Home » Dan at The Movies » TRUTH OR DARE (2018)

TRUTH OR DARE (2018)

TRUTH OR DARE: A TEEN SCREAMER THAT GOT CONFUSED BY ITS OWN CONCEPT

Sutradara: Jeff Wadlow

Produksi: Blumhouse Productions, Universal Pictures, 2018

Image: impawards.com

Semua orang sudah tahu kalau pemain terbesar indie horror dalam distribusi sekaligus profit berskala blockbusters sekarang ini adalah Jason Blum dengan Blumhouse Productions-nya. Hanya saja, satu-dua ada yang memang tak masuk kategori itu – dalam arti berada di kelas yang sedang-sedang saja kalau tak mau disebut sekadarnya. Truth or Dare dari Jeff Wadlow – penulis, produser dan sutradara yang dikenal lewat Never Back Down dan Kick-Ass 2 ini agaknya ada di kategori itu meski presentasi promo dan trailer – kecuali posternya, terlihat menjanjikan. Terutama dalam usaha menghidupkan kembali subgenre horror/slasher remaja yang populer di era ’90-an, yang sudah dimulai dari Happy Death Day tempo hari.

Konsep yang diusungnya sebenarnya sangat potensial. Sekelompok remaja; Olivia Barron (Lucy Hale) dan sahabat-sahabatnya, pasangan Markie (Violett Beane) – Lucas (Tyler Posey), Penelope (Sophia Ali) – Tyson (Nolan Gerard Funk) dan Brad (Hayden Szeto), gay berdarah Asia yang tengah berlibur ke Mexico bertemu dengan seorang pria bernama Carter (Landon Liboiron) yang mengajak mereka bergabung melewati malam terakhir liburan dengan permainan Truth or Dare di sebuah lokasi terpencil. Permainan yang awalnya terdengar menyenangkan ini mulai berbalik menjadi teror yang mengikuti mereka satu-persatu dengan taruhan nyawa.

Problem terbesar Truth or Dare ada pada naskah yang ditulis keroyokan oleh Michael Reisz, voice actor yang memulai debut scriptwriter pertamanya di sini bersama Jillian Jacobs, Chris Roach dan Wadlow sendiri. Setup yang terdengar potensial, paling tidak selama 15 menit pertama itu ternyata tak mampu mereka kembangkan menjadi sebuah permainan mematikan dengan gelaran teror yang inventif di genre-nya. Sadar bahwa istilah Truth or Dare mengacu kepada sebuah bentuk permainan interaksi yang sebenarnya bisa dikembangkan dengan baik, mereka gagal menyemat game rules sebagai faktor terpenting dalam subgenre sejenis.

Terlihat bingung dengan konsepnya sendiri, juga membuat pemirsanya bosan mengikuti trik demi trik di tengah urgensi penyelamatan diri yang tak juga bisa dihadirkan dengan baik di tengah treatment produksi yang kelihatan sekali serba buru-buru dan seadanya, karakter-karakter inti dengan permasalahan masing-masing pun tak pernah cukup kuat untuk membuat kita peduli. Dan ini bergulir semakin buruk saat final act-nya – di mana mereka terus menambah dan menambah lagi rules of the game itu ke arah kultur supranatural set-nya, sementara kita sudah tak lagi peduli dengan siapa celaka dan siapa yang selamat di tengah twist akhir yang (maunya) kelihatan lebih cerdas.

Kecuali Lucy Hale, artis multi talenta yang memang bisa menjadi satu-satunya faktor untuk membuat kita bertahan menyaksikannya sampai selesai, aktor-aktor pendukung lainnya juga tampil cukup buruk, bergantung sepenuhnya hanya pada tampilan fisik tapi juga tak diberi ruang cukup oleh skrip di atas karakterisasi tipikal genre-nya yang tak lagi bisa terselamatkan. Tak ada juga kelebihan teknis lain yang bisa mengangkat semua kekurangannya.

Apa boleh buat, Truth or Dare pada akhirnya berakhir sebagai horor medioker yang bagi sebagian penyuka genre-nya mungkin tak punya masalah, tapi tak pernah cukup kuat, bahkan masih berada jauh di bawah Happy Death Day untuk membawa penontonnya kembali merasakan formula sukses horor remaja ’90an seperti Scream dan sejumlah pengikutnya yang bagus. (dan)