Home » Dan at The Movies » SUSAH SINYAL (2017)

SUSAH SINYAL (2017)

SUSAH SINYAL: REDISCOVERING HEART’S LOST SIGNALS IN RELATIONSHIPS

Sutradara: Ernest Prakasa

Produksi: Starvision Plus, 2017

Ada alasannya mengapa berbeda dengan komika lain, sejak karya pertama yang ditulis dan disutradarainya sendiri; Ngenest (2015), Ernest Prakasa bisa melambung bahkan menerobos deretan award contenders. Jawabannya adalah konten. Saat komika atau komedian yang lain mungkin punya konsep tak jauh berbeda dari yang lain dalam menggarap self-stories atau bidikan tema lain yang sudah biasa kita lihat, dengan keberadaan etnisnya, Ernest justru punya amunisi berbeda dalam lawakan lintas kultural. Ia tak segan menggelar mocking ke kulturnya sendiri – yang mungkin masih jarang-jarang diangkat, bahkan menyenggol satir sosial atas relevansi ke kondisi interaksi multietnis yang ada sekarang.

Itu juga mungkin mengapa ia masih terus berkibar di karya keduanya, Cek Toko Sebelah, yang lagi-lagi mengangkat soal label dan stereotip itu, tentu dengan selipan humor jenaka di mana ia turut serta membawa rekan-rekannya membentuk sebuah ansambel komedi yang solid. Dan di atasnya, Ernest juga menyimpan kepekaan lebih untuk tak terus melucu, tapi juga merangkum komedinya dengan hati di balik kemasan kisah-kisah keluarga yang menyentuh, tetap di bawah naungan rumah produksi Starvision yang terkenal sangat akomodatif meng-handle kebebasan kreatif talenta-talentanya akhir-akhir ini.

Namun terus-menerus berpijak di sana jelas juga akan punya resiko. Berhasil menghindar dari sophomore slump – ketakutan terbesar seorang filmmaker debutan di Cek Toko Sebelah, bahkan lebih baik dari Ngenest, Ernest agaknya sadar akan hal ini. Effort eksploratifnya tetap hadir dari pilihan judul yang unik, catchy sekaligus tak kehilangan relevansi; Susah Sinyal, dan ia rela mundur selangkah untuk tak lagi jadi spotlight panggung utama buat mengangkat soal label dan stereotip etnisnya ke sentral penceritaannya, walau bukan berarti menghilangkannya sama sekali. Instead, ia menggerakkan Adinia Wirasti dan seorang aktris muda Aurora Ribero menempati formasi terdepan sambil terus bermain dengan ansambel komediknya. Terdengar sangat taktis, tapi juga, overall, harus diakui – penuh perhitungan.

Ellen Tirtoatmodjo (Adinia Wirasti), single mother yang sibuk mengurus karirnya sebagai pengacara buat membuka firma pribadinya sendiri bersama partner sekaligus sahabatnya, Iwan (Ernest Prakasa), terpaksa kehilangan waktu buat mengurus putri tunggalnya, Kiara (Aurora Ribero) yang tengah beranjak remaja. Awalnya, hubungan tak harmonis antara Ellen yang serba praktis dan Kiara, remaja pemberontak yang mengalihkan emosinya ke media sosial dan punya ambisi membawa talenta musiknya ke sebuah ajang pencarian bakat, masih bisa terjembatani lewat ibu Ellen, Agatha (Niniek L. Karim). Namun saat Agatha yang selama ini dengan telaten menjadi sahabat satu-satunya buat Kiara tiba-tiba meninggal dunia, ibu dan anak ini mau tak mau mulai berusaha memperbaiki hubungan mereka. Berlibur berdua ke Sumba yang ternyata jauh dari bayangan Kiara atas aktivitas media sosialnya justru memicu konflik baru, sementara kasus perebutan hak asuh anak yang tengah digelar antara seorang seleb (Giselle Anastasia) yang bercerai dengan suaminya (Gading Marten) juga ikut menyita perhatian Ellen buat mencoba memperbaiki sinyal-sinyal yang hilang dalam hubungannya bersama Kiara.

