Home » Dan at The Movies » ARINI (2018)

ARINI (2018)

ARINI: A LAZY REMAKE OF AN INDONESIAN CINEMATIC TREASURE

Sutradara: Ismail Basbeth

Produksi: Max Pictures, Matta Cinema, 2018

No, tak ada sebenarnya formula baku untuk me-remake karya lawas. Mau film atau kembali ke source novelnya, sebenarnya yang ada hanyalah seberapa pantas sebuah karya terus diperkenalkan kembali ke generasi baru bidikan penontonnya. Dari kriteria-kriteria kelayakan yang walau tak juga baku namun terlihat jelas atas pencapaian sebelumnya, barulah muncul urgensi untuk menggelar kembali kesuksesannya. Respek tentu adalah salah satu persyaratan mutlak. Bukan hanya ke source atau adaptasinya yang ikonik dan fenomenal – oh ya, Arini versi 1987 yang disutradarai Sophan Sophiaan meraih sukses besar dengan antrian penonton yang sampai-sampai mengalahkan film James Bond The Living Daylights kala itu, mendapat resepsi bagus dari kritikus dan membuahkan pula piala Citra untuk Widyawati sebagai aktris terbaik, tapi juga tentunya ke fans atau paling tidak, orang-orang yang sudah menonton dan merasakan pencapaian baik itu.

Sejatinya pula, Arini bukanlah sebuah kisah cinta platonik biasa. Lewat gambaran karakter utama beda usia tak biasa – wanita hampir paruh baya dan seorang anak muda pasca remaja penuh semangat, novel asli Mira W, Masih Ada Kereta yang akan Lewat, sebenarnya mendeskripsikan sebuah kisah pertemuan di antara trauma-trauma psikologis dalam hubungan. Ia boleh jadi terlihat klise selain soal-soal Oedipus complex, tapi disusun rapi lewat detil dan motivasi karakternya. Stakes-nya pun walau klise – lagi-lagi membawa-bawa melodramatic twist berlatar penyakit, cukup tinggi buat menyemat cerita soal cinta dan pengorbanan. Namun jelas, adaptasi Sophan sudah menunjukkan bahwa seperti novelnya, ia mampu merangkum esensi platonis dan urgensi romansa tadi di tengah set yang dipindahkan secara relevan dari Jerman di novelnya ke San Francisco dengan sematan lagu I Left My Heart in San Francisco sebagai trivia klasik penghubung karakter yang menarik.

Bahwa cinta dan keterpautan yang ada di antara karakter-karakternya bukanlah semata soal nafsu atau menyerempet hal-hal sebatas romantisme seksual belaka. Dan di situ, chemistry padu Arini dan Nick yang diperankan oleh Rano Karno, yang notabene adalah aktor satu generasi di bawah Widya dan Sophan (Rano bahkan pernah memerankan versi belia Romi dan Yuli versi Widya dan Sophan) mampu mendobrak batasan itu. Selagi ada penahan dari karakter Arini yang berimbang dengan urgensi untuk menerima Nick, binar karakter Nick tak pernah termanifestasikan sebagai lustful attraction. Sesuatu yang tak bisa lagi terulang di sekuelnya di mana Arini diperankan oleh Ida Iasha. Soal added stakes-nya, Arini versi 1987 juga sukses melambungkan Vivi Samodro menjadi aktris belia yang diperhitungkan, termasuk untuk melanjutkan benang merah Romi-Yuli/Pengantin Remaja yang sama-sama punya koneksi dengan Rano-Widya-Sophan walaupun tak sukses.

Thus, ketika cast Arini versi 2018 di-publish, reaksi utama terkait masalah respek tadi memang sedikit membuat kening berkerut. Aktor muda Morgan Oey mengisi posisi Rano Karno sebagai Nick tentu pilihan yang tepat, namun menempatkan Aura Kasih dan umm, Haydar Salishz – meskipun ada kredit cukup baik yang dibawa mereka dari film-film sebelumnya, di porsi peran Arini dan Helmi-nya Widyawati dan Sophan Sophiaan, tentu sangat tak sebanding. Alasan klise banyak remake bahwa ini tak terkait dengan film sebelumnya tapi murni mengacu ke source asli tentu juga tak cukup mengingat adaptasi film 1987 justru membuat karya aslinya lebih dikenal ke mana-mana. Walau Basbeth juga punya kredit yang baik atas karya-karya sebelumnya, baik di film-film pendek festival contender maupun kompromi-kompromi komersil yang masih tertata baik di film layar lebar, mau tak mau, sulit memang untuk tak membandingkan keduanya atas alasan apapun.

Di dalam sebuah kereta di Jerman, Arini (Aura Kasih), perempuan berusia 38 tahun yang melanjutkan pendidikan di sana atas sebuah trauma masa lalu hubungannya dengan Helmi (Haydar Salishz), bertemu dengan Nick (Morgan Oey), backpacker lelaki berusia 15 tahun lebih muda yang langsung kesengsem pada pandangan pertama. Meski awalnya ditolak Arini, Nick tak berhenti mengejarnya, bahkan ketika Arini harus kembali ke Indonesia menjadi CEO di sebuah perusahaan, di mana ia kembali harus bertemu dengan Helmi dan duri yang selama ini menghancurkan hidupnya, sahabatnya sendiri yang bernama Ira (Olga Lydia) di balik sebuah rahasia masa lalu yang selama ini tak pernah diketahui Arini.

