Home » Dan at The Movies » THE TITAN (2018)

THE TITAN (2018)

THE TITAN: A HALF-BAKED DYSTOPIAN SCIFI MEETS CRONENBERG’S BODY HORROR 

Sutradara: Lennart Ruff

Produksi: Amel Company, The Motion Picture Capital, Netflix, 2018

Image: impawards.com

Dari peran-peran kecil di sejumlah film termasuk dua film perang, Hart’s War dan The Great Raid, aktor Australia Sam Worthington sempat melejit di tahun 2009-2010 dengan proyek kelas satu seperti Clash of the Titans, Terminator Salvation dan puncaknya, Avatar, meyakinkan kita bahwa dirinya adalah bintang Hollywood masa depan. Sayangnya, setelah itu, ia seakan terjebak di film-film kelas B selagi sekuel Avatar masih tertunda cukup lama, sementara Wrath of the Titans juga tak bisa berbuat apa-apa.

The Titan, produksi independen yang hak distribusinya diambil oleh Netflix dengan sutradara-penulis layar lebar debutan ini, agaknya juga bukan menjadi sarana tepat buat Worthington untuk kembali, malah cenderung memanfaatkan judul yang cenderung terkoneksi ke franchise Clash of the Titans walau punya premis jauh berbeda. Tapi menggabungkan dystopian scifi dengan creature feature yang mengarah ke subgenre body horror ala David Cronenberg secara konsep, ia sebenarnya terdengar cukup menjanjikan, di tengah deretan film-film scifi Netflix yang meski berbujet seadanya terkadang bisa mendapat sambutan baik.

Bumi yang di tahun 2048 dilanda segudang masalah akibat overpopulasi membuat para ilmuwan di bawah arahan Prof. Martin (Tom Wilkinson) mencoba mengeksplorasi bulan Saturnus, Titan, sebagai sasaran baru bagi umat manusia. Rick Janssen (Worthington), veteran perang dengan rekor bertahan 3 hari di tengah padang pasir Syria terpilih untuk menjadi salah satu objek eksperimen. Hanya saja Janssen tak menyadari dampak yang mulai ditemukan istrinya, Abigail (Taylor Schilling). Perlahan mulai beralih rupa menjadi monster, sebuah konspirasi rahasia di balik eksperimen itu pun mulai terbuka; di mana Abigail bersama putranya dan Dr. Freya (Agyness Deyn) harus menyelamatkan Janssen yang mengamuk berikut Martin yang ingin melindungi proyeknya dengan melenyapkan mereka semua.

Tak ada yang terlalu salah mungkin dalam skrip Max Hurwitz dalam mengemas penggabungan dua elemen utama tadi ke dalam The Titan dengan elemen love story dalam The Fly, remake film klasik legendaris versi David Cronenberg yang cukup kental. Hanya saja, pengarahan dari Lennart Ruff memang seakan bingung menemukan titik formula yang pas; half-baked di tengah keterbatasan bujet The Titan yang sangat terasa di sepanjang durasi pengisahannya.

Selagi bagian scifi-nya terlihat sangat ditekan, elemen body horror di tengah sematan perjuangan dengan motivasi cinta dua karakter utamanya juga tak tertata dengan baik, meninggalkan sisi paranoia yang tak pula bisa terfokus secara maksimal di antara Worthington dan Schilling, aktris dari drama seri Orange is the New Black, sementara aktor senior sekelas Tom Wilkinson pun tak bisa banyak membantu lewat karakter Prof. Martin bersama sempalan twist konspirasi dalam plot-nya.

The Titan, meski tak sepenuhnya jelek, paling tidak dengan pilihan ending yang tak lantas secara klise mengarahkannya ke konklusi nihilistik seperti banyak cerebral scifi yang tengah jadi trend sekarang, pada akhirnya hanya jadi film-film Netflix yang lewat begitu saja seusai kita menyaksikannya tanpa memberi kesan lebih. By concept, ia terlihat akan jadi sesuatu, tapi eksekusi akhirnya ternyata tak menjadikannya apa-apa. (dan)

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter