Home » Dan at The Movies » SKYSCRAPER (2018)

SKYSCRAPER (2018)

SKYSCRAPER: A GRAVITY DEFYING ACTION EXCITEMENT WITH A SOLID ‘80S-‘90S VIBE

Sutradara: Rawson Marshall Thurber

Produksi: Legendary Pictures, Perfect World Pictures, Flynn Picture Company, Seven Bucks Productions, Universal Pictures, 2018

Image: impawards.com

Genre disaster dan action memang jadi sudah jadi racikan yang lazim dalam blockbuster-blockbuster Hollywood, satu. Joint production Hollywood/US dengan China-based company yang sekarang semakin marak dengan kuatnya pasar China untuk blockbuster Hollywood, dua. Kelanjutan kolaborasi Dwayne Johnson dengan sutradara Rawson Marshall Thurber setelah Central Intelligence, tiga. Berturut-turut melawan kiamat, jago-jago dunia di tengah runtuhan es antartika hingga monster-monster raksasa yang tak kalah dari Godzilla, Skyscraper yang tentu tak bisa kurang dari itu kini membawanya ke tengah gedung pencakar langit di tengah api dan serbuan teroris, empat. Keempat elemen itu kini mendasari Skyscraper sebagai salah satu unggulan summer blockbuster tahun ini.

Menggabungkan The Towering Inferno (produksi Irwin Allen, sutradara John Guillermin, 1974 dengan all star ensemble dan Paul NewmanSteve McQueen di deretan terdepannya) dan Die Hard (John McTiernan, 1988, yang mengorbitkan Bruce Willis sebagai Hollywood action hero), skrip yang ditulis sendiri oleh Thurber ini agaknya memang sama sekali tak berniat menyaingi dua inspirasinya selain hanyalah sebuah tontonan pure popcorn Hollywood yang renyah dan semata hanya menjual excitements. Sebagaimana banyak produksi joint venture US-China lainnya, Skyscraper juga didukung oleh aktor-aktor lintas etnis termasuk yang berdarah China walaupun tak semua merupakan aktor impor bagi Hollywood.

Kehilangan sebelah tungkai bawahnya dalam sebuah kasus bom berlatar kekerasan domestik, mantan agen FBI Will Sawyer (Dwayne Johnson) kini menetap di Hong Kong sebagai konsultan sekuriti bersama dokter bedah yang dulu menanganinya, Sarah (Neve Campbell) dan sepasang putra-putri kecil mereka. Menempati sebuah gedung apartemen pencakar langit berteknologi super hi-tech, The Pearl, milik multimilyuner Zhao Min Zhi (Chin Han) di mana Sawyer dipromosikan mantan koleganya menjadi kepala sekuriti buat The Pearl, Sawyer tak menyadari bahwa dirinya dibawa masuk ke dalam sebuah konspirasi yang melibatkan teroris pimpinan Kores Botha (Roland Møller). Bukan hanya menempatkan dirinya menjadi tersangka dalam buruan Inspektur Wu (Byron Mann), The Pearl yang terbakar hebat siap untuk runtuh sewaktu-waktu juga memerangkap Sarah dan kedua anaknya. Menggunakan seluruh instingnya, Sawyer pun, sebut semua seperti yang sudah kita saksikan dalam promonya, harus menaklukkan gravitasi; memanjat, bergelantungan dan melompati pencakar langit demi menyelamatkan keluarganya sambil memecundangi satu-persatu teroris dengan kemampuan dan stamina melebihi superhero sekalipun.

Seperti yang terbaca di premis itu, Skyscraper punya semua syarat sebagai sebuah tontonan popcorn tanpa logika bak film-film aksi di era ’80-‘90an, namun tentu dipoles jauh lebih mutakhir degan teknologi sinema masa kini. Big, loud, dumb, indeed, tapi satu yang juga tak bisa dipungkiri, luar biasa fun. Menjual semua itu hingga ke batas kegilaan tak terbayangkan, dari bentukan karakter utama dengan disabilitas ke gravity defying action yang sebagiannya belum pernah kita saksikan di film lain, tanpa peralatan lengkap bak agen rahasia tapi malah benda-benda konvensional termasuk lakban, satu faktor yang jelas mendasari keseluruhannya adalah sebuah pengalaman sinematis yang juga dipenuhi kesenangan dan hiburan murni.

Begitupun, inilah memang digdaya Hollywood menjembatani jualan dan semua sisi logika internalnya. Sebagaimana yang sudah kita lihat baik dalam San Andreas, franchise Fast and Furious ke Rampage yang makin menggila, bagi mereka, popcorn harus tampak believable dalam jualan excitement tadi. Di sinilah skrip Thurber menciptakan sedikit elemen sci-fi dalam latar informasi soal The Pearl yang kira-kira sama padanannya seperti penjara hi-tech yang ada dalam Fortress atau Escape Plan. Playground-nya kini bukan lagi Nakatomi Plaza yang serba realis dalam Die Hard, apalagi bangunan gedung pencakar langit dalam The Towering Inferno, tapi sudah jauh melebihi itu dengan selipan-selipan sci-fi ke tengah-tengahnya.