Berlatar set Jerman hingga Jogja yang tentu sangat dikuasai Basbeth sebagai asal karirnya, ambience yang dihadirkan Arini di luar beberapa kekurangan yang ada, memang tergelar dengan baik sebagai sebuah persyaratan tak resmi genre drama romantis di film kita. Scoring dari Charlie Meliala, walau tak pernah mencapai salah satu elemen terbaik di versi 1987 dari komposer alm. Billy J. Budiarjo, juga bagus bersama theme song Do You Really Love Me? yang dibawakan Morgan. Hanya sayang, faktor look itu agaknya menjadi satu-satunya kekuatan yang dibawa Arini sebagai sebuah remake ke versi 1987 yang fenomenal.

Masalah utama selain pemilihan cast yang lagi-lagi mungkin tak jadi masalah untuk generasi penonton barunya, orang-orang yang tak pernah memandang (atau tahu) Widyawati dan Sophan Sophiaan sebagai salah satu penggerak utama sinema Indonesia melintasi dekade perkembangannya, ada di skrip yang ditulis Titien Wattimena bersama Basbeth. Entah apa alasan untuk mengerutkannya menjadi sebuah film yang hanya berdurasi 79 menit di tengah kompleksitas psikologis alur aslinya, selain gagal memuat detil-detil motivasi karakternya, juga meredam stakes yang muncul dari twist berlatar penyakit itu.

Dimulai dengan sangat terburu-buru tanpa logika internal yang baik, yang tergelar selanjutnya adalah kejar mengejar hanky-panky antara Nick dan Arini yang bukannya romantis di balik dialog yang mungkin diarahkan PH pembuatnya agar menyamai Dilan 1990, tapi jadi blur tanpa motivasi jelas. Jadi luar biasa dangkal dan berlama-lama di durasi singkat namun tak padat itu, kita tak pernah diberi kesempatan untuk mengenal karakter Nick dan Arini lebih mendalam selain sebatas dialog-dialog verbal yang lebay, juga Helmi dan Ira yang lewat flashback kemudian dimunculkan lagi nyaris tanpa emosi dan juga kapabilitas akting yang baik kalau tak mau menyebutnya datar.

Apa yang hadir ke layar semakin diperparah lagi dengan sebuah adegan yang sangat salah dan sepenuhnya memupus motivasi cinta menjadi gejolak hormonal Nick terhadap Arini yang terus berlaku jutek namun kerap membiarkan Nick masuk ke dalam apartemen sekaligus kehidupannya. Kalaupun ada sedikit hint soal trauma psikologis Nick yang dibesarkan dengan uang tapi minim kasih sayang, itu hanya hadir sambil lewat – bukan pula dengan cast yang layak, sementara porsi ini diisi oleh aktris sekaliber Rima Melati di versi 1987-nya. Begitu juga dengan extras lainnya yang benar-benar tampak seperti effort buat menjaga budget produksi.

Sebagai Nick, Morgan Oey memang terlihat sudah sangat berusaha menghadirkan sparks sekuat Rano Karno di versi sebelumnya. Full-spirited, charming dan pantang menyerah, ia tetap bagus namun ruang geraknya sayangnya dibatasi oleh skrip tadi untuk bisa muncul di atas motivasi yang lovable. Berulang kali, sparks itu jadinya jadi terdistraksi bak seorang psycho sexual stalker yang juga gagal digiring Aura Kasih sebagai sparring partner yang berimbang, walaupun chemistry-nya bukan sama sekali tak ada. Bukan juga Aura tak berakting baik, namun sosok Arini yang rapuh, traumatik namun punya urgensi untuk pelan-pelan menerima Nick ke dalam kehidupannya kini muncul dengan kesan jinak-jinak merpati atau malu-malu mau di atas bentukan karakter yang sangat tak konsisten lewat skrip dan tampilan tak meyakinkan atas perbedaan jauh usia mereka. Begitu pula dengan aspek women’s empowerment yang dihadirkan dengan solid di versi 1987 bersama sempalan twist soal medis tadi, juga jadi simbol pengorbanan yang sangat mendalam terhadap kasih ibu terhadap anaknya – lewat begitu saja dengan gambaran maaf-maafan sedangkal sinetron buat menutup konfliknya.

Jadi terlihat serba malas, mengerucutkan konflik dan durasi sementara penceritaannya lebih memilih berlama-lama di tektokan verbal yang lebay antara dua karakter utamanya, Basbeth dan timnya malah semakin jatuh lagi di sekuens ending yang harusnya bisa sedikit menyelamatkan kekurangan mereka, apalagi kalau lagi-lagi, mau dibandingkan dengan ending versi 1987 yang luar biasa romantis bersama relevansi perpindahan set-nya ke San Francisco. Seperti bunga yang jadi sekedar bunga namun minim arti, sekuens finale di stasiun yang seharusnya melekat ke simbol ‘kereta’ yang dipakai Mira W atas titik pertemuan itu tergelar dengan garing di atas chemistry yang bukannya membaik tapi malah jadi makin canggung antara Morgan dan Aura.

Terkesan seolah kreator yang tak lagi peduli dengan hasil akhir karyanya, bahkan ketika rendisi dua love song klasik berturut-turut, Kaulah Segalanya Ruth Sahanaya dan Mencintaimu Kris Dayanti yang harusnya jadi songs tribute bagus untuk mengiringi versi barunya tak lagi bisa membantu, wrapping ending serba seadanya itu membuat Arini zaman now ini akhirnya benar-benar menjadi kereta yang sekadar lewat begitu saja. A lazy remake yang sama sekali tak punya respek terhadap pendahulunya, yang jelas-jelas punya pencapaian sefenomenal itu. Bah! (dan)

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter