Home » Dan at The Movies » INCREDIBLES 2 (2018)

INCREDIBLES 2 (2018)

INCREDIBLES 2: A BRASSY-JAZZY PURE FAMILY FUN – SMASHING ACTION

Sutradara: Brad Bird

Produksi: Walt Disney Pictures, Pixar Animation Studios, 2018

Image: impawards.com

Kesuksesan dan pencapaian The Incredibles sebagai animasi besutan Pixar di tahun 2004, jauh sebelum trend film superhero jadi sebesar sekarang, juga melahirkan trend ke subgenre film superhero keluarga ke film-film seperti Sky High dan Zoom – juga dari Disney, sebenarnya sangat layak berlanjut dengan sekuel. Entah mengapa, baru di tahun 2013 akhirnya Brad Bird melanjutkan konsep yang sebenarnya sudah dipikirkannya sejak lama.

Okay, di luar pencapaian gemilang secara kualitas itu memang harus diakui bahwa sebagai franchise Pixar, Incredibles masih kalah pamor ketimbang Cars, Toy Story bahkan Finding Nemo.Namun di sisi lain, ini bisa jadi sebuah serendipity melalui kesesuaian arah pengembangan Bird, yang diakuinya justru punya tantangan lebih dengan trend franchise superhero yang ada sekarang termasuk Marvel yang sudah jadi bagian dari rumah besar Disney. Ide menukar fokusnya ke Elastigirl dalam konsep-konsep feminisme dan women’s empowerment yang tengah marak sekarang adalah salah satu yang sudah terlihat dari trailer-nya.

Incredibles 2 pun melanjutkan petualangan keluarga Bob Parr/Mr. Incredible (Craig T. Nelson) bersama Helen/Elastigirl (Holly Hunter) dan ketiga anak mereka, Violet (Sarah Vowell), Dash (Huck Milner) dan bayi Jack-Jack (Eli Fucile) persis ke epilog film pertama di mana mereka mesti menghentikan penjahat Underminer (John Ratzenberger) dari sebuah perampokan. Sayang kemudian pemerintah merasa usaha superhero menghentikan kejahatan ini punya efek kerusakan serius sehingga programnya dihentikan dan semua superhero harus dirumahkan. Tak lama kemudian, mereka dikontak oleh Winston Deavor (Bob Odenkirk), pengusaha perusahaan telekomunikasi DEVTECH sekaligus fan superhero yang bersama adiknya, Evelyn (Catherine Keener) berniat mengubah citra di kalangan masyarakat agar pemerintah kembali menerima superhero. Namun yang mereka pilih menjadi ambassador justru Helen. Bob pun terpaksa mengasuh anak-anaknya dengan bantuan Frozone (Samuel L. Jackson) sementara Helen menjalankan tugasnya bersama sejumlah superhero baru yang dipilih Deavor, hingga sebuah konspirasi rahasia di balik munculnya penjahat super misterius Screenslaver hendak menggagalkan rencana ini. Belum lagi, kekuatan luar biasa Jack-Jack yang tak terkontrol dan baru disadari Bob membuatnya kembali meminta pertolongan ke Edna Mode (Brad Bird). Bersama Frozone, mereka pun harus beraksi menolong Helen dari ancaman kejahatan, sekaligus sekali lagi – bersama-sama menyelamatkan dunia.

Pixar, kali ini lewat Brad Bird yang memang merupakan punggawa franchise-nya, kembali membuktikan kepiawaian mereka mengekspansi produk unggulannya. Skrip yang tetap digawangi Bird membawa petualangan The Incredibles ke ranah yang sangat relevan dengan isu-isu pemberdayaan wanita sekarang ini dengan cerdas tanpa sekalipun melupakan inti moral yang diusungnya soal keluarga. Rentang sepanjang 14 tahun ternyata tetap bisa di-tackle-nya secara cermat, membuat benang merah itu masih terasa sangat fresh, seolah baru 3 bulan seperti timeline kelanjutannya, ke seluruh elemen-elemen yang membuat pendahulunya tampil begitu kuat.

Walau begitu, babak kedua soal konflik-konflik berdasar isu feminisme dalam dominasi peran anggota keluarga ini memang tak bisa tidak, terasa agak berat bagi pemirsa-pemirsa belia di usia tertentu. Ini agak sulit dihindari meskipun Bird terlihat sangat berusaha menjaga pace lewat sejumlah adegan aksi kinetik yang diselipkannya di tengah-tengah pengembangan konflik tadi. Untunglah, ia tak pernah kehilangan pijakan terhadap karakter-karakter bersama sejumlah superhero baru yang dimunculkan termasuk Karen/Voyd (Sophia Bush) yang tampil sebagai karakter baru paling menonjol di antara yang lain. Sementara, highlight utamanya jelas ada pada aspek eksploratif ke karakter Jack-Jack yang memang selalu jadi elemen paling menarik dalam plot kisah-kisah superhero.

Membungkusnya dengan feel nostalgia yang hadir dengan konsisten, dari karakter Frozone terlebih Edna Mode – tetap jadi scene stealer utama hingga scoring brass-jazz ala big band dari Michael Giacchino, homage ke atmosfer 60s vintage family superhero-nya juga muncul bahkan lebih kuat dari pendahulunya. Masih ada juga homage-homage lain termasuk serial animasi Jonny Quest dari Hanna-Barbera yang mungkin jadi pilihan personal bagi Bird sendiri. Benang merah terhadap inti kisah soal keluarga juga diperkuat dengan animasi pendek luar biasa menyentuh, Bao, yang merupakan karya sutradara wanita Asia pertama di Pixar, Domee Shi.

Secara keseluruhan, Incredibles 2 mungkin sebagai sekuel belum bisa melewati pencapaian pendahulunya, namun apa yang dilakukan Brad Bird untuk menyambung kiprah karakter-karakter ini dalam rentang waktu begitu panjang – 14 tahun menjadi terasa singkat dalam hitungan bulan, itu jelas merupakan langkah gemilang yang tak akan bisa dilakukan semua orang. Dengan klimaks penutup yang sangat seru serta kinetik untuk kelas animasi Pixar, ia tak hanya dengan cepat membangkitkan ingatan kita ke pencapaian film pertamanya, tapi juga membuat kita tak sabar merindukan kelanjutannya. A pure family fun – smashing action yang tak kalah dari film-film superhero live action, dan di tengah-tengahnya, tetap mengusung identitas sejati Pixar yang belakangan di tangan John Lasseter sempat sedikit bergeser kelewat dewasa ke arah tearjerker ketimbang menonjolkan digdaya teknologi animasi dalam batasan konten lebih dalam dari animasi klasik Walt Disney. (dan)

Latest posts by admin (see all)