Sedikit berbeda dengan Ngenest dan Cek Toko Sebelah, Susah Sinyal memang punya story line yang lebih kompleks. Di depannya ia mungkin terlihat hanya seperti mother to daughter story, kisah hubungan ibu sibuk dan anak remaja pemberontak yang bukan lagi jadi hal baru secara tematik, namun layer-layer konfliknya juga sesekali mencoba bermain di ranah legal romcom ala Intolerable Cruelty dengan kehadiran Giselle, Gading serta Darius Sinathrya sebagai Aji, pengacara perceraian mantan firma Ellen yang berhadapan dalam kasusnya sementara diam-diam menyukai Ellen. Belum lagi sempalan subplot talent show dan set Sumba yang membawa Asri Welas sebagai pemilik hotel back to nature yang eksentrik – Tante Maya, bersama ponakan gantengnya Abe (Refal Hady) yang menarik hati Kiara, dua pelayan gendeng Yos dan Melki (Abdur Arsyad dan Arie Kriting) berikut tamu-tamunya (Chew Kin Wah, Selfi Nafilah, Ge Pamungkas, Angie Ang), serta tentu saja ensemble comedy show dari asisten rumah tangga Ellen (Dodit MulyantoAci Resti), rookie lawyer Astrid (Valerie Thomas) hingga senggolan etnis karakter Iwan dan ibunya yang diperankan Dayu Wijanto. Semua supporting cast ini bermain menarik memainkan karakter mereka, terlebih Niniek L. Karim dan Dayu Wijanto meski tak tampil banyak. Sementara Ernest justru terlihat jauh lebih nyaman berada di porsi pendamping dengan lontaran cultural jokes-nya.

Untungnya, skrip yang ditulis Ernest dan real life spouse-nya, Meira Anastasia, mampu mengemas kompleksitas itu untuk bisa mengalir lancar di tengah dramatisasi dan komedinya. Ada batasan jelas antara main dan masing-masing subplot-nya meskipun terkadang dramatisasinya tak bisa menyamai pencapaian Ernest di Cek Toko Sebelah walau Adinia Wirasti bermain baik sekali bersama Aurora sebagai debut sentralnya. Tapi yang jelas ia bersama Meira tak terlihat kepayahan merangkai elemen-elemen mish-mash itu buat bisa berbaur cukup solid dengan komedi yang tetap mampu meledakkan tawa dengan berbagai cara. Sisi hukumnya juga terlihat di kredit tak digagas secara sembarangan, namun punya kesadaran untuk memberi kredit pada sejumlah konsultan ahli yang masih jarang-jarang disadari banyak sineas kita.

Dan satu yang paling unik, Susah Sinyal juga membawa keindahan Sumba yang terasa sangat heartwarming dengan sisi pantainya, berbeda dengan selama ini yang ditampilkan di film-film Indonesia lain dari Pendekar Tongkat Emas ke Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak oleh tata sinematografi Edi Michael Santoso (credited as Edy Michael) yang sebelumnya sudah merekam keindahan panoramik regional Atambua dalam Aisyah, Biarkan Kami Bersaudara. Penyuntingan Cesa David Luckmansyah dan scoring dari Aghi Narottama, membaur bersama iringan soundtrack dari The Overtunes, Rendy Pandugo, Ardhito Pramono dan Stars and Rabbit juga menjadi nilai lebih dalam Susah Sinyal. Selebihnya, dalam pakem film-film produksi Starvision, selain ansambel komika yang meriah termasuk Soleh Solihun, Arief Didu, Bene Dion Rajagukguk, Lolox, Gita Bhebita, Muhadkly Acho dan banyak lagi, Susah Sinyal juga masih diramaikan oleh cameo yang diisi dari Jerinx SID, putri Ernest, Sky Tierra Solana, Cut Beby TshabinaStella Cornelia, Ardit Erwandha hingga Andien Aisyah dan Slamet Rahardjo Djarot.

Di tengah kemasan komedinya yang dipenuhi gelak tawa, Susah Sinyal tetap menunjukkan kepiawaian Ernest sebagai arsitek pembangun konsep film komedi berbeda dengan values yang dikemas bersama heart factor kuat. Bahwa di balik pemilihan judul yang terdengar jenaka itu, sama seperti Ngenest dan Cek Toko Sebelah, ia selalu punya nilai berharga untuk disampaikan ke tengah-tengah sempalan dramatisasi yang tak lantas saling mendistraksi bangunan komedi yang bahkan masih berlanjut hingga ke gelaran end credits. Ini mungkin sesuatu yang harusnya tetap dipertahankan oleh Ernest dalam karya-karyanya. Kembali ke konsep terbaik film komedi yang bisa membuat kita tertawa dengan mata berkaca-kaca, mengingatkan kita kembali kekuatan hubungan keluarga, Susah Sinyal adalah lagi sebuah winning home run dari Ernest. Fly through the heartwarming charm of Sumba, it took us rediscovering heart’s lost signals in life’s closest relationships. Of course, with tons of hilarious laugh! (dan)

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter