Home » Dan at The Movies » THE GREATEST SHOWMAN (2017)

THE GREATEST SHOWMAN (2017)

THE GREATEST SHOWMAN: THE NOBLEST ART OF A CINEMATIC MUSICAL GRANDEUR

Sutradara: Michael Gracey

Produksi: Chernin Entertainment, Seed Productions, Laurence Mark Productions, TSG Entertainment, 20th Century Fox, 2017

Image: impawards.com

Meski kerap dinilai segmented, film musikal adalah sebuah genre yang tak pernah mati, tapi justru terus berinovasi seperti perkembangan musik sendiri. Saat sebagian masih ada yang berkutat di bentuk klasik sementara sebagian lagi sepenuhnya up-to-date, inovasi terbaik di antaranya sebenarnya adalah yang bisa mengkombinasikan keduanya. Itu juga yang dilakukan La La Land tahun lalu; yang membuatnya menjadi kontender award dengan WOM yang berkembang pesat membuatnya sebagai sebuah musikal klasik zaman sekarang, yang mengangkat genre-nya untuk mendobrak segmentasi tipikal tadi.

The Greatest Showman, film musikal yang diinspirasi dari sosok nyata Phineas Taylor / P.T. Barnum (1810-1891), penemu Sirkus Barnum & Bailey (1871 – 2017; baru saja berhenti beroperasi 7 bulan sebelum film ini dirilis) yang kontroversial bagi sebagian orang, sama seperti pandangan yang kini bergeser terhadap sirkus sendiri sebagai tindak eksploitatif baik bagi anggota dengan disabilitas fisik dan hewan – dalam perkembangannya, bahkan melangkah lebih jauh lagi dalam inovasi musikalitasnya.

Hugh Jackman yang memerankan Barnum pun kabarnya sudah berjuang 7 tahun sebagai salah satu penggagas awalnya untuk mengangkat kisah ini ke layar lebar hingga akhirnya diberikan lampu hijau oleh Fox di tahun 2009, namun baru terlaksana beberapa tahun setelahnya. Walau tak dijual terutama sebagai sebuah biopic, kisah hidup Barnum diambil dari banyak sumber termasuk buku memoir yang ditulis Barnum sendiri, oleh Jenny Bicks (Leap of Faith, What a Girl Wants, Rio 2), penulis skripnya bersama Bill Condon, nama yang sudah sangat punya kredibilitas di genre musikal lewat Chicago, Dreamgirls dan Beauty and the Beast live action selain dua instalmen final The Twilight Saga: Breaking Dawn. Bersama lampu hijau di 2009 itu, buku biografi Barnum; The Great and Only Barnum: The Tremendous, Stupendous Life of Showman P.T. Barnum,yang dikemas secara menarik oleh penulis Candace Fleming dan ilustrator Ray Fenwick, diluncurkan seolah menjadi template dasar buat bangunan dan gaya penceritaannya. Seperti sosok Barnum sendiri; yang katanya cenderung narsis, bombastis tapi juga sangat festive.

Menggamit duo komposer-lyricist Benj Pasek dan Justin Paul (Pasek and Paul) yang juga menggarap lagu-lagu dan lirik di La La Land, The Greatest Showman cukup percaya diri meletakkan kepercayaan terhadap debut Michael Gracey, sutradara asal negeri sama dengan Jackman, Australia, yang sebelumnya berkarir sebagai digital artist/compositor dan VFX supervisor di sejumlah film seperti Ned Kelly. Walau kabarnya sempat dibantu oleh sutradara James Mangold – yang bukan juga nama kredibel dalam musikal, untuk melakukan sejumlah reshoots dan membantu post-pro demi mempertahankan bujet, apa yang dihadirkan Gracey secara keseluruhan mungkin cukup untuk membuatnya jadi sineas yang diperhitungkan di masa depan karirnya.

The Greatest Showman pun bergerak cepat menggelar introduksinya terhadap P.T. Barnum kecil (Ellis Rubin, dewasanya diperankan Jackman), anak tukang jahit keliling yang mengejar cintanya menikahi putri seorang bangsawan, Charity (dewasanya diperankan Michelle Williams) dan berjuang demi kehidupan yang lebih baik saat mereka sudah berkeluarga dengan dua putri kecilnya. Di-PHK oleh perusahaan perkapalan yang bangkrut, Barnum nekat mengambil pinjaman untuk mendirikan museum lilin Barnum’s American Museum yang tak sukses. Ide putrinya kemudian menginspirasi Barnum untuk mengumpulkan sejumlah freaks, sebutan orang-orang dengan abnormalitas fisik dan kemampuan tak biasa untuk menggelar pertunjukan hingga akhirnya sukses dan melahirkan Barnum’s Circus walau ditentang oleh banyak orang. Tak berhenti mendaki tangga sosial di kalangan masyarakat atas, Barnum pun menggandeng penulis kaya Phillip Carlyle (Zac Efron) yang akhirnya tertarik ke pemain akrobat/trapeze Anne Wheeler (Zendaya) serta mengejar penyanyi opera Swedia terkenal Jenny Lind (Rebecca Ferguson) untuk mengisi sirkusnya. Di sinilah Barnum mulai tenggelam oleh ambisinya sendiri, hingga akhirnya serangkaian kegagalan yang membuatnya nyaris kehilangan Charity dan anak-anaknya mulai menyadarkan Barnum atas tujuan awal sepak terjangnya di dunia panggung pertunjukan hiburan.

