Home » Dan at The Movies » SOLO: A STAR WARS STORY (2018)

SOLO: A STAR WARS STORY (2018)

SOLO: A STAR WARS STORY: THE FORCE IS NOT STRONG WITH THIS ONE

Sutradara: Ron Howard

Produksi: Lucasfilm Ltd., Walt Disney Studios Motion Pictures, 2018

Image: impawards.com

Film yang bermasalah dalam proses pembuatannya biasanya juga akan berdampak pada hasil akhir yang tak benar-benar bisa maksimal. Tentu tak semua, tapi kebanyakan seperti itu. Solo: A Star Wars Story yang jadi bagian dari ekspansi franchise-nya di tangan Disney, instalmen layar lebar kedua dalam film series A Star Wars Story setelah Rogue One, agaknya juga termasuk di dalamnya.

Selagi Han Solo merupakan salah satu karakter paling melegenda dari franchise-nya yang jelas layak mendapat instalmen solo/origin story meski mereka agak gegabah membunuh karakternya di The Force Awakens, proyek ini sudah digagas pula oleh George Lucas dengan penulis Lawrence Kasdan sebelum Lucasfilm diakuisisi Disney. Sayangnya proses pembuatannya tak berjalan mulus.

Dimulai dari pemilihan Alden Ehrenreich sebagai Han Solo muda yang banyak mendapat reaksi negatif di medsos, kurang lebih setahun setelahnya, kabar tentang acting coach yang disewa Lucasfilm karena kecewa dengan performa Ehrenreich diikuti pemecatan sutradara Phil Lord dan Christopher Miller (The Lego Movie, 21 & 22 Jump Street) atas alasan perbedaan kreatif. Ada titik terang saat nama Ron Howard muncul untuk menyelamatkan semuanya dengan melakukan segudang reshoots, namun agaknya permasalahannya sudah terlalu melebar termasuk part aktor Michael K. Williams yang terpaksa dipotong di meja editing karena skedul yang tak memungkinkannya untuk kembali. Apalagi saat trailer-nya diluncurkan, diikuti sambutan cukup meriah oleh kritikus di Cannes. Harapan itu kembali menjulang.

Solo: A Star Wars Story pun membawa kita kembali ke masa muda Han Solo (Alden Ehrenreich) dengan introduksi yang menggambarkan karakternya yang hidup menggelandang di Planet Corellia dengan motivasi murni ingin jadi pilot tangguh. Berniat melarikan diri bersama kekasihnya, Qi’ra (Emilia Clarke) namun terpisah, di balik janji kembali menyelamatkan Qi’ra suatu hari nanti, Han yang menjadi prajurit dan bersahabat dengan wookie Chewbacca (Joonas Suotamo) kemudian bergabung bersama sekelompok pencuri galaksi; Tobias Beckett (Woody Harrelson), Val (Thandie Newton) dan alien Rio (Jon Favreau) yang tengah menjalankan misi untuk gembong kriminal Dryden Foss (Paul Bettany). Kembali bertemu Qi’ra dalam sebuah misi yang juga mengikutsertakan pilot penyeludup oportunis Lando Calrissian (Donald Glover) dan droid partner-nya, L3-37 (Phoebe Waller-Bridge) di atas pesawat angkasa Lando yang bernama Millennium Falcon, Han kemudian tertempa oleh sejumlah pengkhianatan dan kekecewaan untuk benar-benar bisa memilih siapa kawan, siapa lawan termasuk menentukan masa depannya.

Tak ada yang salah dengan konsep heist movie meets coming of age story tentang sebuah pencarian jati diri yang datang dari visi Lucas bersama penulis skrip bapak –anak Lawrence dan Jonathan Kasdan. At least, itulah memang yang diharapkan fans-nya sebagai origin story Solo yang belum pernah diceritakan di expanded universe Star Wars lewat media lain franchise-nya. Bagaimana ia bertemu Chewbacca, menjadi pilot Millennium Falcon yang iconic meski belum lagi sampai ke awal kita pertama kali mengenal karakternya di A New Hope saat ia bergabung bersama Luke dan Leia. Pendeknya, duo Kasdan ini sudah menggagas origin story itu sebagaimana mestinya. Selipan-selipan hint ke karakter-karakter yang sudah kita kenal; seperti Han shoots first ataupun memorable quotesI know’-nya Han Solo, juga terasa sangat efektif sebagai sebuah kisah awal.

Tak ada pula yang salah dalam gambaran dan elemen-elemen universe yang jelas sangat dijaga Disney-Lucasfilm lewat status franchise blockbuster mega-budget-nya. Bersama ekspansi-ekspansi yang satu dua di antaranya punya benang merah jelas ke universe Star Wars; sebagian sudah diketahui pemirsanya dan sebagian lagi mengharuskan mereka mengulik lebih dari sekedar instalmen-instalmen layar lebarnya termasuk ke spinoff animasi, visual dan aksi berbalut efek dan CGI kelas satu, sinematografi Bradford Young (Arrival) berikut scoring komposisi John Powell bersama dedengkot legendarisnya, John Williams, memang berhasil mengantarkan kita kembali ke dunia Star Wars yang nostalgik di atas keseruan seolah menaiki wahana petualangan galaksi yang sangat kinetik.

Hanya sayang, berkali-kali, Ron Howard terasa kelewat membawanya ke ranah dramatisasi yang lebih serius dan serba gelap namun gagal didukung dengan emosi yang kuat ketimbang sisi fun yang melekat ke sosok Han yang kita kenal di trilogi orisinalnya. Sentuhan komikal sangat minim yang membuat kita dengan gampang bisa mengenali jejak Lord-Miller di sejumlah adegannya. Nyaris tak ada eskalasi emosi yang bisa dimunculkan Howard dengan baik buat mengiringi proses storytelling pendewasaan Han dan pilihan akhirnya menjadi seorang scoundrel di tengah benturan-benturan cinta dan pengkhianatan yang bolak-balik menjadi konfliknya.

Ini terasa sangat tak konsisten pula dengan bentukan karakternya. Berkali-kali, Ehrenreich terlihat seakan diarahkan untuk mewarnai penceritaan seriusnya dengan gaya santai berikut senyuman Han yang diperankan berdekade-dekade oleh Harrison Ford yang kita kenal selama ini, tapi Solo tak pernah menemukan titik fusi yang pas ke tengah-tengah pengadeganannya yang cenderung terasa awkward.

Inkonsistensi akting ini juga melanda semua aktornya. Sesekali, Ehrenreich terlihat cukup pas dan bisa membuat kita melihat sosok Han Solo di gestur dan ekspresi walaupun nyaris tak pernah lewat intonasi suaranya seperti di klimaks pertarungan di atas pesawat atau menit-menit akhir Solo, namun sayangnya di beberapa titik penting yang seharusnya sangat krusial, kebanyakan gagal. Riasan rambutnya juga seakan tak ter-handle dengan konsisten hingga ke level sangat mengganggu di mana kita sulit percaya bahwa ia adalah Han Solo.

Bermain sebagai Qi’ra, Emilia Clarke mungkin merupakan yang lebih baik ketimbang yang lain meskipun masih diwarnai inkonsistensi di beberapa bagian. Donald Glover yang banyak dielu-elukan sebagai Lando versi Billy Dee Williams muda yang digambarkan sama perlente namun lebih terasa kekinian di balik penjelasan pansexual-nya pun sebenarnya bagus namun tak diberi kesempatan banyak kecuali di sejumlah adegan di atas meja judi bersama Han, sementara aktor-aktor senior seperti Woody Harrelson dan Paul Bettany yang sekali ini tampak malas-malasan, apalagi Thandie Newton, sungguh tak bisa banyak membantu.

So, keseluruhan Solo: A Star Wars Story memang terang-terang menyiratkan sebuah gambaran produksi penuh masalah dan kekacauan yang pada akhirnya membuat para pendukungnya sangat terlihat tak lagi benar-benar nyaman memainkan dan mengimprovisasi karakter mereka. Minim sentuhan komikal, lemah di emosi dan dipenuhi inkonsistensi akting, yang tertinggal dari Solo: A Star Wars Story hanyalah percikan memori dan keseruan galaxy rides yang benar-benar terasa kinetik bagai tengah berada di theme park terutama bila disaksikan di bioskop dengan motion gimmicks. Kalau itu rasanya cukup, Solo: A Star Wars Story rasanya tak akan terlalu bermasalah. But one thing for sure, the force is not strong with this one. (dan)

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter