Home » Dan at The Movies » SICARIO: DAY OF THE SOLDADO (2018)

SICARIO: DAY OF THE SOLDADO (2018)

SICARIO: DAY OF THE SOLDADO: A SLICK AND INTENSE SEQUEL THAT RAISES ALL STAKES FROM THE PREDECESSOR

Sutradara: Stefano Sollima

Produksi: Black Label Media, Thunder Road Pic, Rai Cinema, Lionsgate, 2018

Image: impawards.com

Banyak yang mengakui bahwa Sicario (2015) karya Denis Villeneuve adalah sebuah drug cartel thriller yang groundbreaking walaupun promo dan trailer-nya sedikit menipu sebagai action yang mau tak mau tak bisa membayar ekspektasi sebagian besar penontonnya. However, meski lemah sekali di action staging di porsi yang minim, apa yang dilakukan Villeneuve secara berbeda dengan banyak film-film di subgenre sejenis memang unik serta berhasil membidik detil-detil lebih soal aktivitas kartel narkoba dan intrik-intrik FBI di situ.

Melebihi reaksi beragam itu, adalah skrip dari Taylor Sheridan, penulis skrip nominee Oscar dari Hell or High Water (2016) yang namanya tengah menanjak sekali setelah menyutradarai Wind River (2017) yang lebih harus diakui sangat berhasil membawa keseluruhan aspek-aspek yang ada dalam Sicario. Sheridan, lewat karya-karya yang sangat terasa dipengaruhi riwayatnya tumbuh besar di daerah Texas, memang punya batasan beda dalam mengangkat kultur dan situasi politis dari kaum marjinal Amerika sekaligus punya script signature yang secara langsung bisa membentuk tone filmnya sebagai Modern Westerns. Tentu tak banyak penulis skrip yang bisa seperti ini.

Melanjutkan kiprahnya ke sekuel Sicario yang urung disutradarai Villeneuve dan berpindah ke tangan sineas Italia berstatus acclaimed Stefano Sollima lewat ACAB – All Cops Are Bastards (2012) – thriller polisi yang membawa kembali trend Italian crime ‘70an, juga Suburra (2015) – film gangster Italia yang tak kalah bagus, Sheridan kini mengembangkan Sicario ke dua pentolan utamanya yang diperankan oleh Benicio del Toro dan Josh Brolin. Ini agaknya sekaligus menekankan resepsi sebagian penonton yang menganggap Emily Blunt – yang tak lagi ikutan muncul, terlalu mendistraksi kebanyakan plot-nya di film pertama.

Soldado dimulai dari sepenggal introduksi tentang praktik kartel menyelundupkan bukan lagi hanya narkoba tapi teroris ke perbatasan AS. Untuk memerangi ini, Menteri Pertahanan James Riley (Matthew Modine) lewat agen CIA Cynthia Foards (Catherine Keener) membentuk misi rahasia yang dikepalai Matt Graver (Josh Brolin). Dengan satu-satunya pilihan untuk melakukan intrik kotor buat memicu peperangan antar kartel lewat penculikan Isabela Reyes (Isabela Moner), putri gembong kartel Reyes, Graver mengajak kembali Alejandro Gillick (Benicio del Toro), agen undercover yang dijuluki Sicario (sebutan Spanyol untuk pembunuh bayaran) ke dalam timnya. Saat misi itu berantakan akibat campur tangan polisi-polisi kotor Meksiko, Graver diperintahkan untuk menutupi jejak degan melenyapkan Alejandro dan Isabela. Terjebak di antara dilema, Graver terpaksa berseteru dengan Alejandro yang bersikukuh melindungi tawanannya menyeberangi perbatasan. Sekali lagi, intrik dan perang di antara mereka harus kembali berkecamuk.

Menaikkan seluruh taruhan dari plot dan karakter-karakter yang sudah terbentuk dan menempel lewat film pertamanya, Sheridan kini membawa ekspansi kisahnya ke arah intrik perseteruan yang makin kuat antara Graver sebagai agen CIA yang selalu mematuhi perintah atasan, dan Alejandro yang beroperasi bak seorang agen ganda yang menguasai lapangan mainnya. Bagaikan Tom & Jerry dengan code of honor yang jelas sekaligus lagi-lagi memberi penekanan bahwa karakter Emily Blunt di film pertama tak lebih dari sekedar distraksi ke fokus sebenarnya. Namun jelas di sini, juga lewat akting superior Brolin dan Del Toro, Sheridan mengeksplorasi lagi karakter-karakter utama ini dengan heart factor bak father figures yang tetap terasa di tengah tone thriller serba gritty dan penuh kesadisan.

Sekali ini, mereka bahkan dengan intens menambahkan aksi baku tembak seru yang hampir sama sekali tak terbayar di tangan Villeneuve pada film pertama – yang juga sudah terlihat jelas di trailer walaupun Soldado masih berdiri lebih kuat dalam suspense thriller penuh intrik ketimbang slam-bang action. Untungnya pula, Sollima memang merupakan sutradara yang punya kemampuan lebih dalam action staging. Dari adegan pembuka yang sudah menggelar dentuman aksinya, selipan-selipan karakter pendukungnya termasuk dua aktor senior, Modine dan Keener, muncul dengan kuat tanpa harus mendistraksi plot utamanya. Ada juga dua aktor muda Isabela Moner dan Elijah Rodriguez yang dengan rapi disusupkan dengan intensitas terjaga.

Meneruskan tongkat estafet dari Roger Deakins di film pertama, sinematografi Dariusz Wolski, DoP senior award nominee yang sudah punya banyak sekali rekor dalam film-film monumental Jerry Bruckheimer dari Crimson Tide ke franchise Pirates of the Caribbean dan film-film Ridley Scott termasuk Prometheus, juga tampil sangat baik menyambung tone-nya. Sementara scoring dari komposer Islandia kolaborator Jóhann JóhanssonHildur Guðnadóttir –  tetap mengusung komposisi asli Jóhansson, membuat feel creepy-nya persis seperti apa yang dilakukan di Sicario. Soldado tetap terasa seperti monster yang mengintip dari balik semak-semak menyebarkan ancaman kematian di setiap titik adegannya, hanya saja – kali ini jauh lebih intens dengan aksi serta tak kehilangan hati.

Secara keseluruhan, Soldado memang jauh melewati pendahulunya. Ia tetap punya pendalaman luar biasa dari Sheridan, pace dan action staging yang seru dari Sollima dan duet Brolin – Del Toro sebagai sentral paling menarik di tengah-tengahnya. Tapi satu yang paling penting, ia juga membuka kemungkinan ekspansi ke universe Sicario secara solid buat berlanjut di film ketiga nanti. Bagus sekali. (dan)