Kian mematok signature-nya sebagai salah satu bintang aksi Hollywood terbesar, harus diakui bahwa Johnson tetap menghadirkan kharisma yang tepat sebagai Will Sawyer, bukan saja hanya dalam adegan-adegan aksi tapi juga suntikan dramatisasi dari latar motivasi keluarganya. Selagi secara tampilan fisik Roland Møller memang tak pernah menyamai Alan Rickman di Die Hard, yang jauh lebih menarik adalah Neve Campbell dan sejumlah aktor-aktor berdarah Asia-nya. Cukup lama tak muncul di layar lebar, sebagai Sarah, Campbell mendapat justifikasi karakter bagus dalam skrip Thurber untuk tak terjebak sebagai damsel in distress, tapi juga female character tangguh yang menjadi sidekick layak bagi Johnson.

Begitu pula Chin Han, Byron Mann dan Hannah Quinlivan di deretan aktor-aktor berdarah Asia-nya, juga Hong Kong sebagai latar. Menjadi salah satu treatment terbaik dalam produksi-produksi joint venture US-China, semua itu tak lantas dimunculkan sekelebat hanya untuk jualan di pasar Asia dan domestik China, tapi masing-masing punya bangunan karakter yang meski tak pernah kuat – tapi punya potensi dayatarik sebagai scene stealers, bahkan dibanding filmografi mereka sebelumnya. Chin Han, aktor asal Singapura yang sudah banyak bermain di blockbuster Hollywood macam The Dark Knight, mendapat porsi cukup besar sebagai Min Zhi yang juga bersanding dengan Johnson di adegan-adegan klimaks. Byron Mann yang lebih sering diserahi peran antagonis, sebagai Inspektur Wu yang terlihat sekali terinspirasi karakter polisi yang diperankan Reginald Veljohnson di Die Hard, juga tampil dengan kharisma cukup jauh dibanding film-film sebelumnya.

Sementara masih ada Hannah Quinlivan yang mungkin buat sebagian orang lebih dikenal sebagai Mrs. Jay Chou. Muncul sebagai algojo tangguh seperti Hannah John-Kamen di Ready Player One, penampilannya meng-handle koreografi aksi sangat mencuri perhatian. Sebelumnya Quinlivan sudah muncul di produksi joint venture US-China bersama Orlando Bloom dan Simon Yam, S.M.A.R.T Chase, namun penampilannya lewat begitu saja tanpa meninggalkan kesan apapun.

Di luar itu, Skyscraper masih punya tampilan teknis yang baik, yang memang cukup sepadan dengan bujetnya. Ada sinematografi dari DoP veteran Robert Elswit yang biasa berkolaborasi di film-film serius macam Paul Thomas Anderson, George Clooney ke blockbusters seperti dua instalmen terakhir Mission: Impossible, juga tight editing dari Michael Sale dan Julian Clarke (yang terakhir ini merupakan editor di film-film Neill Blomkamp sejak District 9. Scoring bagus dari Steve Jablonsky juga memasukkan dua end credits song dalam nafasnya ke film aksi era ‘90an, Walls dari Jamie N Commons – yang terdengar punya tone mirip ke Gregg Alman, dan Break In the Clouds dari Frightened Rabbit, band indie rock yang baru saja kehilangan vokalisnya beberapa bulan lalu.

Ini, paling tidak menunjukkan bahwa walau bermain di ranah pure popcorn blockbusters, penggarapan Skyscraper bukanlah dikerjakan dengan sembarangan. Ia boleh jadi terlihat serba gampang; big, loud and no brainer – meracik dua film inspirasi terbesarnya tadi hanya untuk mempertebal aspek fun, tapi ini merupakan eskalasi bagus dari karir Thurber yang sebelumnya lebih sering bermain di genre komedi dari Dodgeball, We’re the Millers dan Central Intelligence. Bahwa sebuah film aksi beroktan tinggi macam Skyscraper ini tak akan bisa maksimal tanpa sutradara di luar kapabilitasnya, dengan kolaborasi nama-nama tadi, Thurber jelas sangat patut diperhitungkan. Lagi-lagi pada akhirnya kita kembali ke soal-soal terkait ekspektasi terhadap sebuah kemasan jualan. Apa sih yang kita cari dari film-film seperti ini, yang jelas-jelas menjual Dwayne Johnson di peran-peran dengan kekuatan demi-gods – semi-superheroes? Silahkan dijawab sendiri. (dan)