Home » Dan at The Movies » HEREDITARY (2018)

HEREDITARY (2018)

HEREDITARY: A TERRIFYING, ATMOSPHERIC, TONGUE-CLICKING HORROR

Sutradara: Ari Aster

Produksi: A24, 2018

Image: impawards.com

Peminat tontonan serius jelas sudah mengenal rumah produksi independen A24 yang beberapa tahun belakangan agaknya jadi pengganti Harvey Weinstein dan Miramax/The Weinstein Company dalam mengejar prestasi di Oscars dan awarding lainnya. Datang dari salah satu keluarga produser terkaya lewat dua founder-nya, juga hubungan ‘dekat’ dengan Annapurna Pictures di atas kesamaan konsep, mereka memang membidik film nerds dan penonton-penonton fanatik di balik kepercayan tinggi mendistribusikan sendiri rata-rata film mereka sebagai rumah produksi independen. Berdiri di atas inovasi dan menolak masuk ke film-film mainstream atau yang mudah dipasarkan dengan sejumlah pendekatan baru, hingga kini, A24 sudah meraih 24 nominasi Oscars dengan 6 kemenangan di antaranya.

Hereditary pun bergerak tak jauh dari film-film horor besutan mereka, It Comes at Night dan The Vvitch yang berstatus acclaimed bagi kritikus. Walau tak populer di kalangan penonton awam, paling tidak A24 yang sudah meraih penonton-penonton fanatik tadi menggamit Ari Aster, writer-director yang sudah menghasilkan 6 film pendek sejak 2011, yang rata-rata punya tone disturbing. Seolah sudah mengalir di DNA-nya, Hereditary memang terasa sangat A24 di atas hype di media sosial yang menanjak menjelang perilisannya. Lagi-lagi, ide gila pemasarannya dengan memasang trailer perdana di pemutaran film keluarga Peter Rabbit beberapa bulan lalu di Australia sudah memancing reaksi. Cara tipikal mereka mencari sensasi kadang terasa murahan tapi harus diakui, memang seringnya terbayar dengan kualitas dan pencapaian sangat tak biasa. Paling tidak bagi kalangan yang benar-benar menjadi penikmatnya.

Annie Graham (Toni Collette), seorang artis miniatur yang tinggal bersama suaminya, Steve (Gabriel Byrne; juga bertindak sebagai salah satu executive producer) dan sepasang anak remaja Peter (Alex Wolff) dan Charlie (Milly Shapiro) baru saja kehilangan ibunya, Ellen, sebelum akhirnya menyadari teror demi teror bukan saja mulai menghantui tapi juga mengancam nyawa mereka di balik sebuah riwayat gelap kematian dengan gangguan mental di keluarga Annie.

Walau secara mendasar plot-nya bukan sepenuhnya baru untuk genre horor, Aster yang menulis sendiri skrip berdasarkan idenya memang terlihat sangat leluasa membangun atmosfer Hereditary dengan elemen-elemen tak biasa di rata-rata horor komersil. Tanpa harus mengandalkan jump scare, ia memulai inovasi itu dari bangunan karakter termasuk profesi Annie – yang terasa sangat fresh dalam relevansi penokohan sekaligus setup terhadap eksploitasi kengeriannya, latar medis yang juga tak biasa ketimbang sekedar problem psikologis (menyangkut alergi dan syok anafilaktik) dan satu aspek paling menonjol dalam Hereditary, ketepatan pemilihan cast.

Cara Aster menempatkan aktris belia Milly Shapiro, juga seorang penyanyi drama Broadway yang memang memiliki wajah unik ke tengah-tengah setup horor dan paling menjual di trailer, juga gestur awkward Alex Wolff dan akting Toni Collette yang intens dan meledak-ledak dalam level menakutkan – sementara aktor senior Gabriel Byrne yang tetap seperti Byrne biasanya, menjadi katalis di antara mereka, sudah menjadi kemenangan tersendiri buat fondasi bangunan atmosfernya. Sinematografi Pawel Pogorzelski yang belum punya banyak track record juga bekerja dengan sinergis mengeksplorasi set sempit dalam banyak ketegangan claustrophobic termasuk close up shots untuk menangkap detil-detilnya.

Kepentingan lain dalam bangunan atmosfer itu, scoring horor yang dibesut Colin Stetsonsaxophonist / multireedist kolaborator band indie macam Arcade Fire dan Bon Iver, juga mengiringi creepiness dalam Hereditary secara tak biasa. Ia tak pernah meledak-ledak seperti horor lain sekarang dalam trend film-film Blumhouse yang banyak menjual jump scares, tapi bergerak perlahan sesuai bangunan penghisahannya bagaikan sesosok monster yang mengintai dari balik kegelapan untuk menangkap mangsanya.

Bergerak secara tak biasa dalam pendekatan horor-nya, bagaimanapun, kekuatan terbesar Hereditary memang ada pada kekuatan cast tadi. Sulit rasanya membayangkan bila bukan Collette, Shapiro dan Wolff, terutama, yang masing-masing memerankan pentolan utamanya ke level award-worthy. Selagi trend horor yang ada sekarang jarang memikirkan ini demi kepentingan star factors dengan cukup hanya menjual jump scare dan sinister creatures-nya, Ari Aster sudah mengungguli mereka walau resikonya bisa jadi berbeda untuk ekspektasi penonton. Seperti apa yang dilakukannya dalam sejumlah film-film pendek itu, level disturbing-nya juga digelar Aster dengan tega dan nyaris tanpa kompromi demi persepsi-persepsi shocking tanpa lupa menyemat detil di pengaturan sound termasuk bunyi tongue-clicking yang menjadi salah satu senjata pengenal utamanya.

Semua kekuatan ini agaknya sudah dengan sendirinya berhasil menutupi beberapa faktor-faktor klise atau tipikal tak terhindarkan dalam keseluruhan plot Hereditary yang masih harus bermain-main dengan sejumlah penampakan dan setan-setanan, juga latar cult yang memuat horror-myth ke sebuah nama dari manuskrip kuno plus bagian-bagian finale  dengan konklusi yang mungkin terasa kelewat menjelaskan. Bagaimanapun, ini memang tak seperti horor-horor populer macam Insidious, The Conjuring dan semua spinoff-spinoff-nya yang mengiringi teror dan scare play mereka dengan unsur fun, tapi bergerak perlahan menanamkan ketakutan ke ujung-ujung syaraf pemirsanya. Nerve-shredding dan lebih creepy ketimbang mengejutkan, a terrifying, atmospheric, tongue-clicking horror. (dan)