Skrip yang ditulis oleh Bicks dan Condon dengan efektif mengarahkan The Greatest Showman ke tujuan utamanya sebagai sebuah musikal, di mana storytelling terpenting justru hadir bukan dari tipis/tebal plot tapi dari lirik penyampaian dialog-dialog musikalnya. Durasi 105 menit yang jelas cukup singkat dalam bentukannya sebagai biopic meski tak mengutamakan itu, mengalir lancar bersama keajaiban talenta Pasek and Paul menggarap soundtrack pop masa kini yang luar biasa komunikatif, ear-catchy namun tak kehilangan kemegahannya mengantarkan dan membentuk blend sempurna dengan tampilan atmosfer period abad ke-19. Sosok Barnum, di tengah tuduhan banyak orang atas glorifikasi juga sama sekali tak begitu. Instead, mereka justru memberikan sentuhan humanis yang memberi justifikasi jelas soal keseimbangan ambisi dan niat baik Barnum melawan tantangan di zamannya, menginisiasi sebuah ‘keluarga’ dari orang-orang terbuang yang sebenarnya punya talenta besar.

Nomor-nomor dari A Million Dreams (Ziv Zaifman, Jackman & Williams), Never Enough (dibawakan Loren Alfred untuk singing part Ferguson), Rewrite the Stars (Efron & Zendaya), Tightrope (Williams) hingga This is Me yang paling fenomenal dibawakan Keala Settle, artis panggung nominee Tony Awards yang di sini memerankan Lettie Lutz, si wanita berjenggot, menggulirkan kisahnya secara sangat hidup, menyentuh sekaligus menghentak di tengah chemistry dan talenta akting-menyanyi aktor-aktornya sendiri dari Jackman, Efron, Zendaya hingga Williams. Selagi sisi multitalenta mereka sudah pernah kita saksikan – semua bermain sangat baik terutama Jackman yang menguasai panggung terbesarnya, Zendaya yang sudah memulai debutnya di Spider-Man: Homecoming benar-benar bersinar memerankan Wheeler dengan segala gestur dan keindahan musikalnya bersama Efron di lagu Rewrite the Stars, begitu pula Ferguson yang meskipun mengisi singing part-nya secara playback namun memberi sparks luar biasa sebagai Lind di salah satu sekuens terbaik filmnya. Scoring dari John Debney dan Joseph Trapanese juga ikut memperkuat kombinasi racikan itu.

Dan memang, inovasi dan blend musikalitasnya sebagai nyawa terbesar The Greatest Showman, tak peduli dengan adanya campur tangan Mangold, harus diakui sangat memukau dibesut Gracey bersama desain produksi, set & props serta sinematografi DoP award nominee asal Irlandia Seamus McGarvey (Atonement, Anna Karenina, The Avengers, Pan; di antara karya-karya terbaiknya). Bukan hanya sekedar tampil di tengah kemegahan stage act – period pieces a la Baz Luhrmann ataupun Rob Marshall, Gracey terlihat mampu mengkolaborasikannya dengan musik pop modern Pasek and Paul serta pengaturan koreografinya dengan begitu padu tanpa sekalipun terasa mengganggu. Camera work-nya dalam segala aspek sangat terlihat memiliki penguasaan efisien yang tak sampai membuatnya tergerus oleh penataan set, panggung serta lagu. Ini semua adalah kekuatan utama mengapa The Greatest Showman mampu menjadi sebuah ultimate show-stopper di kelasnya; sebuah pertunjukan musikal yang luar biasa megah, magical, unik sekaligus sangat festive; membawa pemirsanya tertawa, menangis, menghentakkan kaki dan menyanyi bersama buat sebuah show yang layak terus dinikmati lagi, lagi dan lagi.

Namun di atas semuanya, yang membuatnya begitu berhasil meledakkan WOM bersama keunikan musikalitas dan aksi panggung penuh atraksi yang terus membuat bioskop menambah jam pertunjukannya termasuk di sini, membuat perolehan BO-nya secara fenomenal terus meningkat, adalah karena The Greatest Showman memang muncul sebagai sebuah paket komplit dengan niat mulia seperti quote Barnum yang disemat di penutupnya; “The noblest art is that of making others happy”.

Bahwa boleh bercerita soal apa saja termasuk sosok Barnum yang aslinya penuh kontroversi, atau salah satu hal paling menarik yang mensejajarkannya dengan pencapaian Cecil B. DeMille mengangkat dunia sirkus dalam The Greatest Show on Earth (1952) yang belum tergantikan hingga sekarang, soal sejarah mengapa kita sekarang menikmati sirkus di dalam tenda besar – bukan lagi gedung pertunjukan seperti sejarah awalnya, ia memang mengusung timeless/universal message yang selalu bisa menyentuh semua orang dalam pakem Hollywood sekarang, yang tengah melawan outrage culture negaranya dengan ajakan-ajakan kembali ke traditional values yang mengarah ke persepsi-persepsi penting soal keluarga.

Pada akhirnya, di tengah ambisi-ambisi yang sering membawa orang melupakan tujuan awal mereka, seperti Barnum yang akhirnya lebih memilih sepatu balet dan pertunjukan kecil putrinya jauh ketimbang ketenaran sesaat, The Greatest Showman benar-benar mengetuk hati buat menyadarkan sekaligus mentransformasikan kita ke tujuan paling mulia mengapa hiburan diciptakan; something to bring people together for kind reasons. Totally a musical grandeur in every aspect, The Greatest Showman is indeed, a celebration of love, dreams and humanity. And overall, family. This year’s greatest cinematic attraction! (dan)

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter