, bocah August ‘Auggie’ Pullman untuk menggelar keseluruhan kisahnya. Diarahkan oleh Stephen Chbosky, sutradara The Perks of Being a Wallflower dan penulis Beauty and the Beast live action, kekuatan Wonder juga ada pada nama besar tiga lead utamanya; Julia Roberts, Owen Wilson dan aktor cilik dari Room; Jacob Tremblay  sebagai Auggie.

Hidup di North River Heights, upper Manhattan bersama ayah-ibu dan kakaknya, Nate (Owen Wilson), Isabel (Julia Roberts) dan Olivia/Via (Izabela Vidovic), Auggie (Tremblay) yang sudah berpuluh kali menjalani operasi plastik untuk memperbaiki kondisinya berniat untuk masuk ke sekolah privat Beecher Prep melanjutkan program home-schooling-nya sejak kecil. Auggie yang cerdas dalam bidang science namun menghadapi penolakan hingga tindak bully dari rekan-rekan sekolahnya terutama Julian (Bryce Gheisar) awalnya sempat goyah, apalagi ketika Jack Will (Noah Jupe), anak yang bersimpati pada Auggie dan kemudian menjadi sahabatnya didapatinya punya maksud tersembunyi. Sementara Via yang punya problem sendiri di antara pengkhianatan sahabatnya Miranda (Danielle Rose Russell) dan hubungannya dengan Justin (Nadji Jeter) mulai merasa tersisihkan oleh Isabel. Konflik ini terus berkembang dari sekolah hingga keluarga, menempatkan Auggie terombang-ambing buat bertahan menyelesaikan pendidikannya. Namun baik Nate, Isabel dan Via, juga tak semudah itu membuatnya menyerah.

Menggunakan plot mendasar soal disabilitas akibat penyakit bawaan namun tak sekalipun terasa dieksploitasi buat sisi melodramatisnya, skrip Wonder yang ditulis oleh Jack Thorne (War Book, A Long Way Down), Steven Conrad (The Pursuit of Happyness, The Secret Life of Walter Mitty) dan Chbosky memang punya setup baik sekali untuk menggelar pesan lebih besar soal interaksi keluarga, persahabatan hingga kemanusiaan bahkan anti-bully seperti yang terangkum dalam novel Palacio. Mereka tak lantas serta merta meletakkan Auggie dengan POV yang terasa sangat polos sesuai usia karakternya sebagai satu-satunya sentral penceritaan, tapi juga membagi chapter-nya terhadap orang-orang di sekeliling Auggie untuk dua sisi testimoni yang unik.

Kadang bisa terasa sangat naif, tapi lewat quote-quote dan dialog bijak yang disemat tanpa jadi pretensius, di ujung akhirnya, mereka bisa membuat kita percaya terhadap semua pesan kebaikan yang mereka sampaikan secara relevan. Seringkali pesan-pesan itu disampaikan dengan verbal namun kepekaan Chbosky menggelar penceritaannya membuat Wonder tak sekalipun terasa menggurui, namun justru menghantam nurani terdalam pemirsanya seperti sebuah konsep pay-it-forward yang sangat manusiawi. Di tengah nuansa dan atmosfer natal pula sebagai film keluarga yang sangat teduh dinikmati di momen-momen liburan, dan satu yang paling menarik, ada homage yang kuat terhadap Star Wars di dalam penekanan elemen science sebagai alegori pelarian lewat dunia imajinasi Auggie.

Dan Wonder tak akan seberhasil itu tanpa dukungan cast yang ditempatkan dengan tepat ke masing-masing karakternya. Sudah lama sekali rasanya kita tak melihat akting sebegitu cemerlang dari Julia Roberts. Tetap menghadirkan sisi charming dan tawa lepas khasnya yang sangat melekat sejak Pretty Woman, dialog-dialog berisi quote penting dalam skrip itu bisa tersampaikan dengan sangat baik. Sementara Wilson tak berbuat terlalu banyak namun muncul seperti katalis; peneduh yang bekerja dengan pas di tengah konfliknya, Jacob Tremblay sangat menonjol memerankan Auggie dengan kepolosan berbeda dari kiprah ajaibnya lewat Room. Pemeran Via, Izabela Vidovic pun sama kuatnya.

Bersama mereka, sejumlah aktor-aktris muda yang muncul dalam Wonder juga membuat kita percaya bahwa mereka punya masa depan bagus dalam kelanjutan karirnya. Ada faktor pengarahan yang sangat, sangat kuat dari Chbosky dalam merangkai keseluruhan penceritaannya buat memunculkan akting terbaik dari talenta-talenta muda ini. Bahkan Daisy, anjing kecil peliharaan keluarga Pullman pun bisa ditempatkan sangat menarik buat mengisi momen-momen dramatisnya. Danielle Rose Russell sebagai Miranda dan Noah Jupe sebagai Jack Will yang tak dipoles secara hitam putih dalam eskalasi konfliknya menjadi kontender terkuat, sementara masih ada Millie Davis sebagai Summer, Bryce Gheisar sebagai Julian, Daveed Diggs sebagai Mr. Browne, Nadji Jeter sebagai Justin hingga dua pemain senior Mandy Patinkin sebagai kepala sekolah Mr. Tushman dan aktris Brazil Sonia Braga yang mampu memberi rasa di tengah penampilan singkatnya sebagai sosok terdekat bagi karakter Via.

Di sisi teknisnya, Wonder juga punya sinematografer veteran handal Don Burgess (Forrest Gump, Spider-Man, Enchanted – di antaranya) serta pianis-komposer asal Brazil Marcelo Zarvos (Fences) yang mengisi emosi tepat ke tiap dramatisasi dan pengadeganannya. Sementara editing Mark Livolsi (Wedding Crashers, The Devil Wears Prada, The Jungle Book) merangkai chapter demi chapter POV-nya dengan jahitan sangat rapi buat menambah rasa.

Lewat sebuah quote terkenal dari Dr. Wayne W. Dyer yang dikutip Palacio dalam source novelnya, “When given the choice between being right and being kind, choose kind”, juga dijadikan tagline dan dihadirkan Chbosky ke salah satu adegan terbaiknya, Wonder sungguh bukan sebuah drama biasa soal disabilitas atau kecacatan fisik. Instead, ia membawa kita ke sebuah perjalanan tak biasa di tengah pesan-pesan humanis yang sangat berharga, memilih tone uplifting dan heartwarming ketimbang eksploitasi bernada depresif. Mengetuk hati dan menghentak nurani, ia boleh jadi habis-habisan menguras emosi tapi di ujung akhirnya tetap mampu membuat kita membuka mata di atas sebuah senyum dan keyakinan bernama harapan. Bagus sekali! (dan)

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter

Latest posts by danieldokter (see all)