Home » Dan at The Movies » RED SPARROW (2018)

RED SPARROW (2018)

RED SPARROW: A MODERN COLD WAR THRILLER IN THE VEINS OF OLD-FASHIONED SENSUAL FEMALE EURO-SPY

Sutradara: Francis Lawrence

Produksi: Chernin Entertainment, 20th Century Fox, 2018

Image: impawards.com

Melanjutkan kolaborasi mereka di The Hunger Games: Catching Fire dan dua bagian terakhir Mockingjay, sutradara Francis Lawrence bersama aktris Jennifer Lawrence kini mengangkat adaptasi novel spy berjudul sama karya mantan agen CIA Jason Matthews. Selagi kisah-kisah spionase dengan latar perang dingin AS – Rusia mungkin sudah sering kita saksikan, Red Sparrow mengarahkan fokusnya ke aktivitas agen-agen Rusia dalam program rahasia yang disebut Sparrow, dikenal juga sebagai sex spy dengan spesialisasi Russian Honey Trap, intelijen yang menggunakan kekuatan seksual untuk menjalankan misinya. Jadi memang sejak awal ia bukanlah dimaksudkan menjadi sebuah spy thriller biasa.

Mengalami cedera di sebuah pertunjukan, balerina Rusia Dominika Egorova (Jennifer Lawrence) direkrut oleh pamannya yang manipulatif, Ivan/Vanya (Matthias Schoenaerts) untuk masuk ke program Sparrow. Tak punya pilihan atas sebuah kasus dan alasan menunjang pengobatan ibunya (Joely Richardson) yang sakit-sakitan, Dominika pun dilatih oleh pimpinan program (Charlotte Rampling) untuk menjadi seorang Sparrow. Tahu ia tak punya jalan kembali, misi untuk menggoda mata-mata AS Nate Nash (Joel Edgerton) yang menyimpan kunci ke nama pengkhianat di pemerintahan Rusia terpaksa dimanfaatkan oleh Dominika, kalau perlu menjadi agen ganda, untuk bisa keluar hidup-hidup dari intrik yang bukan hanya menempatkan nyawanya tapi juga orang-orang terdekatnya dalam bahaya.

Fokus unik yang sebenarnya di era ‘70an sudah banyak diangkat ke dalam film-film spionase wanita Eropa walaupun bukan berlatar eksistensi para Sparrow di Rusia (baca: menjual sensualitas dan aktivitas sejenis honey trap) di satu sisi memang membuat penerjemahan novel asli itu ke skrip besutan Justin Haythe (Snitch, The Lone Ranger) tak bisa lari dari elemen-elemen abusive, disturbing hingga melibatkan elemen incest yang sungguh tak nyaman buat menanam empati ke karakter-karakternya.

Apalagi, selain penggunaan bahasa yang sangat Hollywood; semua karakter Rusia berbahasa Inggris dengan dialek – walau ini sudah tergolong pakem namun mungkin sekarang terasa agak mengganggu, pilihan storytelling Francis Lawrence memang bergerak di pace sangat pelan walau tak selambat film-film adaptasi novel John le Carre untuk memuat intrik-intrik spionase dan pameran kesadisan visual-nya. Sedikit lari dari trailer-nya yang senafas dengan Atomic Blonde, Red Sparrow hadir nyaris tanpa adegan baku hantam, namun lebih menggelar suspense lewat permainan intrik yang mungkin membuat segmentasinya ke audiens publik jadi sangat terbatas, walau sepenggal klimaksnya cukup menghentak lagi-lagi dengan adegan-adegan brutal.

Namun memang Red Sparrow tak pernah bermaksud menjadi blockbuster penuh aksi ala Salt atau bahkan Atomic Blonde. Lawrence sangat terus terang menjual sensualitas Jennifer Lawrence sebagai menu utamanya, dan untuk itu, Red Sparrow memang berhasil. Diwarnai sederet dukungan kuat dari Edgerton, Schoenarts, Ciaran Hinds, Joely Richardson juga Mary Louise-Parker yang muncul komikal hingga senior berstatus tak main-main seperti Charlotte Rampling dan Jeremy Irons, juga iringan scoring bagus dari James Newton Howard, perjalanan intrik yang sebenarnya dipenuhi plothole itu pun bisa terselamatkan oleh  kuat Jennifer Lawrence yang tampil sangat ‘ganas’ untuk bisa dinikmati, paling tidak bagi penggemarnya, juga fans tema-tema politik spionase dan perang dingin. (dan)

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter

Latest posts by danieldokter (see all)