Home » Dan at The Movies » MAZE RUNNER: THE DEATH CURE (2018)

MAZE RUNNER: THE DEATH CURE (2018)

MAZE RUNNER: THE DEATH CURE: AN EXPLOSIVE FINALE TO THE BETTER YOUNG ADULT FANTASY ADAPTATION

Sutradara: Wes Ball

Produksi: Gotham Group, Temple Hill Ent, Oddball Ent, 20th Century Fox, 2018

Image: impawards.com

Di antara adaptasi layar lebar Young Adult (YA) fantasy lainnya – sebagian ada yang berhasil dan sebagian ada yang tidak, bahkan ada yang tak berlanjut, Maze Runner yang diangkat dari karya best seller James Dashner dan disutradarai Wes Ball, termasuk yang berhasil baik dari perolehan BO dan kualitas filmnya. Pasalnya, mereka bisa mempertahankan konsistensi dengan intensitas sangat menanjak di instalmen keduanya, The Scorch Trials (2015).

Melanjutkan The Scorch Trials di balik populasi dunia yang terinfeksi virus The Flare, The Gladers; manusia-manusia imun yang tersisa; Thomas (Dylan O’Brien), Newt (Thomas Brodie-Sangster) dan Frypan (Dexter Darden) bergabung dengan Vince (Barry Pepper), Jorge (Giancarlo Esposito) dan Brenda (Rosa Salazar) untuk menyelamatkan rekan mereka Minho (Ki Hong Lee) yang berhasil diculik buat dijadikan preparat eksperimen oleh pentolan organisasi WCKD; Ava (Patricia Clarkson) dan Janson/Rat Man (Aidan Gillen). Mereka harus menghadapi zombie-zombie Cranks sebelum akhirnya juga dibantu oleh Gally (Will Poulter) yang ternyata masih hidup dan kini menjadi bagian dari kelompok pemberontak terinfeksi pimpinan Lawrence (Walton Goggins), untuk menemui kembali Teresa (Kaya Scodelario) yang belakangan menemukan serum penyembuh dari darah Thomas. Selagi Brenda menyelamatkan anak-anak imun di tengah usaha Thomas dkk menyelamatkan Minho bersama Newt yang terinfeksi, Lawrence dan kaumnya menyerang dan memporak-porandakan Last City. Lagi-lagi, Janson tak semudah itu mau melepaskan mereka semua.

Wes Ball dan skrip yang tetap ditulis oleh T.S. Nowlin, juga DoP Hungaria Gyula Pados dan editor Dan Zimmerman (Predators, A Good Day to Die Hard, putra editor veteran Don Zimmerman) menggerakkan The Death Cure dengan eskalasi konsisten yang terus menanjak dari tema dystopian prison break di film pertama hingga menjadi sebuah desert war fantasy yang luar biasa seru. Begitu efektifnya mereka menyemat adegan-adegan aksi nonstop di keseluruhan paruh akhir durasi lebih dari 1 jam, itu pun setelah membuka filmnya dengan aksi seru di atas kereta api yang melaju kencang dan sebuah zombie raid, dengan pace yang terus terjaga di tengah eksplosivitas yang nyaris menyamai Mad Max dan epigon-epigon dystopian futuristic-nya.

Tanpa pula mengurangi efisiensi tampilan karakter yang cukup penuh sesak namun semua berhasil mendapatkan momentumnya masing-masing, juga tak lupa menyemat emosi, ini, paling tidak – jelas merupakan suatu keberhasilan dalam sebuah konsep adaptasi trilogi yang sudah dimulai dengan menarik lantas dilipatgandakan bertahap lewat semua elemennya hingga benar-benar meledak di instalmen finale-nya. Tak banyak mungkin trilogi YA fantasy yang bisa seperti itu.

Selagi aktor-aktor mudanya tetap bergantian mencuri layar terutama O’Brien, Brodie-Sangster, Hong Lee, juga Scodelario dan Salazar sebagai karakter wanita yang tak tenggelam di antara dominasi pria dalam genre aksi fantasi seperti ini, Aidan Gillen benar-benar mendominasi porsi villain-nya dengan sangat meyakinkan. Di tangan semua cast and crew-nya, Maze Runner: The Death Cure jelas sudah melaksanakan misinya dengan gemilang. Sebuah finale yang bertolak kencang menuju puncak untuk sebuah contoh bagus bagi yang lain. Bahwa finale memang seharusnya menjadi finale, sebuah babakan akhir yang tak boleh menahan dan menurunkan lagi semua amunisi yang ia miliki. (dan)

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter

Latest posts by danieldokter (see all)