Home » Dan at The Movies » SANJU (2018)

SANJU (2018)

SANJU: A HEART-RENDING ODE OF A SON TO HIS FATHER, FRIENDS AND FAMILY

Sutradara: Rajkumar Hirani

Produksi: Fox Star Studios, 20th Century Fox, 2018

Image: filmyhut.online

So, why Sanju? Dari sekian banyak aktor legendaris Bollywood, kenapa film yang mengangkat riwayat hidup Sanjay Dutt, referring to that nickname on the title, jadi salah satu yang paling layak ditunggu? Ini mungkin bukan hanya soal sosoknya yang dikenal sebagai Bollywood Bad Boy di balik sebutan-sebutan Baba, Deadly Dutt atau semacamnya. Atau, buat Bollywood enthusiasts yang mengikuti perkembangannya sejak dulu-dulu, isu-isu keterlibatannya dalam sejumlah aksi teroris termasuk Mumbai blasts di tahun 1993.

Here might be the closest answer, bahwa sosok dan eksistensinya memang membawa warisan monumental dari bagian penting dalam sejarah panjang Bollywood. Dari ayah bernama Sunil Dutt, salah satu dari dua aktor terbesar industrinya di era ‘60an (satunya lagi Rajendra Kumar), juga sang ibu – Nargis, yang sama-sama melejit lewat kesuksesan Mother India (1957), drama epik penanda sejarah itu. Dari sini, benang merah itu bergulir ke regenerasi yang diteruskan Sanjay bersama Kumar Gaurav di awal-awal ‘80an. Keduanya sama-sama diorbitkan masing-masing oleh ayah mereka, Sunil dan Rajendra di tahun yang sama, 1981 – Sanjay lewat Rocky dan Kumar lewat Love Story. Ada banyak kisah di balik persahabatan yang akhirnya menjadi keluarga sejak Kumar Gaurav menikahi adik Sanjay, Namrata Dutt. Meski nepotisme sering dipandang menjadi dua sisi koin di Bollywood, selain dinasti Kapoor yang dibawa Raj Kapoor – kakek Ranbir Kapoor yang memerankan Sanjay, masih menjadi yang terbesar, warisan yang dibawa Sanjay adalah bagian penting pembentuk sejarah Bollywood.

Walau begitu, Rajkumar Hirani, salah satu sineas paling diakui lewat sejumlah kolaborasinya dengan Aamir Khan di 3 Idiots dan PK, yang memang punya riwayat kolaborasi panjang bersama Sanjay dari karir awalnya sebagai editor di Mission Kashmir (2000) ke debut penyutradaraanya, Munna Bhai M.B.B.S.– film yang membawa Sanjay kembali ke puncak karir di tahun 2003 berikut sekuelnya, agaknya tak ingin membuat sebuah pure biopic seperti banyak yang kita lihat biasanya. Bersama kolaboratornya sejak Mission Kashmir, produser Vidhu Vinod Chopra dan co-writer Abhijat Joshi, Sanju memang sepenuhnya berdiri di atas signature Hirani.

Ia jauh dari kesan serius – selalu diiringi mocking comedy tanpa harus menghilangkan Bollywood masala termasuk lagu dan tari walaupun ada di batasan jelas dan tak berlebih, berikut juga punya objek sebagai sasaran tembaknya. Seperti sistem pendidikan kedokteran-pelayanan kesehatan dan carut-marut hukum di Munna Bhai dan sekuelnya, konsep dan persepsi pendidikan India di 3 Idiots hingga Ketuhanan dan reliji di PK, ia selalu menempatkan objek protesnya sebagai real villain di atas karakter-karakter komikal namun manusiawi.

Sanju boleh saja datang dari idenya bersama istri ketiga Sanjay hingga sekarang, Manyata Dutt – dengan persetujuan jelas dari Sanjay sendiri, tapi Hirani jelas melihat kesempatan yang masuk ke visi dan gaya tuturnya yang biasa. Kali ini memilih etika media sebagai musuhnya, bahwa pada akhirnya ia terlihat memihak dan bersama Joshi meletakkan titik-titik kausa masalah hidup Sanjay yang penuh carut-marut seiring naik turun karirnya dari puncak sampai benar-benar anjlok hingga ke masalah politis, seorang kreator memang harus punya visi jelas berdiri di mana dalam karya-karya biopic. Sesuatu yang dituangkannya dengan jelas lewat salah satu quote terpenting dalam Sanju, bad choices make good stories.

