Home » Dan at The Movies » KOKI-KOKI CILIK (2018)

KOKI-KOKI CILIK (2018)

KOKI-KOKI CILIK: A DELICIOUS AND DELIGHTFUL BOWL OF FAMILY FUN

Sutradara: Ifa Isfansyah

Produksi: MNC Pictures, 2018

Seperti apa konsep film anak yang baik? Jawabannya bisa sangat beragam, namun dalam konteks penyebutan ‘anak’ yang mengacu ke anak-anak, sebuah film anak, cerita anak, dengan konflik apapun, haruslah dituturkan dengan denyutnya sendiri dengan tujuan menghibur tanpa pretensi, juga – ini salah satu yang terpenting, bisa nyaman disaksikan bersama dengan orangtua mereka sebagai sebuah kesatuan keluarga. Di situ, selipan pesan-pesan baik yang meski tak harus melimpah-ruah namun diperlukan, pasti akan bisa bergulir dengan sendirinya tanpa menggurui, karena memang disampaikan dari sudut pandang anak.

Then, seperti apa sebenarnya makanan yang enak? Sama juga, selagi bisa sangat banyak jawaban beragam, rasa adalah selalu jadi yang terutama. Selain lezat di mulut, ia juga harus bisa menyenangkan. Giving a very pleasant taste, untuk membuat kita ingin merasakannya lagi dan lagi. Good food should be able to create good mood.

Sekarang, dari sekian banyak film anak, meski mungkin tergolong jarang dibanding jumlah film Indonesia yang dirilis setiap tahunnya, tema-tema tentang masak-memasak, sebuah genre yang sering disebut food porn – lebih jarang lagi buat subgenre film kita, dibawa oleh film produksi MNC Pictures yang disutradarai Ifa Isfansyah berdasar skrip Vera Varidia (Me vs. Mami, Surat Cinta Untuk Kartini) ini. Terinsiprasi dari slot acara Junior Masterchef dan sejenisnya, juga aktivitas-aktivitas cooking camp di baliknya, ini pun bukan sesuatu yang sering sekali diangkat ke film-film di luar sana.

Thus, Koki-Koki Cilik yang awalnya berjudul Cooking Camp ini tentu sudah punya pitch yang menarik dari keseluruhan premisnya. Tentu dalam konteks kompetisi dan interaksi anak-anak sebagai subjeknya, ia akan kembali ke pakem atau formula yang ada. Aspek penting selebihnya adalah seperti apa formula itu diracik untuk kemudian dihidangkan, dan di sini, para pembuatnya cukup cermat menambahkan bahan-bahan resepnya lewat jualan popularitas para karakternya. Apalagi, Ifa Isfansyah di sisi lain juga menjadi jaminan untuk film anak yang baik dari kiprahnya lewat Garuda di Dadaku dan Ambilkan Bulan.

Punya hobi memasak yang datang dari latar serta cita-cita membangun sebuah restoran yang besar untuk meneruskan usaha almarhum ayahnya, Bima (Farras Fatik) berhasil ikut dalam acara Cooking Camp milik Pak Malik (Adi Kurdi) yang sangat bergengsi dengan dukungan orang-orang sekampung berikut ibunya, Ami (Fanny Fabriana). Tentu ini bukan sesuatu yang mudah karena seluruh peserta di bawah bimbingan Chef Grant (Ringgo Agus Rahman) juga bukan anak sembarangan. Ada Oliver (Patrick Milligan), anak pemilik restoran ternama yang sudah berulang kali kursus di luar negeri bersama dua sahabatnya, Ben & Jodi (Cole & Clay Gribble) – yang bertabiat jahat dan menjadikan Bima sasaran bully, Melly (Alifa Lubis) yang cerewet, Niki (Clarice Cutie) yang diam-diam menyukai Bima, Key (Romaria Simbolon) yang gemar memotret, Alva (Ali Fikry) hingga Kevin (Marcello) yang lebih suka makan ketimbang masak. Namun tantangan terbesarnya datang dari Audrey (Chloe X/Chloe Xaviera), gadis cilik introvert yang menjadi juara bertahan tiga kali berturut-turut namun sebenarnya berada di bawah tekanan ambisi ibunya (Aura Kasih). Mencoba bertahan dalam kompetisi ini, Bima yang hanya bermodalkan sebuah buku resep peninggalan sang ayah akhirnya bertemu dengan Chef Rama (Morgan Oey), juru masak yang selama ini mengasingkan diri dan sering bersikap tak bersahabat, namun melihat sesuatu dalam diri Bima yang kemudian menjadi muridnya.

Mungkin sama takjubnya seperti kala kita menonton acara Junior Masterchef di mana bocah-bocah berumur 8 – 15 tahun ini bisa memasak dan menghidangkan makanan selayaknya orang dewasa, Koki-Koki Cilik juga membawa penontonnnya menyaksikan talenta karakter-karakter kecilnya dengan detil lewat tahap demi tahap perlombaannya. Walau bukan liputan di balik layar kompetisi yang biasanya membidik tekanan dan tantangan satu-persatu pesertanya, sebagai film, skrip Vera Varidia mampu mengemas konflik-konflik sejenis dan mengalihkannya ke penceritaan yang tak lantas dipenuhi drama-drama ala reality show, ataupun membangun motif-motif yang terasa kelewat inspiratif bak sorotan media. Sesekali, ia juga menyelipkan referensi dari nama karakter ke celotehan-celotehan karakter yang bisa mengundang tawa.

Memang, skrip itu bukan sama sekali tak punya kekurangan. Selain memang berdiri di atas formula klise zero to hero beserta unlikely lead yang harus mengalahkan saingan-saingannya dengan keteguhan niat dan ketulusan hati, beberapa kali subplot protege-mentor antara Bima dan Chef Rama juga kerap terasa bolak-balik. Selagi sebagian emosinya bekerja dengan baik di atas chemistry kuat dari Farras dan Morgan Oey dalam salah satu penampilan terbaiknya, eskalasi konflik itu seringkali tak benar-benar rapi, kadang meledak tak tepat waktu dan menyisakan satu celah terhadap karakter Rama yang selain bisa terkadang terlihat manipulatif di balik motifnya, juga tak memberi justifikasi yang tepat dalam bangunan emosi walau pesan akhirnya memang baik dan sangat diperlukan untuk edukasi kepercayaan diri seorang anak, juga punya relevansi terhadap rasa dalam konteks food porn-nya.

Namun kembali ke eksistensinya sebagai film anak, Ifa untungnya mengarahkan seluruh cast dan talenta-talenta cilik itu untuk bergantian menampilkan kepolosan mereka dalam bangunan karakternya, sambil memanfaatkan popularitas cast di medsos sebagai kunci yang membuat mereka digemari banyak kalangan dari anak-anak hingga dewasa. Semua digagas dengan fun dan full of spirit, juga playful, di atas POV anak-anak, sambil menyelipkan sejumlah konflik persahabatan dan perseteruan yang juga tak lantas membuat karakter-karakter ini mesti terpeleset bertingkah serba sok dewasa. Lihat bagian Kevin dan kawan-kawannya menyelamatkan kambing yang terasa begitu polos serta jenaka sebagai salah satu lonjakan komikal paling pecah dalam keseluruhan durasinya.

Di samping Farras, bintang iklan dan aktor cilik yang sudah pernah bermain dalam Get Married 5 (2015) dan Jagoan Instan (2016), yang memegang porsi lead dengan kuat sebagai Bima, ada Chloe X, penyanyi cilik penuh talenta yang juga dikenal sebagai keponakan Agnez Mo/Agnes Monica dan ikut mengisi tiga soundtrack-nya; satu bersama-sama dengan cast lain dalam lagu Oh Senangnya dan dua lagu solo-nya.

Selain itu juga ada Alifa Lubis, presenter cilik pememang Little Miss Indonesia 2013 yang dikenal luas dengan gaya ceriwis jenakanya sebagai comic relief yang dimanfaatkan sangat tepat dalam bangunan pace dan comedy timing-nya, dua penyanyi cilik Romaria Simbolon – adik Bastian Steel yang juga finalis Little Miss IndonesiaClarice Cutie dan sejumlah aktor cilik lain termasuk dua bersaudara Clay dan Cole Gribble yang cukup dikenal lewat sinetron-sinetron TV dan talenta menyanyi mereka.

Sementara, bersama Morgan dan Aura Kasih dalam reuni akting keduanya setelah Arini buat menempati porsi konflik lebih serius, cast dewasanya pun bermain dengan baik mengisi titik-titik komikalnya, tetap dalam konteks dan nuansa yang sangat anak-anak. Ringgo Agus Rahman bermain paling menarik sebagi Chef Grant bersama Adi Kurdi sebagai Pak Malik terutama dalam chemistry keduanya saat mencoba rasa masakan, lantas Fanny Fabriana juga bermain proporsional sebagai ibu Bima. Sayang pemilihan pemeran ayah Bima dalam dua adegan flashback-nya terasa digampangkan begitu saja padahal sebenarnya sangat penting dalam akumulasi rasa yang harusnya bisa jauh lebih kuat lagi. Begitupun, secara keseluruhan, ini mungkin merupakan hasil produksi MNC Pictures yang paling rapi di antara yang lainnya.

Terakhir, dalam konteks setengah bagiannya sebagai sebuah food porn, yang jelas menjadi juara dalam Koki-Koki Cilik jelas adalah kru dalam penggarapan teknisnya. Bersama pengarahan Ifa, juga tata artistik Vida Sylvia Pasaribu yang tak boleh dilupakan sebagai pembangun aspeknya, tata kamera Yadi Sugandi begitu berhasil menyuguhkan detil dan dinamika shots yang membuat kita sebagai penontonnya begitu berselera, merasa lapar melihat semua tampilan beragam masakannya, membuat Koki-Koki Cilik menjadi food porn Indonesia terbaik dari hanya segelintir yang pernah ada. Penyuntingan Cesa David Luckmansyah pun, selain bekerja dengan baik dalam comedy timing-nya, berkali-kali meledakkan tawa melihat tingkah-polah karakter-karakter anak itu, membuat orangtua begitu bahagia menyaksikan tawa lepas anak-anak mereka sambil bersama-sama menyaksikan gelaran kuliner yang terasa begitu mengundang rasa. Masih ada pula scoring yang cukup bagus dari Donny Akson.

Namun tetap, walau di tengah sedikit kekurangan, hal terbaik dalam Koki-Koki Cilik adalah bahwa dalam semua pengejawantahannya, ia tampil luar biasa polos membawa kita memahami bukan hanya talenta tapi juga pemikiran-pemikiran seorang anak di sepanjang denyutnya, sambil tak lupa memberi edukasi dan motivasi sekaligus buat anak dan orangtua sebagai pendamping mereka ketika menyaksikannya tanpa harus bernada menggurui. Bergulir tanpa pretensi, menyuguhkan tawa, mengundang selera dan tak lupa memancing air mata dari menit pembuka hingga ke scene penutup yang mengakhirinya dengan luar biasa meriah, Koki-Koki Cilik terasa sekali dimasak dengan hati hingga juga terasa sampai ke hati.  And that, my friends, might be the most delicious food of all. (dan)

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter