Home » Dan at The Movies » PACIFIC RIM UPRISING (2018)

PACIFIC RIM UPRISING (2018)

PACIFIC RIM UPRISING: AN IMPRESSIVE IMPROVEMENTS IN FUN, DETAILS AND ROBOT-MONSTER MASH

Sutradara: Steven S. DeKnight

Produksi: Legendary Pictures, UpperRoom Ent. Ltd., DDY, Universal Pictures, 2018

Image: impawards.com

Film yang dibangun di atas high fanbase level memang punya resiko sama besar untuk disukai atau tidak sama sekali. Seringkali memicu perdebatan bahkan keributan di antara ekspektasi berbeda dari ragam bentuk fans-nya apalagi di medsos, di atas nama sineas Guillermo del Toro yang baru saja memenangkan Oscar sutradara/film terbaik untuk The Shape of Water dan homage ke fanatisme genre robot vs monster/kaiju klasik Jepang yang nostalgik, Pacific Rim jelas adalah salah satunya.

Film pertamanya yang diarahkan del Toro di tahun 2013 sudah membagi resepsi secara bertolak belakang dengan sebagian yang menganggapnya menyamai film-film klasik pionir genre-nya; Ishiro Honda berikut nostalgia yang melambung tinggi, sementara sebagian lagi menganggap detil teknis dan garapan CGI-nya terlalu jauh berada di bawah standar yang sudah dipatok Michael Bay di modernisasi genre sejenis lewat Transformers walau punya bujet super hampir 200 juta USD (sementara tiap instalmen Transformers hampir setengahnya).

Selain adegan pertarungan yang kehilangan detil di balik kebanyakan set malam dan gelap, kekurangan lain juga banyak yang mengarah ke sempalan heart factor di balik karakterisasi lemah serta pace dan rasa yang kurang fun dalam tema pertarungan robot – monster super. Walau hasilnya tak flop, resepsi yang terbagi ini membuat pendapatan BO-nya jauh dari target hingga sempat menunda sekuelnya beberapa kali termasuk rencana penggabungan universe monster bersama Godzilla dan King Kong dari Legendary Pictures yang kini menjadi milik Wanda Group dengan distribusi yang berpindah dari Warner Bros. ke Universal. Del Toro yang akhirnya memilih hanya duduk sebagai produser bersama John Boyega di Pacific Rim Uprising, judul yang dipilih buat sekuelnya, mengalihkan penyutradaraannya ke Steven S. DeKnight (serial Spartacus dan Daredevil) dalam debut layar lebarnya. Dari trailer-nya, kita semua mungkin sudah bisa melihat kalau sekuel ini memilih pendekatan berbeda dari pendahulunya, kalau tak mau dibilang lebih terus terang mengarah ke pakem Transformers.

Ber-setting 10 tahun setelah film pertama di mana kiamat akibat serangan Kaiju dari celah dasar Samudera Pasifik berhasil di-‘cancel’ oleh teknologi Jaegers lewat usaha Jenderal Stacker Pentecost (Idris Elba), Raleigh Becket (Charlie Hunnam) dan Mako Mori (Rinko Kikuchi) serta bantuan duo ilmuwan geeky Dr. Newt Geiszler (Charlie Day) dan Dr. Hermann Gottlieb (Burn Gorman), Uprising mengenalkan kita pada Jake Pentecost (John Boyega) yang tak lain adalah putra Stacker yang dikisahkan telah meninggal. Di bumi yang belum sepenuhnya pulih oleh serangan itu, Jake memilih desertir dari akademi pilot Jaeger demi menjadi kriminal sparepart rongsokan Jaeger yang mulai dirakit secara ilegal oleh gerombolan bawah tanah. Saat tertangkap bersama Amara Namani (Cailee Spaeny), cewek pintar perakit Jaeger dalam sebuah insiden, Jake pun tak bisa menolak kala Mako Mori menjaminnya dengan syarat Jake harus mau menjadi instruktur di Pan Pacific Defense Corps selagi Amara menjadi kadet. Bergabung kembali bersama mantan partnernya, Nate Lambert (Scott Eastwood) di titik pertahanan itu, datang pula korporat China Liwen Shao (Jing Tian) dan pasukannya termasuk Newt yang sudah menjadi R&D Shao untuk mengembangkan teknologi Jaeger tanpa awak, yang justru memicu ancaman kiamat itu datang kembali dari dasar Pasifik.

Skrip yang ditulis keroyokan oleh DeKnight, Emily Carmichael – sineas film pendek yang banyak mendapat sorotan lewat kiprahnya di kompetisi Sundance dan Tribeca, T.S. Nowlin dari The Maze Runner dan Kira Snyder – produser serial The Handmaid’s Tale menyemat titik-titik kontinuitas terhadap karakter-karakter baru yang diperkenalkan secara singkat di balik konsep yang menggabungkan Transformers, Starship Troopers dan sedikit nods ke sci-fi indie Boyega, Attack the Block.