Hirani pun seolah mereka ulang seluruh timeline penting dalam riwayat hidup Sanjay Dutt/Sanju – panggilan kesayangan dari ibunya (diperankan dengan permainan gestur dan kemiripan luar biasa oleh Ranbir Kapoor) lewat pembuka yang sangat komikal di seputar tuduhan keterlibatan Sanju dengan peristiwa bom Mumbai 1993. Seorang karakter fiktif, Winnie Diaz (Anushka Sharma), penulis biografi yang dibawa oleh istrinya, Manyata (Dia Mirza) masuk untuk membawa alur balik pengisahannya ke masa-masa debut Sanju lewat Rocky (1981) yang diinisiasi ayahnya, aktor legendaris Sunil Dutt (juga diperankan dengan gemilang oleh Paresh Rawal, nyaris menyamai kekuatan akting Ranbir dan kecermatan angle lewat shot-shot Hirani bersama DoP Ravi Varman dari sejumlah film-film Ranbir) untuk mengorbitkan Sanju. Namun di tengah proses itu, ibunya yang juga seorang aktris terkenal, Nargis (Manisha Koirala) didiagnosis dengan kanker pankreas sehingga harus dibawa berobat ke New York.

Sanju yang kehilangan pegangan setelah sebelumnya mulai masuk ke pergaulan salah lewat Zubin ‘God’ Mistry (Jim Sarbh) pun makin terjebak ke lingkaran narkoba hingga merusak hubungannya dengan lawan mainnya, Ruby (Sonam Kapoor). Ketika Nargis jatuh dalam keadaan koma, Sanju yang masih kecanduan dan berangkat menyusul lantas berkenalan dengan penggemar ibunya, Kamlesh (Vicky Kaushal), orang yang menjadi sahabat dekat dan memberinya motivasi untuk keluar dari masalah ini bersama sang ayah, apalagi setelah semua memuncak ketika Nargis meninggal tiga hari sebelum premiere Rocky dihelat. Masuk ke rehabilitasi di AS dan sempat melarikan diri, Sanju akhirnya bisa sembuh berkat motivasi dari Sunil dan dorongan Kamlesh.

Namun kisah Sanju jelas belum berakhir di sini. Hubungan anak-ayah, karir dan persahabatannya dengan Kamlesh masih terus mengalami naik-turun ketika sejumlah media memelintir headline menjadikan Sanju seorang tersangka dalam peledakan bom dan kepemilikan senjata yang diakuinya untuk melindungi Sunil yang beralih dari aktor ke anggota parlemen. Divonis selama 5 tahun sebelum akhirnya keluar dengan jaminan yang diperjuangkan Sunil, karirnya anjlok sebelum bangkit kembali lewat film karya Hirani yang diperankannya bersama Sunil, Munna Bhai M.B.B.S., namun sepeninggal Sunil di tahun 2006, ia kembali harus menjalani hukuman selama 3 tahun di tahun 2013. Di sinilah akhirnya Winnie – lewat investigasi dua arahnya ke Kamlesh dan Sanju menemukan akhir kisahnya dari pengakuan yang mungkin selama ini belum pernah kita dengar terkait kasus dan tuduhan banyak orang terhadap Sanju.

Sungguh bukan sesuatu yang mudah memang mengangkat biopic seorang Sanjay Dutt di balik riwayat panjang penuh lika-liku permasalahan hidupnya. Sosok yang tiap kali menghibur kita lewat film-filmnya, ternyata punya kehidupan jauh lebih kompleks dari apa yang selama ini didengar lewat media. Terlebih dengan visi Hirani – Joshi yang bisa jadi terdengar saling bertentangan di antara menyuguhkan signature-nya yang ringan namun mendalam dengan resiko glorifikasi subjek atau keberpihakan, juga hilangnya sejumlah karakter penting seperti istri pertama Sanju, aktris Richa Sharma yang meninggal karena tumor otak di tahun 1996 serta istri keduanya Rhea Pillai, untungnya mereka memang punya konsep yang sangat cermat sekaligus tepat.

Apa yang mereka lakukan selain merombak timeline-nya di sana-sini dalam penceritaan, adalah juga dengan memadatkan rentang panjang dan banyak karakter yang hadir dalam kehidupan Sanju secara taktis lewat kehadiran composite characters. Like defeating the impossibles, karakter-karakter amalgam/komposit itu mereka semat ke karakter fiktif yang dibentuk di atas kisah-kisah aslinya. For those who knew, Ruby yang diperankan Sonam Kapoor dibangun di atas karakter-karakter asli Tina Munim (kini Ambani) lawan main Sanju dalam Rocky dan Madhuri Dixit – dua aktris terkenal yang punya hubungan asmara panjang dengannya, selain mungkin sebagian dari 308 wanita – tak termasuk PSK yang katanya pernah ditiduri Sanju, sementara Vicky Kaushal yang jadi salah satu MVP-nya, di atas karakter-karakter asli sahabat-sahabat Sanju. Memerankan Kamlesh dengan sensitivitas serta ketepatan timing luar biasa setelah tampil bagus berturut-turut di Raazi dan Lust Stories, yang paling jelas adalah Kumar Gaurav serta Paresh Ghelani, CEO BPG Motors, serta ada pula yang menyebutkan aktor spesialis antagonis Gulshan Grover secara bergantian. Ini mereka semat dengan kecermatan tinggi bukan saja dari elemen plot tapi hingga ke perubahan tampilan karakter Kamlesh yang memang punya porsi terbesar mengiringi seluruh penceritaannya, sambil memasukkan banyak sekali aspek-aspek lain dengan cerdas di luar sindiran keras terhadap media, politik pemerintahan, pertentangan ras hingga keterlibatan mafia dalam industrinya.

Begitu pula bagi karakter Zubin yang diperankan Jim Sarbh, dan yang bahkan lebih menarik lagi, Winnie yang diperankan dengan baik sekali oleh Anushka Sharma – seolah membawa karakter komposit yang dibangun di atas karakter Hirani dan Joshi sendiri. Seakan menjadi seorang biographer yang nyaris bagai ghost writer di chapter-chapter akhir sebagai saksi mata kisah hidup Sanju, ini jelas bukan 1 atau 2 composite characters yang biasa kita saksikan di film-film biopic. Lagi-lagi, ini memang punya resiko karena hanya fans, Bollywood enthusiasts atau pemirsa lokalnya yang bisa benar-benar menebak-nebak serta mengenali mereka tengah menokohkan siapa. Di sela-selanya, mereka-mereka ini juga dengan mudah bisa mengenali sejumlah nama, lagu dan hints sampai cameo selebriti lainnya yang berseliweran di sepanjang durasi terhadap sejarah Bollywood ; Rakesh Roshan, Feroz Khan, Mumtaz, Amjad Khan, Tabu hingga lyricist Anand Bakshi bak sebuah history lessons ataupun kilas balik yang nostalgis.

Namun hal terbaik dalam keseluruhan kemasannya, tentu selain performa luar biasa seluruh cast-nya – selain Ranbir yang benar-benar membuat kita melihat evolusi Sanju dalam rentang panjang karirnya lewat rekonstruksi-rekonstruksi detil hingga ke kostum dan makeup, Paresh sebagai Sunil atau tampilan singkat Manisha Koirala sebagai Nargis yang juga tak pernah tertinggal dalam bentukan motivasinya, bahkan Boman Irani yang jadi langganan Hirani, adalah bahwa ia dan Joshi membidik titik terujung emosinya dengan tepat. Tak masalah bahwa mereka seolah membenarkan seluruh kesalahan dan kenakalan Sanju – kalau tak mau disebut kejahatan termasuk dalam hal seksis atau apapun demi tujuan komedik, membuat semua perilaku negatif Sanju seakan punya alasan pembelaan yang cenderung mengarah ke pembenaran, namun titik akhirnya bergulir begitu universal sebagai penghargaan seorang anak terhadap ayah, sahabat dan juga keluarganya. Lihat bagaimana Sanju, Hirani dan seluruh pembesutnya lantas tak melupakan sosok Manyata di sejumlah turnover penting dalam plot-nya. Orang-orang ini boleh jadi hadir di dunia bak malaikat bagi seorang Sanju yang kerap terjebak dalam kesalahan, tapi dengar penggalan pidato yang disiapkan Sanju tanpa sempat didengar Sunil di salah satu amunisi terbaik pengadeganannya. Semua anak yang hidup di bawah bayang-bayang harapan dan kesuksesan orangtua sebagai pahlawan mereka, begitu pula orangtua yang siap menempuh apapun demi kebahagiaan anaknya, akan sangat terhubung dengan penggambaran yang hadir terjaga secara sangat manusiawi.

Seakan menjadi curhatan panjang, permohonan maaf sekaligus pernyataan terimakasih Sanju lewat Hirani dan rekan-rekannya buat mereka, termasuk sepenggal untold story yang diletakkan bak sebuah ending twist untuk membuat kita melihat kembali persepsi-persepsi integritas yang ada selama ini di balik hukum, politik dan manipulasi media, sisi emosi yang juga didukung scoring harmonika bagus besutan Sanjay Wandrekar & Atul Raninga  berkali-kali menyayat dan menggedor hati hingga sulit rasanya tak meneteskan air mata, dan ini terjadi tak hanya di bagian-bagian akhir. Titik-titik rasa dan emosi itu diletakkan oleh Hirani – Joshi dengan cermat di sepanjang durasi Sanju bagai ranjau yang siap buat meledak tepat pada waktunya. Like a convicted man on his verge of breaking down begging us to listen to his final confession, why shouldn’t we?

So, why Sanju? Go see it and you’ll know why. (dan)