Home » Dan at The Movies » DEATH WISH (2018)

DEATH WISH (2018)

DEATH WISH: A RESPECTFUL UPGRADE TO THE 1974 ORIGINAL CLASSIC

Sutradara: Eli Roth

Produksi: Scott Free Productions, MGM Studios, Annapurna Pictures, 2018

Image: impawards.com

Bukan saja dikenal sebagai pionir di subgenre vigilante action yang menjadi trend ke sinema dunia – melahirkan banyak ripoffepigon hingga pengikut-pengikut yang bagus, Death Wish (1974, diangkat dari novel berjudul sama karya Brian Garfield), dari sutradara Michael Winner dan produser kenamaan Dino De Laurentiis juga membawa aktor legendaris Charles Bronson ke puncak karirnya. Memerankan Paul Kersey, seorang arsitek yang terpaksa main hakim sendiri kala keluarganya menjadi korban bandit-bandit jalanan, Death Wish yang sempat mengundang kontroversi atas tuduhan mendukung vigilantism jelas adalah sebuah karya klasik yang berlanjut hingga instalmen ke-5.

Rencana remake-nya sudah dimulai sejak 2006 melibatkan nama-nama dari Sylvester Stallone, Liam Neeson pasca Taken, Benicio Del Toro dengan Joe Carnahan sebagai penulis dan sutradara. Baru terlaksana di tahun 2016, Carnahan akhirnya hanya menulis skrip sementara penyutradaraannya berpindah ke sineas spesialis thriller-thriller sadis Eli Roth. Menggantikan alm. Bronson sebagai Paul Kersey baru yang bukan lagi berprofesi arsitek melainkan dokter bedah, Bruce Willis mengalahkan kandidat lain dari Russell Crowe, Matt Damon, Will Smith hingga Brad Pitt.

Ini jadi menarik karena beberapa tahun belakangan karir Willis memang anjlok ke film-film kelas B yang dirilis langsung ke video di negaranya. Lagipula, sosoknya yang lebih melekat ke action hero berpotensi membuat penelusuran karakter Kersey yang tertempa oleh keadaan di balik sensitivitas lebih yang dimiliki Charles Bronson dianggap tak benar-benar bisa pas, sama seperti Stallone. Tapi rentetan versi trailer-nya menuju momen rilisnya memang terlihat menjanjikan dengan adegan iconic di ending Death Wish orisinal.

Paul Kersey (Bruce Willis), kini seorang dokter bedah handal di Chicago Hospital; bukan lagi New York, yang hidup damai bersama keluarga di balik profesinya seketika mesti beralih menjadi seorang vigilante kala sekelompok penjahat menginvasi kediamannya, menempatkan istrinya, Lucy (Elizabeth Shue) menjadi korban penembakan sementara putri satu-satunya, Jordan (Camila Morrone) tergeletak koma. Dua detektif polisi (Dean Norris & Kimberly Elise) yang awalnya menangani kasus Kersey pun mulai mencurigai serangkaian kasus vigilante yang mulai merebak lewat media sosial.

Death Wish versi upgrade Eli Roth lagi-lagi berbuntut kontroversi atas masalah politik kepemilikan senjata yang tengah marak di era Trump, AS sekarang. Dianggap dirilis pada saat yang salah, sejumlah protes berkembang marak baik di medsos maupun dunia nyata walaupun sebenarnya plot dasar yang kini sedikit dimodifikasi oleh Carnahan memang punya relevansi self defense dan protes sosial terhadap kondisi hukum yang bobrok.

Lepas dari kontroversi itu, Carnahan dan Roth sebenarnya sudah meng-upgrade versi orisinalnya dengan sejumlah rombakan cerdas di sana-sini, namun tetap digagas dengan penuh hormat ke source aslinya. Boleh jadi memodifikasinya lebih simpel sebagai ekses yang lebih personal dari Kersey sebagai subjeknya, mereka sebenarnya memindahkan kompleksitasnya jadi sedikit beda; membenturkan prinsip-prinsip saving lives yang seharusnya dipegang teguh oleh seorang pelaku medis buat menggantikan metafora karakter dengan profesi arsitek dalam serangkaian desain tindak vigilante yang tak semata berdasar dendam pribadi di versi aslinya. Dilema itu jadi terasa cukup solid ketika skrip bagus dari Carnahan juga tak melupakan garis tipis antara everyday hero versus vigilante di atas konsep-konsep baku genre superhero biasanya, termasuk upgrade yang relevan terhadap keberadaan citizen journalism lewat medsos sekarang.

Predikat Eli Roth yang melekat dengan gory thriller pun kemudian masuk dengan takaran yang tak berlebihan. Roth tampaknya berusaha dan bisa menahan selera serta visinya untuk memberi keseimbangan bersama skrip Carnahan. Mereka bahkan terlihat menekan level kausanya untuk tak lagi jadi terlalu jengah buat disaksikan bak film-film aksi ‘70an yang lebih tak punya sisi kompromi terhadap kesadisan visual ke protagonis, tapi menggunakan bentukan karakter Kersey baru buat merancang balas dendam yang jauh lebih sadis terhadap karakter-karakter antagonisnya. Di beberapa bagian ia malah terasa sangat tertahan sebagai sebuah karya Roth, namun bangunan suspense-nya yang terjaga tetap punya koneksi bagus ke pemirsanya.

Di atas sisi penulisan dan pengarahan itu, Bruce Willis ternyata mampu menokohkan Kersey dengan sensitivitas senada. Membuang sisi tough-nya, Willis tetap menghidupkan karakter Paul Kersey dengan balance yang pas di atas detil-detil proses yang dimuat Carnahan, termasuk menyelipkan karakter orangtua Lucy yang akrab dengan senjata serta pegawai toko senjata Bethany (Kirby Bliss Blanton) – sementara karakter menantu di versi 1974 kini dipindahkan ke adik Paul, Frank, yang dimainkan dengan baik oleh Vincent D’Onofrio walaupun sedikit hint ke titik kausa awal yang sudah dimulai tak dikembangkan semestinya. Mike Epps yang memerankan kolega Kersey mungkin sedikit tersia-sia, sementara suntikan humor dari dua detektif polisi yang diperankan oleh Norris dan Elise bekerja dengan baik untuk menekan tone depresifnya, termasuk villain yang lebih komikal oleh Beau Knapp, namun tetap bisa membuat suspense-nya memuncak menuju bagian klimaks untuk kemudian jadi vehicle tepat buat mengulang iconic scene versi orisinal yang sudah kita lihat di penutup trailer-nya.

So, di balik semua pilihan-pilihan modifikasi elemen untuk sebuah upgrade pionir se-klasik Death Wish, mungkin versi 2018 ini tetap tak bisa menyamainya. Namun juga bukan berarti ia termasuk ke dalam sejumlah remake yang merusak versi asli atau memantik rasa malu terhadap nama-nama besar yang terlibat di dalamnya dan kini sudah almarhum, apalagi gagal. Malah, Carnahan, Roth dan Willis – yang kembali dari titik terendah karirnya dengan film-film DTV, bisa dibilang sangat berhasil meng-upgrade Death Wish dengan selipan-selipan cerdas yang penuh respek tanpa harus kehilangan kedalaman di subgenre-nya. Ia boleh tak punya scoring sebaik Herbie Hancock di versi 1974, tapi bukan berarti Ludwig Göransson (Black Panther) gagal memberikan emosi lewat komposisinya. Lupakan soal kaitan-kaitan relevansi politik soal senjata, sama seperti versi orisinalnya, dalam banyak titik pandang berbeda, gagasan mendasarnya tetaplah berada di konsep klasik sejauh mana seseorang bisa melanggar batas demi melindungi keluarga. A respectful upgrade to the 1974 original classic! (dan)