Tak sepenuhnya kohesif memang, terlebih efeknya ke soal pace di mana selain banyaknya aspek yang hendak ditampilkan termasuk ke karakter-karakter kadet dan instruktur lintas negara (di antaranya diperankan Adria Arjona, Karan Brar, Ivanna Sakhno, Levi Meaden) serta anak buah Shao (salah satunya diperankan aktor China Max Zhang/Zhang Jin, aktor-fighter yang tengah naik daun setelah bermain di Ip Man 3) yang mau tak mau terasa tumpang tindih dan saling mendistraksi, namun begitu, mereka juga terlihat sangat memahami detil-detil yang tak tertata baik di film pertama terutama dalam playing rules para penggerak Jaeger yang sebenarnya jadi elemen paling menarik sekaligus pembeda elemen genre-nya ketimbang hanya soal robot vs kaiju.

Ini, bersama beberapa selingan adegan pertempuran Jaeger Mark VI dengan Jaeger tanpa awak yang menyalahi programnya, tampil bukan hanya dengan garapan CGI yang jauh lebih baik di atas bujet tak setinggi pendahulunya yang entah tersia-sia ke mana, juga membangun excitement lebih menyaksikan detil-detil pilot Jaeger berjuang menggerakkan jagoannya. Detil-detil Jaeger itu pun tampil lebih jelas buat diingat dan dibedakan terutama Gipsy Avenger yang merupakan generasi baru Gipsy Danger, Saber Athena dengan plasma swords-nya, juga Civilian Jaeger termasuk kerapian dan keindahan koreografi masing-masing. At least, mereka tahu memanfaatkan celah untuk menonjolkan karakternya di atas kesulitan lebih atas detil tampilan dan kemampuan yang jelas tak bakal bisa menyaingi banyaknya karakter Transformers yang lebih gampang diingat karena transformasinya menjadi berbagai jenis kendaraan.

Memegang estafet dari Idris Elba di predesesornya, John Boyega tampil penuh semangat bahkan sedikit melebihi yang terlihat dalam Star Wars. Bisa jadi karena ia ikut serta sebagai produser, Boyega memang melihat Pacific Rim secara personal sebagai vehicle bagi karirnya. Tak ada chemistry yang terlalu spesial atau maksimal, namun paling tidak mereka cukup memberi ruang buat karakter-karakter manusianya termasuk Scott Eastwood yang masih mendapat respek sebagai second lead yang tahu jelas ruangnya – tak seperti Elba dan Hunnam di film pertama yang seolah berlomba menjadi lead.

Selain itu, penampilan singkat Rinko Kikuchi, Cailee Spaeny dan Adria Arjona yang selalu mencuri perhatian, plus duo benang merah tak kalah penting, Burn Gorman, dan Charlie Day yang mendapat pengembangan tak terduga namun tetap punya relevansi dan diperankannya dengan sparks meledak-ledak sama seperti di film pertama, dan tentu Jing Tian yang memang melekat dengan Legendary pasca akuisisi Wanda, namun di sini jauh lebih baik dengan eskalasi karakternya menjelang adegan klimaks. Sayang memang Max Zhang tak diberi kesempatan lebih untuk menampilkan keahlian baku hantamnya.

Tetap, bagian terbaik yang benar-benar membayar bumpy pace paruh awal atas kepadatan konsep dan ambisi untuk meng-upgrade kekurangan di Pacific Rim ada di third act climax yang sulit untuk tak membuat mata kita terbelalak menikmati aksi seru – pertarungan sengit Jaegers vs Kaiju dari tengah set keramaian dan gedung-gedung pencakar langit Tokyo hingga ke salju abadi di puncak Gunung Fuji. Awaken the child in all of us, fun luar biasa, garapan CGI-nya terlihat sangat sepadan dengan bujet, punya detil luar biasa tanpa melupakan juga fun excitement di antara playing rules para Jaeger yang tergelar sama detilnya lewat editing Dylan Highsmith dan Zach Staenberg. Dan jangan lupa juga scoring barunya di tangan Lorne Balfe masih menempatkan komposisi original theme Ramin Djawadi – Tom Morello tanpa dieksploitasi secara berlebihan, namun ditempatkan di adegan-adegan yang tepat.

Hanya klimaks yang berdurasi sekitar 30 menit dari keseluruhan hampir dua jam masa putarnya ini saja rasanya sudah sangat layak membuat semua permainan referensi dan nostalgia genre-nya berpadu ke sebuah final showdown yang benar-benar membayar lunas sejumlah kekurangan lainnya. Lagi-lagi, status yang diembannya sebagai kelanjutan sebuah produk beresiko tinggi atas ekspektasi fanbase memang akan membagi resepsinya dalam range sangat luas; namun yang jelas, buat penonton yang sangat merasakan kekurangan predesesornya di soal detil dan teknis, Pacific Rim Uprising ada di skala yang jelas jauh lebih gigantis dibanding yang pertama. A solid, impressive improvements in fun, details and robot-monster mash! (dan)