Home » Dan at The Movies » TULLY (2018)

TULLY (2018)

TULLY: A DIFFERENT ODE TO MOTHERHOOD WITH DEEP FAMILY ESSENCE

Sutradara: Jason Reitman

Produksi: Bron Studios, Right of Way Films, Focus Features, 2018

Image: impawards.com

Di sela-sela gempuran blockbuster musim panas studio besar kita mungkin harus bersyukur masih ada importir yang mau mengimpor serta ekshibitor yang mau memutar film-film independen yang baik tanpa harus mengorbankan star factor yang masih bisa meraup penggemarnya. Tully yang hadir minggu ini datang dari sineas Jason Reitman yang memang berkiprah di produksi studio independen.

Kembali membawa serta partnernya di Juno (2007) dan Young Adult (2011), keduanya merupakan film independen berstatus acclaimed dan juga memenangkan banyak award termasuk Oscar dan BAFTA, penulis – produser Diablo Cody, Tully sudah banyak menarik perhatian di Sundance tahun ini. Jelas bukan saja karena Charlize Theron yang tampil sama sekali jauh dari biasanya sebagai ibu post-partum dengan tampilan lemak menggelambir yang harus berjuang melawan emosinya, tapi juga karena kontennya yang kuat dalam membidik kehidupan orangtua dan keluarga.

Marlo (Charlize Theron) seorang ibu beranak dua dari keluarga sederhana dengan suaminya, Drew (Ron Livingston) yang selalu sibuk bekerja tak pernah merencanakan kehamilan ketiga ketika masih dipusingkan dengan masalah psikologis yang diderita anak laki-lakinya. Atas saran adiknya, Craig (Mark Duplass), Marlo akhirnya menerima babysitter sebagai hadiah baby shower-nya. Tully (Mackenzie Davis), babysitter yang bertugas di malam hari untuk meringankan Marlo itu ternyata benar-benar bisa memperbaiki keadaan termasuk membuat Marlo kembali lebih bersemangat hingga di suatu malam, sebuah kejadian tak terduga muncul ke hadapan Marlo.

Premis simpel itu memang awalnya terlihat cukup berbelit buat memberi eksposisi terhadap karakter-karakternya. Dikemas dalam gaya Reitman-Cody yang biasa, menghadirkan realita yang jauh dari hingar-bingar blockbuster namun terasa serba canggung namun di saat yang bersamaan juga sangat intim dalam interaksi karakter-karakternya, skrip Cody dan pengarahan Reitman bergerak perlahan untuk benar-benar membuat penontonnya masuk ke karakter dan ide yang mereka usung. Di pengujungnya, ada twist kecil yang walau bukan merupakan sesuatu yang benar-benar baru namun memang memuat konklusi sangat menohok terhadap plot-nya.

Bermain sebagai Marlo, Theron memang jadi MVP dalam Tully. Mengulang kemampuan akting bunglon seperti yang dilakukannya dalam Monster (2003) – yang menganugerahkannya Oscar sebagai aktris terbaik, ia tak keberatan menambah beratnya hingga 23 kg plus sedikit tambahan makeup untuk memerankan karakter ini. Namun tak hanya bergantung pada soal itu, ia benar-benar mampu meyakinkan kita ke masalah psikologis yang dihadirkan Cody dan Reitman dalam karakternya.

Tully masih punya penampilan tak kalah baik dari Mackenzie Davis sebagai karakter titular dalam interaksi luar biasa bagus bersama Theron. Chemistry mereka kadang bisa sangat blur bahkan cukup meledak-ledak di babak ketiganya, namun selalu bisa kembali memberi hati ke tengah-tengahnya dengan tiap sisi yang terjawab bagus di konklusinya, lantas juga Ron Livingston sebagai Drew yang masuk setiap skrip Cody memberi penekanan atas tahapan-tahapan solusinya. Akting tipikal Livingston sebagai protagonis yang kerap muncul di film-filmnya mungkin tak lagi terasa spesial, namun dimanfaatkan dengan baik dalam tiap scene yang memuat karakternya. Sementara aktor/sineas indie Mark Duplass yang walaupun tak punya porsi banyak tetap mengisi perannya dengan pas bersama pendukung-pendukung kecil lain termasuk pemeran Jonah, putra Marlo. Masih ada pula beberapa soundtrack yang asyik seperti rendisi baru theme song James Bond You Only Live Twice yang dibawakan Beulahbelle dan beberapa lagu lawas klasik Cyndi Lauper.

Dari luar, Tully boleh jadi terlihat seperti drama independen biasa yang bagi sebagian penonton boleh jadi terasa menjemukan karena cara penuturan yang tak biasa. Tapi dalam lapis terdalamnya, perempat akhir konklusinya harus diakui hadir luar biasa kuat membawa kita, terutama penonton yang sehari-harinya berbenturan dengan masalah-masalah serupa akan melihat balik esensi terpenting dalam letupan hubungan-hubungan keluarga tanpa harus hadir merengek-rengek dalam nuansa melodramatik di kotak penuturan serba komersil. Di ujung akhirnya ia juga tak lantas harus jadi nihilistik atau tak tuntas membahas masalah seperti yang banyak dilakukan film-film independen dalam memberi batasan, namun tetap bisa berbicara dengan lantang sekaligus tetap menyentuh buat menyampaikan harapan-harapan di balik cinta dalam mempertahankan bahtera kecil bernama keluarga. Di sini, Tully menunjukkan pencapaian berbeda dari karya-karya Reitman dan Cody yang biasanya bernada sedikit sinis. Sedikit mirip seperti Lady Bird kemarin saat berbicara soal konflik keluarga, hanya di sini berfokus ke soal motherhood, ketulusan dalam tiap sisi penyampaiannya sangat terasa. (dan)

 

 

Latest posts by admin (see all)