Home » Dan at The Movies » READY PLAYER ONE (2018)

READY PLAYER ONE (2018)

READY PLAYER ONE: THE ULTIMATE EASTER EGGS THAT HIT CLOSE TO HOME

Sutradara: Steven Spielberg

Produksi: Warner Bros., Amblin Entertainment, Village Roadshow Pictures, 2018

Image: impawards.com

Sama seperti novel source karya Ernest Cline yang bukan hanya berstatus award winning dan New York Times bestseller tapi juga dianggap mewakili para gamers geek lewat trivia dan easter eggs yang menyemat perjalanan historikal genre-nya, terutama nostalgia ke era ‘80an di atas sebuah kisah seorang remaja mengarungi game VR, adaptasi filmnya pun digagas dengan spirit yang sama oleh Steven Spielberg lewat skrip Cline sendiri bersama Zak Penn, penulis yang sudah lama malang melintang di ide cerita dan skrip film-film Marvel dari X2 ke The Avengers.

Selagi tema-tema VR dengan karakter-karakter avatar yang bertualang mengarungi dunianya ini bukan lagi hal baru; dari Tron, The Matrix, Avatar-nya James Cameron hingga mungkin animasi Disney Wreck-it-Ralph yang lebih terang-terang dipenuhi trivia, sebagai adaptasi, Spielberg mengembangkan lagi dasar easter eggs itu dengan sematan kultur pop lain dari musik hingga tentu saja – film, bahkan printilan kolektor yang berhubungan dengan kulturnya.

Seakan mengemas sejarah panjang kultur pop itu ke dalam adaptasi berdurasi 140 menit, dengan begitu banyak selipan trivia yang mengharuskan pemirsanya menonton berkali-kali dan memperhatikan lekat-lekat background hingga karakter terkenal yang sekadar numpang lewat saja, ini memang jelas akan lebih mudah digawangi Spielberg dalam soal-soal penggunaan copyrights atas respectable status-nya; di luar properti Warner Bros. dan mungkin nyaris menjadi ambisi atas trivia dan homage terhadap film-filmnya sendiri. Ini memang seolah menjadi vehicle tepat buat Spielberg untuk kembali mendobrak box office setelah cukup lama berkutat di film-film serius berstatus award contender selepas The Adventure of Tintin (2011). Bahwa sosoknya jelas dikenal sebagai pencipta keajaiban sinematik nomor wahid di Hollywood, bak Merlin atau mungkin dewa-dewa lain di banyak mitologi.

Latar Ready Player One pun digelar dengan sebuah dunia virtual bernama OASIS (Ontologically Anthropocentric Sensory Immersive Simulation) sebagai pelarian di dunia masa depan, 2045; yang ditemukan oleh pionirnya, ilmuwan James Halliday (Mark Rylance).yang mendepak partnernya Ogden Morrow (Simon Pegg) di tengah ketergantungan yang melanda sisa peradaban manusia yang tergeser ke pemukiman kumuh. Remaja Wade Watts (Tye Sheridan), satu dari 5 pemain top (high five) dengan avatar bernama Parzival lantas bergabung dengan sahabat virtualnya Aech (Lena Waithe) dan avatar cewek tangguh Art3mis (Olivia Cooke) untuk memenangkan sayembara yang diwariskan Halliday setelah kematiannya; 3 kunci yang akan membawa mereka mencari Easter Egg untuk memenangkan kepemilikan OASIS sepenuhnya. Namun ini juga memancing CEO konglomerat kapitalis IOI (Innovative Online Industries), Nolan Sorrento (Ben Mendelsohn) untuk mempecundangi mereka bersama seluruh barisan kekuatannya. Menyewa bounty hunter I-R0k (T.J. Miller) dan kepala operatif IOI cewek algojo F’Nale Zandor (Hannah John-Kamen), Nolan tak segan untuk berbuat apa saja, sementara dua lagi avatar high five Daito (Win Morisaki) dan Sho (Philip Zhao) bergabung bersama Wade untuk melawan Nolan dan IOI.

Terasa sekali bahwa Spielberg memang menjadikan Ready Player One sebagai labour of love-nya sejak awal meski source-nya tak datang dari dirinya sendiri. Lewat skrip Penn dan Cline, Ready Player One di tangan Spielberg tak segan-segan menunjukkan wujudnya sebagai sebuah trivial play dan nostalgic ride yang mengemas begitu banyak homage dan easter eggs seperti plot-nya sendiri. Namun bukan berarti berdiri di atas bangunan meta kultur pop ini lantas berarti menenggelamkan plot Ready Player One sendiri. Meski tak lagi benar-benar baru, cara mereka menggagas aturan permainan dan semua stakes-nya-lah yang lantas membuat Ready Player One menjadi benar-benar spesial tanpa juga kehilangan social commentary soal ketergantungan dunia maya serta virtual terhadap peradaban di atas gambaran dan pembagian karakter yang juga hadir dengan detil cukup seperti yang dibutuhkan dalam penceritaannya.

Selain homage utama dalam mishmash karya Spielberg, properti Warner Bros. dan sebagian dari luar seperti Back to the Future, King Kong versi Peter Jackson, The Iron Giant, Jurassic Park, Chucky, Gundam, Akira dan Godzilla (Hanya Mechagodzilla dan sekilas figure klasiknya karena masalah copyright yang masih terkatung-katung), plus yang paling penuh respek dan luar biasa mengejutkan – The Shining-nya Stephen King dari Stanley Kubrick, ada ratusan trivia lain yang bertabur di antara kultur pop film, game, musik hingga merchandising seperti produk-produk movie vehicles yang sudah dijadikan die cast resmi Hotwheels special edition, dari sekadar lewat dalam dialog hingga benar-benar tampil di atas sinematografi cantik dari kolaborator Spielberg, Janusz Kaminski.

Seolah mengemas seluruh kisah hidup para geek di bidangnya masing-masing terhadap sematan kultur pop-nya, trivia-trivia ini bergantian muncul ke layar. Di deretan film ada Robocop, War of the Worlds, Transformers, Ninja Turtles versi lama dan baru, Saturday Night FeverBeetlejuice, Gremlins, Battlestar Galactica, Bill & Ted, Star Trek, Star Wars hingga yang jauh lebih obscure ke generasi ‘80an termasuk film-film John Hughes bahkan Buck Rogers dan Buckaroo Banzai, juga deretan movie maniacs seperti Jason, Freddy dan tak ketinggalan superhero dan villain DC – salah satunya avatar Nolan yang menyerupai evil Superman. Di deretan game; ada Halo, Gears of War, Street Fighters, Mortal Kombat, Tomb Raider hingga beberapa game console Atari 2600; Space Invaders, Joust, Pitfall hingga Adventure.

Deretan movie vehicle/die cast product-nya juga tak main-main. Dari The A-Team, Batmobile 1966, Speed Racer, Mad Max, Knight Rider, Smokey and the Bandits, Aliens, bahkan Christine dan Ferris Bueller’s Ferrari. Masih ada pula karakter-karakter lain seperti Marvin the Martians dari Looney Tunes hingga Hello Kitty, belum lagi tampilan senjata-senjata/amunisi dari Thundercats hingga Eraser-nya Arnold Schwarzenegger, serta selipan lain seperti There’s Something About Mary sampai sekadar poster film dan cover album ‘80an yang menjadi art property-nya dari The Beastmaster ke Ladyhawke, Billy Idol ke Pink Floyd plus bila cukup jeli, tribute ke aktor Wil Wheaton yang menarasikan versi audiobook novelnya.

Sementara playlist soundtrack ’70-‘80an; dari Van Halen, Blondie, Bee Gees, Joan Jett, Bruce Springsteen, New OrderGeorge Michael, Twisted Sisters hingga Hall & Oates di end credits-nya, tampil mengiringi keseluruhan filmnya bersama scoring Alan Silvestri – satu yang terbaik dalam karirnya dengan sentuhan back to ‘80s ke genre-genre warmhearted fantasy setelah urung dikomposisi John Williams. Di tangan Silvestri, feel yang kita dapatkan dari scoring-nya seolah membawa kita kembali ke film-film fantasi ‘80an yang lebih lowkey seperti Cocoon, Batteries Not Included dan sejenisnya.

Di deretan cast-nya, Tye Sheridan juga memerankan Wade dengan spirited sparks ke sosok Spielberg muda bersama Olivia Cooke sebagai Art3mis/Samantha di porsi romance yang ikut mengambil posisinya dengan pas. Masih ada dukungan bagus dari Lena Waithe yang sedikit menyisakan homage kostum dan karakter ke Streets of Fire, dua diverse cast dari Asia – Philip Zhao dan Win Morisaki yang cukup mencuri perhatian bersama Hannah John-Kamen, namun tiga MVP-nya adalah aktor-aktor senior Mark Rylance yang belakangan menjadi man-muse Spielberg, Simon Pegg dalam peran yang berbeda dan Ben Mendelsohn sebagai Nolan Sorrento di salah satu penampilan terbaiknya.

So, sulit memang untuk tak terpesona dengan semua racikan yang ditawarkan Spielberg, Cline dan tim mereka dalam adaptasi ini. Nyaris sebuah mahakarya yang membawa Spielberg kembali ke spesialisasi terbaiknya yang lama sudah tak kita saksikan, mereka mendobrak kompleksitas sekaligus kelengkapan trivia terhadap masing-masing pop kultur buat disemat ke sebuah action-packed adventure ride yang tentu akan jauh lebih asyik dinikmati bersama gimmick visual/motion yang komplit dan perhatian lebih buat menemukan easter eggs di tengah kisah soal easter eggs. Bak sebuah mimpi para pop culture geek yang menjelma jadi nyata sebagai sebuah adaptasi yang sempurna, bahkan lebih dari sekadar surat cinta, Ready Player One adalah sebuah pengingat mengapa kita bisa begitu mencintai film, datang ke bioskop untuk menikmati keajaiban sinematis dari masa ke masa dan terus hidup menjadi bagian dari perjalanan kulturnya. The ultimate easter eggs that hits close to home. So close to home. (dan)

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter