Home » Dan at The Movies » DEADPOOL 2 (2018)

DEADPOOL 2 (2018)

DEADPOOL 2: THE MOTHER OF ALL META, THE JACK OF ALL HEARTS

Sutradara: David Leitch

Produksi: Marvel Entertainment, Kinberg Genre, Maximum Effort, The Donner’s Company, 20th Century Fox, 2018

Image: impawards.com

Dalam konteks film sebagai sesuatu yang tak termasuk ilmu pasti, ada banyak sekali definisi meta atau meta-movies yang sekarang jadi trend di banyak blockbuster dalam membawa homage atau tribute yang berkaitan ke kontennya. Meta bisa berupa cameo, one-liner termasuk yang disampaikan dengan cara breaking the fourth wall langsung ke penonton, dan banyak lagi bahkan sebagai kumpulan homage, tribute atau reference dari genre ke pop culture yang disemat ke dalam filmnya, baik dalam tendensi serius maupun tidak. Ini memang sangat luas dan juga bisa bias hingga sangat memancing perdebatan di antara para penggila film; tapi jelas bukan parodi.

Yang terakhir hadir tentulah Ready Player One dari Steven Spielberg. Tak hanya menjadi meta dari karya-karya Spielberg sendiri, Ready Player One juga merentangkan konsep meta-nya ke genre scifi 80an. Namun sebenarnya sinema terutama blockbuster sekarang memang gemar sekali menyenggol pengertiannya dalam banyak aspek hingga ke pemilihan soundtrack yang menggali kembali memori penontonnya terhadap lagu-lagu lawas populer.

In that case, Deadpool 2 – sekuel tak terhindarkan dari effort sukses luarbiasa duo penulis Rhett ReesePaul Wernick (Zombieland, lupakan dosa besar mereka di G.I. Joe: Retaliation), sutradara Tim Miller dan penampilan nyeleneh Ryan Reynolds mengangkat karakter antihero Marvel Comics kreasi Fabian Nicieza dan Rob Liefeld yang sebelumnya sempat dibawakannya di instalmen X-Men Origins: Wolverine (2009), memang melangkah membawa kontinuitasnya ke ranah yang lebih gila lagi.

Tak hanya menjadi trendsetter di film superhero dengan rating R (dewasa) yang benar-benar tak pantas jadi konsumsi keluarga sebagai pangsa terbesarnya bahkan dipasarkan penuh canda sebagai love story yang mengambil momen rilis Valentine’s Day dengan serius, promo-promo viral penuh homage yang terus berlangsung hingga mendekati perilisan Deadpool 2 (termasuk bundling marketing-nya dengan Wiro Sableng), juga melahirkan trend di mana-mana dengan popularitas yang melambung terhadap franchise-nya sendiri. Dalam seketika, hanya lewat 1 instalmen solo, Deadpool menjadi nyaris sejajar dalam konteks popularitas karakter berkejaran dengan Wolverine-nya Hugh Jackman.

Tetap berada di tangan Reese-Wernick dan Reynolds yang kini ikut dikredit di penulisan, sementara sutradaranya berpindah ke tangan David Leitch (Atomic Blonde dan uncredited director di John Wick), dalam Deadpool 2, konsep-konsep meta itu secara ground-breaking mereka benturkan tanpa lagi punya pembatas. Menyentuh franchise-nya sendiri – dari solo Deadpool ke universe X-Men bahkan Marvel dan rumah terbesarnya – Disney (hint ke Bambi dan The Lion King juga Frozen), ia juga bergerak bebas ke berbagai macam genre serta pop culture, berkali-kali menyentil keras DC sebagai saingannya bahkan self-mockery ke karir Reynolds dan juga pencapaian Deadpool sebagai superhero rated R yang memicu banyak perdebatan. Tapi semua pada akhirnya tetap menyimpulkan satu. Sebagaimana meta-movies lainnya, by concept, ini menunjukkan kecintaan besar terhadap sinema blockbuster.

2 tahun malang-melintang sebagai mercenary menumpas berbagai macam bentuk kriminal dengan caranya, Wade Wilson/Deadpool (Ryan Reynolds) yang putus asa karena sebuah tragedi yang membuatnya gagal membina keluarga bersama kekasihnya Vanessa (Morena Baccarin) akhirnya menerima juga tawaran Colossus (Stefan Kapičić) dan Negasonic Teenage Warhead (Brianna Hildebrand) untuk bergabung bersama X-Men sebagai trainee. Tugas pertamanya mengatasi mutan kecil Russell Collins/Firefist (Julian Dennison) yang mengamuk karena ditindas oleh kepala akademi (Eddie Marsan) anak-anak mutan ternyata tak mudah. Dikirim ke Icebox, penjara mutan terisolasi, datang pula Cable (Josh Brolin), mutan sibernetik dari masa depan untuk menghabisi Russell untuk mencegah tragedi keluarganya. Awalnya menolak, Deadpool mulai tergerak untuk menyelamatkan Russell demi suatu tujuan. Bersama sahabatnya, si bartender Weasel (T.J. Miller), ia pun merekrut mutan-mutan baru termasuk lucky mutant Domino (Zazie Beetz) membentuk X-Force buat menghadapi Cable. Namun Russell yang keburu kecewa dengannya juga membentuk aliansi dengan mutan misterius terkuat di Icebox untuk menyatroni dan membakar seisi akademi.

Tak ada kata paling tepat untuk menggambarkan apa yang dilakukan Reese-Wernick dan Reynolds bersama sutradara David Leitch – yang menyuntikkan energi baru tanpa mengkhianati pakem yang sudah digelar Tim Miller dari film pertamanya ke dalam sekuel ini selain kegilaan. Sekilas effort mereka terlihat bagai anak-anak yang diserahi setumpuk action figure untuk dimainkan sesuka hati mereka, namun lihat lebih dalam, mereka sebenarnya memiliki kekuatan konsep lewat sebuah racikan berisi begitu banyak elemen yang walau terasa mustahil untuk digabungkan namun bisa berhasil. Hebatnya lagi, di tengah benang merah yang jelas mereka sadari bahwa Deadpool dan elemen X-Men/X-Force-nya bukanlah assemble utama seperti The Avengers ataupun franchise besar X-Men bila digabungkan.

Mengangkat dasar plotnya dari sebuah love story ke konsep soal keluarga (pas pula dirilis di momen International Family Day) yang sebenarnya bukan lagi hal baru di universe karakter semacam ini, mereka bahkan bisa menyemat heart factor ke tengah-tengahnya. Membuat Deadpool 2 menjadi film superhero dengan plot family-oriented namun tetap jauh dari tontonan family-friendly. Di sinilah sebenarnya elemen-elemen yang serba unlikely tadi, seakan seabrek zat kimia yang tak bisa membentuk fusi reaksi yang tepat kala digabungkan ternyata bisa bekerja saling menguatkan satu dengan yang lain.

Muatan dialog dalam konsep meta menyenggol ke sana ke mari-nya digagas dengan pakem humor yang sudah terbentuk secara khas di film pertamanya, mengocok perut dengan humor-humor nyeleneh, kadang seperti dua movie geeks yang tengah ngobrol ngalor-ngidul sementara amunisi referensinya juga tergelar luar biasa kaya dengan semua tidbits hingga excerpt Yentl (1983)-nya Barbra Streisand dengan lagu Papa Can You Hear Me? yang dibenturkan ke Do You Want to Build a Snowman?-nya Frozen sampai ke pemilihan soundtrack. Masih ingat rasanya bagaimana Deadpool menorehkan atmosfer romansa dengan begitu kuat lewat dua love song legendaris You’re the Inspiration-nya Chicago dan Careless Whisper-nya George Michael, di sini kita sudah mendengar All Out of Love-nya Air Supply ketika film dibuka, lantas ada dua versi Take On Me dari A-ha (orisinal dan akustik), 9 to 5-nya Dolly Parton, Only Time-nya EnyaIn Your Eyes Peter Gabriel dari film remaja 80an Say Anything yang juga ikut jadi referensi adegan ikoniknya, Tomorrow dari Annie versi 1999 versi Alicia Morton hingga We Belong-nya Pat Benatar, If I Could Turn Back Time-nya Cher dan tentu saja theme song spesial dari Celine Dion, Ashes, yang selain ikut jadi viral marketing juga muncul dengan referensi menarik di filmnya.

Di deretan cast, selain karakter lama yang kembali; Morena Baccarin sebagai Vanessa, T.J. Miller sebagai Weasel, Leslie Uggams sebagai Blind Al dan Karan Soni sebagai Dopinder plus Kapičić dan Hildebrand  dan beberapa karakter baru yang menarik; Shioli Kutsuna sebagai Yukio dan Julian Dennison (The Hunt for Wilder People-nya Taika Waititi) – Zazie Beetz (serial Atlanta) sebagai scene stealer utamanya, juga ada sejumlah cameo aktor dan karakter mengejutkan. Selagi MVP terbesarnya, Josh Brolin sebagai Cable jelas menjadi faktor jualan teratas bersama Reynolds yang makin solid, seolah ia dilahirkan khusus untuk memerankan Deadpool di tengah sempalan meta buddy movie dan Terminator, kru X-Force yang diperankan oleh Terry Crews, Lewis Tan, Bill Skarsgård, dan terutama Rob Delaney sebagai Peter – yang sudah dimunculkan di salah satu versi poster dan icon twitter, juga mendapat treatment tak kalah mengejutkan, nyeleneh; masing-masing sebagai bagian dari kegilaan konsep tadi.

So, memang sulit rasanya untuk tak mengakui kehebatan Deadpool 2. Selagi film pertamanya mungkin memang tak bisa tertandingi dalam aspek surprise – bagaimana mereka mendobrak konsep film-film superhero biasanya, sekuel ini punya segudang keunggulan lain untuk melengkapinya; tetap di tengah aksi dengan kesadisan gila-gilaan, nonsensical humor se-level komedi mo lei tau di film-film HK, namun tak pernah sekalipun mengorbankan heart factor dalam tiap motivasinya, yang justru tetap bisa hadir dengan nilai serta pendekatan yang tak jarang – menyeruak di tengah dengan sangat menyentuh. Puncaknya tentu saja ada di gelaran post credit scene, might be one of the best in years, yang benar-benar meledakkan semua kegilaan tadi secara tak terduga. Dalam konteks hiburan murni ala blockbuster yang secara nonstop membombardir penontonnya dengan berbagai ragam kesenangan dan keseruan, kita tahu, dengan cara permainan seperti ini, amunisinya jelas belum bakal berakhir sampai di sini. The mother of all meta, the jack of all hearts. (dan)

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter