Home » Dan at The Movies » THE GIFT (2018)

THE GIFT (2018)

THE GIFT

Sutradara: Hanung Bramantyo

Produksi: Seven Sunday Films, 2018

Memulai karir layar lebarnya lewat Brownies (2004) yang langsung menganugerahkannya Piala Citra untuk sutradara terbaik di tahun yang sama, Hanung Bramantyo sempat melaju lewat karya-karya terbaiknya; Catatan Akhir Sekolah (2004), Jomblo (2006), Get Married (2007; kembali memenangkan penghargaan yang sama) sebelum akhirnya menjadi sosok yang lekat dengan sejumlah kontroversi dan film-film blockbuster reliji walaupun tetap menjadi salah satu nama papan atas di profesinya. Padahal, di awal-awal karir itu, gaya penyutradaraan dan sentilan-sentilannya terlihat dekat sekali ke sineas legendaris kita, Nya Abbas Akup.

The Gift mungkin merupakan usaha Hanung untuk membuktikan bahwa akarnya yang datang dari Yogyakarta bersama sineas-sineas seangkatannya – walaupun pendidikan filmisnya berasal dari IKJ, juga bisa membawanya sedikit bergeser dari jalur pop dan komersil. Produksi pertama Seven Sunday Films berdasar ide produser Anirudhya Mitra dengan skrip yang ditulis oleh Ifan Ismail ini agaknya menjadi vehicle yang tepat untuk mengantarkan usaha pembuktian itu, walau sekilas tak ada yang baru dari premisnya. Apalagi, departemen cast-nya punya nama-nama besar dan sangat dikenal dari Reza Rahadian, Ayushita Nugraha, Dion Wiyoko sampai Christine Hakim.

Tiana (Ayushita Nugraha), penulis yang tengah mengasing ke Yogyakarta untuk mencari ilham buat novel terbarunya tak menyangka bahwa ia bisa jatuh cinta dengan Harun (Reza Rahadian), pemilik rumah kos yang ditempatinya. Sangat introvert dan cenderung tak ramah, ternyata keduanya menyimpan trauma berbeda. Selagi Harun kehilangan penglihatannya akibat sebuah kecelakaan yang dipicu konflik keluarga, Tiana pun sejak kecil tinggal di panti asuhan setelah ibunya (Annisa Hertami) bunuh diri. Menyatu dalam rasa di tengah luka masa lalu yang sama-sama mereka miliki, sayangnya hubungan ini terganggu oleh datangnya Arie (Dion Wiyoko), orang dari masa muda Tiana, seorang dokter mata berdarah Indonesia yang berdomisili di Italia, buat melamarnya.

Tak ada memang yang terlalu baru dalam premis cinta segitiganya, namun Anirudh dan Ifan memang menggerakkan penceritaan ini ke ranah filosofis soal cinta di tengah trauma dan keterbatasan, di mana karakter-karakternya terhubung dalam tendensi-tendensi berbeda untuk kekosongan jiwa masing-masing. Pemaparan yang puitis dari skrip Ifan Ismail ini berhasil diterjemahkan Hanung lewat tata kamera Gilang Galih yang membingkai adegan-adegannya bak lukisan di tengah atmosfer Yogyakarta – Italia yang ikut bicara dan kecenderungan penyampaian yang bergerak perlahan meski tak melulu diam seperti kebanyakan film-film arthouse.

Di situ, scoring piano dan strings cukup simplistic besutan Charlie Meliala juga mengisi emosinya dengan tepat di tengah effort-effort lumayan unik dalam menghadirkan keseimbangan artsy framing dan elemen-elemen komersil termasuk theme song yang dinyanyikan Reza bersama Yura Yunita atau rendisi baru lagu Izinkan Aku Menyayangimu dari penyanyi aslinya sendiri, Iwan Fals.

Semua ini berjalan di atas tampilan akting pendukung yang mentranslasikan proses dan tahapan-tahapan intimacy-nya dengan sangat baik. Reza dan Ayushita menjadi penampil terbaik yang membuat seluruh motivasi cinta tak biasa itu jadi bisa muncul dengan meyakinkan, sementara masih ada Dion Wiyoko yang juga tak lantas jomplang disandingkan di tengah mereka, hingga deretan aktor pendukung dari Annisa Hertami, Rukman Rosadi, juga Tuminten sebagai si Mbok hingga Christine Hakim walaupun tak diberi porsi banyak.

Namun sayangnya, ada pilihan-pilihan yang tak bisa dihindari dalam menghadirkan konklusi kisah yang memang ingin mereka kemas dalam nafas filosofis soal bagaimana esensi cinta dan pengorbanan bisa membawa karakter-karakter sentralnya berpindah menempati dan merasakan trauma masing-masing, di mana soal elemen-elemen kebetulan lantas jadi sesuatu yang bisa dimaafkan atas tendensi itu, juga subplot berupa character twist untuk penekanan psikologis yang sebenarnya sedikit terlalu mendistraksi plot utamanya selain soal medis.

Di luar itu, The Gift paling tidak sudah memberi sentuhan berbeda tak hanya dalam pendekatan Hanung Bramantyo yang sangat tak biasa dan mungkin belum pernah ditunjukkannya selama karir layar lebarnya, tapi juga dalam subgenre adult romance yang semakin banyak bermunculan di film kita sebagai penyeimbang romcom atau melodrama cinta remaja. Visual, framing dan storytelling experience yang paling tidak juga hadir dengan keseimbangan yang baik; tidak melulu komersil dan tak juga jatuh menjadi sajian arthouse yang kelewat filosofis, masih sangat layak mendapat penghargaan lebih. (dan)