Home » Dan at The Movies » PAD MAN (2018)

PAD MAN (2018)

PAD MAN: AN INSPIRING LOVE TALE BEYOND SOCIAL ISSUES OF MENSTRUAL TABOO

Sutradara: R. Balki

Produksi: Columbia Pictures, Hope Productions, KriArj Entertainment, Mrs Funnybones Movies, 2018

Image: bollywoodhungama.com

Sekali waktu dikenal dengan julukan Mr. Khiladi (Player) dari Khiladi film series yang melambungkan namanya sebagai bintang aksi komedi Bollywood di era ‘90an, Akshay Kumar berevolusi menjadi aktor hebat di film-film yang jauh lebih serius, walaupun tetap ada di ranah film Bollywood komersil. Kiprahnya dalam Toilet: Ek Prem Katha tahun lalu, yang juga ikut diproduserinya menunjukkan perkembangan lebih lagi atas kepedulian Akshay terhadap masalah-masalah sosial di negaranya. Dan ia ternyata tak berhenti di sana.

Pad Man yang menjadi debut produksi PH-nya sendiri bersama sang istri, mantan aktris Bollywood Twinkle Khanna (putri aktor/aktris ternama Rajesh Khanna (alm.) dan Dimple Kapadia) dengan nama julukan TwinkleMrs. Funnybones Movies, meneruskan bentuk kepeduliannya terhadap masalah-masalah sosial di India. Diangkat dari cerita pendek The Sanitary Man of Sacred Land dari buku kumpulan  4 kisah tentang feminisme karya Twinkle; The Legend of Lakshmi Prasad, berdasar kisah hidup aktivis sosial asal Tamil Nadu Arunachalam Muruganantham, Pad Man memuat perjalanan, sepak terjang hingga motivasi sosok aslinya yang dikenal sebagai penemu sanitary pad (pembalut menstruasi) ekonomis untuk membantu kaum wanita.

Kisah ini menjadi menarik karena selain menemukan mesin pembuat pembalut yang jauh lebih murah – hingga lebih dari sepertiga harga pembalut biasa, Arunachalam dianggap sebagai penggagas kesadaran wanita di pinggiran India yang masih menganggap menstruasi sebagai hal tabu dan mengungkung mereka dalam lingkar pengetahuan kesehatan yang salah hingga dianugerahi penghargaan Padma Shri dari pemerintah India, diundang ke PBB bahkan dimasukkan dalam list 100 Most Influential People in the World versi majalah Time tahun 2014. Lebih menarik lagi, karena perjalanannya sampai ke sana bukanlah hal mudah dan punya motivasi simpel yang sangat menginsipirasi; cinta.

Lakshmikant Chauhan (Akshay Kumar); seorang suami pekerja bengkel las berlatar belakang drop-out dari SMU yang hidup di sebuah desa pinggiran India bersama istrinya, Gayatri (Radhika Apte) merasa resah kala menemukan Gayatri; sama seperti rata-rata perempuan India di sana, menggunakan lap kotor saat menstruasi. Membelikannya pembalut yang masih dipandang tabu oleh adat tradisional di sana, apalagi oleh lelaki, ternyata mengundang kemarahan Gayatri atas harganya yang mahal. Lakhsmi pun tergerak untuk mencari cara membuat sendiri pembalut ekonomis yang bukannya berhasil namun malah mengundang masalah lebih besar lagi dari seisi kampung yang menganggapnya melawan tradisi. Mencoba terus cara manual dengan berkonsultasi ke dokter, menjualnya ke sekelompok mahasiswi kedokteran hingga akhirnya diusir oleh seisi kampung bahkan kehilangan ibu, adik-adik perempuan dan Gayatri sendiri, ia nekat bekerja di rumah seorang profesor sampai akhirnya mulai menciptakan mesin murah, berhutang ke rentenir dan mendapat dukungan tanpa pamrih dari wanita modern pemain tabla bergelar MBA Pari Walia (Sonam Kapoor). Lakhsmi mulai meniti jalan dan niat teguh dan kepeduliannya terhadap wanita-wanita yang masih terkungkung adat seputar menstruasi itu, semua di atas keyakinan bahwa suatu hari ia juga akan bisa menyelamatkan dan mendapatkan kembali Gayatri.

Plot itu boleh saja terdengar luar biasa naif, sama dengan sepak terjang karakter Lakhsmi yang mengadopsi sosok serta pemikiran asli Arunachalam ke gambaran etnis berbeda namun sama-sama berasal dari pinggiran India. Namun skrip yang ditulis sendiri oleh sutradara R. Balki (Cheeni Kum dan Paa yang sama-sama dibintangi Amitabh Bachchan) bersama lyricist Swanand Kirkire peraih award (Chameli, Ek Lavya: The Royal Guard dan dua film Tamil Rajnikanth; Enthiran/Robot dan Lingaa) sebagai penulis dialognya, memang dengan efektif menjaga proses yang relevan dari kepolosan cara pikir seorang pekerja bengkel yang tak lulus sekolah dan serba udik, namun punya kesadaran lebih soal kesehatan. Di atasnya, ada Akshay yang bermain penuh semangat dalam performa terbaiknya, menjadikan Pad Man benar-benar terlihat seperti labor of love baginya, meyakinkan kita bahwa lead persona seorang Akshay tetap bisa pas mengisi karakter-karakter polos atau orang biasa, melebihi apa yang ia lakukan di Toilet.

Tapi inilah Bollywood. Seperti kisah-kisah yang mereka angkat tentang seorang yang tengah melawan dunia, penceritaan yang memang awalnya tak sepenuhnya bisa menghindar dari pola-pola PSA (Public Service Announcement) tetap bisa mereka hadirkan secara sarat informasi yang tanpa kita sadari mungkin tak pernah kita dengar di atas taraf-taraf pemikiran tabu yang berbeda soal menstruasi dan pembalut wanita di kehidupan sehari-hari. Selain itu, bangunan justifikasi terhadap karakternya juga tak sekalipun pernah beranjak dari motivasi utama yang mereka bangun sesuai dengan tujuan menceritakan ulang kisah Arunachalam untuk menginspirasi, membuka mata dan memicu kepedulian pemirsanya. Sempalan drama yang memang digagas dengan bombastis bersama kehadiran karakter-karakter sampingan hingga comic relief yang efektif, tetap bisa membuat kita tersenyum namun tetap merasa miris. Berkali-kali penceritaan itu seolah terasa kelewat bombastis namun tak pernah sekalipun menggerus empati kita terhadap sosok Lakshmi yang kukuh menolak menjual diri dan perjuangannya ke ranah kapitalisme.

Bergerak dari intermission di paruh durasi 140 menitnya, Balki dan Swanand malah menaikkan lagi taruhannya ke sebuah selipan romansa (tak berbalas) dari karakter Pari yang diperankan dengan penuh pesona oleh Sonam Kapoor, sementara tetap menjaga benang merah motivasi Lakshmi dari karakter Gayatri  yang diperankan Radhika Apte tak kalah baik di tengah dilema kekecewaan dan keterkungkungan prinsip wanita pinggiran India. Hebatnya, eskalasi emosi dari pengarahan Balki memang sangat terjaga dan kian menanjak kala penampilan seorang legenda sekelas Amitabh Bachchan pun mereka manfaatkan dengan efektif di tengah scoring bagus dari Amit Trivedi bersama sejumlah lagu yang ditahan hanya muncul sebagai soundtracks tanpa dilagukan oleh karakternya. Di ujung akhirnya, semua lapis isu-isu sosialnya tetap membuat motivasi itu mencuat sebagai titik perjuangan Lakshmi. Bawa sepenting apapun, pembalut temuannya tetap menjadi simbol cinta seorang suami terhadap istrinya.

Teknis lain yang sangat mendukung juga datang dari sinematografi DoP/sutradara veteran asal Chennai, P.C. Sreeram yang lebih banyak berkiprah di film-film Tamil dan Telugu termasuk Nayakan (1987). Sreeram mampu merekam detil-detil pinggiran India serta beda lapis ekonomi tiap karakternya hingga ke klimaks yang sangat lucu namun menggetarkan di set asli headquarters PBB, New York, bahkan memuat ide lebih besar soal pemberdayaan wanita untuk lantas memilih penyelesaian yang juga menyentuh soal Lakshmi dan Pari tanpa distraksi justifikasi ke motivasi utama yang cukup digambarkan bersama guliran kredit akhirnya. Dengan pengarahan Balki dan dialog-dialog penuh punchlines dari Swanand, juga performa prima para cast-nya, mereka tetap bisa meyakinkan kita bahwa Lakshmi sangat layak disandingkan sebagai bersama superhero-superhero lain dengan gelar ‘Man’; Batman, Superman, Spider-Man; hanya saja; ini adalah sosok biasa yang kita temukan sehari-hari. An ordinary man, everyday’s hero yang berjuang semata demi keyakinannya sendiri.

Di atas semua niat mulia dan pesan berharga yang berhasil tersampaikan dengan mulus; eye opening, thought-provoking dan juga luar biasa relevan terhadap masalah kesehatan publik dan perhatian terhadap wanita seperti Toilet kemarin, Pad Man lagi-lagi menunjukkan digdaya Bollywood dalam menggarap film-film berlatar kepedulian sosial. Bahwa mereka tak segan menggelar dramatisasi bombastis, tapi tak pernah lupa dengan pentingnya justifikasi karakter untuk membuatnya jadi amat menyentuh hingga tetap terasa begitu membumi. Beyond social issues of public health and menstrual taboo, still an inspiring tale of how far would you go for someone you love. Luar biasa. (dan)

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter

Latest posts by danieldokter (see all)